Persoalan Tujuan Pendidikan Persoalan Filosofis - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Senin, 25 Maret 2013

Persoalan Tujuan Pendidikan Persoalan Filosofis

Oleh Alizar Tanjung

Tepat di tahun 2013, tidak mengurangi, tidak menambah, telah lahir kirikulum yang bernama "Kurikulum 2013". Namanya sangat menarik, "Kurikulum 2013", mungkin nanti akan bersambut gayung pula dengan "Kurikulum 2016", "Kurikulum 2019", "Kurikulum 2021", kalau berganti kembali menterinya. Kenapa "M. Nuh", Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan kurikulum ini dengan nama "Kurikulum 2013", jawabannya ada dalam kepala M. Nuh, barangkali dalam analisa M. Nuh dan orang-orang yang ikut merampungkannya, kurikulum ini harus mengambil nama "2013".


Nama ini sungguh menggelitik bagi saya sebagai alumni dari perguruan tinggi yang menamatkan A 1, calon guru, saya alumni dari Jurusan Pendidikan Agama Islam, jurusan yang bertujuan melahirkan para pendidik, maka diajarkanlah para calon guru bahwa tujuan pendidikan adalah "titik titik titik". Bahwa kurikulum harus mempunyai tujuan yang jelas, sebab dia akan dipakai secara berkala, bahwa kurikulum harus mampu mengolah mata pelajaran menjadi padu dan siap dikonsumsi.

Persoalan tujuan yang jelas harus berangkat dari nama yang jelas, nama mempengaruhi pemegangnya, kalau namanya tidak jelas, sudah pasti orang yang memegang nama itu rada-rada tidak jelas. "Kurikulum 2013" apakah memang tidak memiliki nama, atau memang itu namanya, kalau begitu saya ingin mengajukan pertanyaan, apa makna yang dikandung oleh nama "Kurikulum 2013".

Pendidikan Islam mengajarkan kepada orang tua agar memberi anak dengan nama yang baik, jangan memberi anak dengan nama yang buruk, seperti "Kafir", "Munafik", "Syirik". Kalau anak dipanggil nama dengan Kafir, dari segi panggilan, image, dia sudah dipandang sebagai pemegang nama buruk, tentu dalam pergaulan akan lebih parah lagi. Nama adalah doa, kalau nama adalah doa, doa sifatnya makbul, maka kalau penghalang doa tidak ada, maka doa itu akan dikabulkan.

Bagaimana dengan "Kurikulum 2013", apakah dia memiliki nama yang baik, nama yang manis, nama yang tidak jelas jantan dan betinanya, nama yang tidak memiliki tujuan. Selama reformasi Indonesia telah berganti tiga kali kurikulum, "KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi" yang dilahirkan pada tahun 2004 dengan andalan, sasarannya peningkatan afektif, koknitif, psikomotorik. Pada tahun 2006 berganti pula KTSP,  M. Nuh mengatakan bahwa ini adalah perbaikan dari kurikulum sebelumnya, kalau sifatnya perbaikan haruskah diganti namanya, kalau namanya harus diganti adakah nama yang lebih manis dari "Kurikulum 2013".

Persoalan pendidikan adalah persoalan filosofis, tentang apa tujuan dari negara ini, tentang apa sasaran yang ditawarkan kepada rakyat Indonesia yang majemuk. Bahkan M. Nuh sendiri menyatakan, Saya berkesimpulan, mereka yang mempertanyakan Kurikulum 2013 adalah karena ada perbedaan cara pandang atau belum memahami secara utuh konsep kurikulum berbasis kompetensi yang menjadi dasar Kurikulum 2013. Secara falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.(Kompas, 8/13)Perkataan M. Nuh yang menyatakan bahwa KBK yang menjadi dasar kurikulum ini, kemudian menyatakan bahwa kurikulum secara filosofisnya adalah proses yang amat panjang. Keambigiuan realitas dengan ideanya merupakan sebuah pertanyaan besar bagi "Kurikulum 2013", secara nama sudahkang membawa filosofis dasar dari pendidikan itu sendiri.

Kalau membangun sebuah rumah sudah tentu harus dibangun dari pondasinya, saya menyadari hal itu, tidak mungkin kita pasang dulu atap kalau tiang tidak ada, apalagi tujuang pemasangan atap tidak ada. Membangun rumah membutuhkan perencanaan lokasi, model rumah, rincian biaya, maka mulai dibangun sedikit demi sedikit, tanpa harus merubah menjadi dapur, atau rumah menjadi gudang, rumah ya tetap rumah, maka persoalan KBK menjadi dasar dari "Kurikulum 2013", kenapa tidak isinya itu sendiri yang diperbaiki perlahan-lahan.

Seperti yang dikatakan oleh Crow and Crow, Kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah. Pernyataan bahwa kurikulum rancangan terprogram, bearti kurikulum membutuhkan planing, planing berangkat dari filosofis. Kalau pendidikannya di Indonesia, filosofis dasarnya adalah tujuan bangsa Indonesia. Sudah seharusnya kurikulum mesti dibungkur dengan planing yang matang, terprogram, terorganisir, sehingga tidak menjadi kurikulum yang melek.{}



Persoalan Tujuan Pendidikan Persoalan Filosofis Reviewed by Alizar Tanjung on 07.35.00 Rating: 5 Oleh Alizar Tanjung Tepat di tahun 2013, tidak mengurangi, tidak menambah, telah lahir kirikulum yang bernama "Kurikulum 2013&qu...

Tidak ada komentar: