DESKI RAMANDA: BELIEFE DAN IMAJINASI KANAK-KANAK - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 04 Februari 2015

DESKI RAMANDA: BELIEFE DAN IMAJINASI KANAK-KANAK

SEMANGAT MENJEMPUT KEINGINAN


Selasa, 6 Januari 2014, hari yang baik untuk memutuskan ke Gramedia. Mencicipi buku dengan kata-kata yang berseleweran. Belakangan rutinitas memang menjadi berganti dengan pustaka, toko buku, komputer semenjak memutuskan fokus di kepenulisan. Dan ditambah lagi dengan satu kesibukan yang membahagiakan mengelola kelas.

Gramedia menjadi langganan sembari menikmati buku-buku yang sudah dibuka sampulnya oleh para pengunjung terdahulu. Ini memang salah satu dosa pembaca yang bermanfaat, sudah tidak membeli buku, bermenungnya lama pula. Sampai menyelesaikan baca dua buku baru pulang.

Datang ke Pustaka sehabis Zuhur. Sehabis Asar telpon genggam berdering dari nomor seorang rekanan yang dikenal. Deski Ramanda, makhluk si penggemar cerita anak. Beberapa naskahnya sudah dipublikasikan di koran Singgalang.

"Abang posisi di mana?" Saya celingak-celinguk mencari posisi aman untuk menelpon dari lantai tiga Gramedia Padang. Antara deretan novel, saya mengambil posisi wuenak.

"Gramedia. Senang ditelpon dirimu. Lagi di Gramedia menikmati novel?" Di tanganku novel teenlete dengan tokoh seorang anak tunarungu yang berjuang di sekolah normal baru selesai setengah di baca. Novel ini cukup menginspirasi sampai difilmkan.

"Bagaimana kabarmu, apa yang dapat saya bantu Deski?" Sedikit basa-basi perlu dalam berkomunikasi biar komunikasinya lancar, sekaligus menyenangkan. Tips komunikasi ini juga yang kemudian akan memberikan ruang untuk menjalin jaringan lebih jauh dan mendalam.

"Mau bertemu Abang?"

"Okey. Siap. Langsung saja ke Gramedia." Bukan maksud untuk memerintah, tetapi karena memang sedang dalam keadaan santai-santainya, Gramedia tempat yang cocok untuk bertemu. Lantunan arrangsement cukup mendukung untuk memunculkan kesan nyaman dan damai.

"Okey. Cukup dekat kok."

"Sips."

Dan telpon itu mati dengan begitu cepatnya. Terdengar semangat membara dari Deski Ramanda dari seberang. Dan tak sampai dua puluh menit, ketika saya sudah menyelesaikan tiga puluh halaman novel, Deski datang.

"Saya ingin bergabung, Bang?"

"Okey. Keren Bro."

"Bagaimana dengan persoalan anggaran?"

"Kalau memang dirimu serius saya berikan keringanan. Hal terpenting dirimu serius untuk mendali ilmu kepenulisan dan mempraktekkannya."

Persoalan anggaran selalu menjadi masalah bagi sebahagian orang. Sebenarnya anggaran itu bukanlah sebuah masalah besar, kalau kita mengerti dengan apa yang kita dapatkan dalam kelas. Kelas-kelas NLP, Training, bahkan jauh lebih besar beli tiketnya.

Kelas Tung Desem Waringin pakar NLP dan training untuk mengikuti kelasnya sampai mengeluarkan 50 juta untuk satu tiket untuk satu kali pelatihan. Kenapa sampai demikian tinggi harganya. Ini bukan hanya persoalan uang, ini persoalan nyali, persoalan keseriusan, persoalan mental, dan persoalan keyakinan. Sejauh mana penghargaan kita terhadap ilmu yang akan kita pelajari dan terapkan.

Kelas PERSONALITY WRITING cukup murah kelas selama dua bulan dengan 9 kali pertemuan. Bahkan jauh sangat murah dibandingkan ilmu yang akan didapatkan oleh peserta kelas. Ilmu yang didapatkan oleh orang-orang yang berkeinginan serius untuk menjadi penulis.

"Kamu serius ingin mengikuti kelas?" Saya bertanya dengan tujuan menggali jauh mana keyakinan Deski mengikut kelas.

"Iya Bang."

"Apakah kamu benar-benar yakin?"

"Iya Bang. Kamu saya berikan keringanan. Tentunya dengan tetap mengikuti ketentuan yang sudah diterapkan." Dan dimulailah sesi kelas Deski. Sebagaimana peserta kelas yang lainnya, sesi pertama berisi dengan persoalan beliefe system. Berangkat dari persoalan keyakinan. Persoalan keyakinan ini saya ajukan kepada setiap anggota kelas.

Kalau keyakinannya baru 10 persen, tentunya hal yang mustahil untuk melanjutkan sesi kepenulisan. Bagaimana mungkin akan membimbing orang yang tidak yakin dengan apa yang dia jalankan. Maka sebagai mentor sekaligus motovator dalam kepenulisan, hal pertama yang saya lakukan adalah membenahi keyakinan melalui sesi coaching. 



COACHING CERITA ANAK



Setiap penulis yang ingin mendalami kelas PERSONALITY WRITING memang diwajibkan mendapatkan materi coaching ini. Materi dasar sebelum menekuni dunia kepenulisan sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Materi ini untuk mengenalkan penulis dengan dirinya, dengan tujuan.

Bagaimana mungkin meminta penulis untuk menuliskan sesuatu sesuai dengan yang dia yakini, kalau dia sendiri tidak yakin dengan apa yang akan dia lakukan. Hasilnya akan sia-sia kalau tidak didukung dengan keyakinan yang dalam.

Seseorang dapat mengambil batang kelapa di dahan tertinggi, karena ada keinginan kuat untuk memperoleh buah kelapa. Karena beruk tidak ada, maka dia ambil inisiatif untuk memanjatnya langsung. Akhirnya buah kelapa jatuh ke tangan. Dan dahaga hilang, bersamaan kesejukan angin. Artinya keyakinan mempengaruhi ke proses dan hasil.

Seseorang yang tidak ada keinginan untuk mengambil buah kelapa, tentu dia tidak akan berusaha untuk mencari beruk, tidak akan berusaha memanjat. Lebih baik dia santai-santai. Atau seseorang yang memiliki keinginan setengah-setengah, keyakinannya juga setengah-setengah. Sehingga ketika dia gagal dipercobaan pertama memanjat batang kelapa, dia langsung menyerah. Mengatakan kepada dirinya sendiri, "aku memang tidak seberbakat beruk dalam memanjat kelapa. Mungkin memang nasibku." Ujung-ujungnya nasib yang dipersilahkan.

Nah di sini gunanya coaching, coaching gunanya untuk mengetahui seberapa dalam keyakinan itu, seberapa jauh tujuannya, dan seberapa detaik dia dalam mendefinisikan tujuan beserta cara yang akan dia lakukan. Ada yang mempunyai tujuan besar, tetapi tujuan itu tidak jelas kongkritnya. Ada orang yang mempunyai banyak cara dalam mewujudkan tujuan, tetapi tidak mengerti cara mana yang lebih efisen dalam mencapai tujuan. Coaching bertujuan untuk mengarahkan si penulis untuk menemukan jawabannya sendiri.

"Okey! Apa kecendrunganmu dalam menulis, Deski?" Pertanyaan ini harus saya ajukan meski saya sudah tahu jawabannya. Pertanyaan ini untuk mengenali kecendrungan lebih mendalam tentang apa yang benar-benar dia inginkan.

"Cerpen anak."

"Apakah dirimu benar-benar yakin menulis cerita anak?"

"Ya, begitulah Bang. Kira-kira begitu."

"Kira-kira. Kira-kira adalah sebuah jawaban yang ambigu antara ya atau tidak." Kenapa saya mengajukan pertanyaan ini? Jawabannya karena jawaban dari anggota benar-benar harus padat, bernas, dan meyakinkan.

"Okey saya pertegas kembali. Apakah Deski benar-benar ingin menulis cerita anak?" Deski masih menunjukkan keraguan.

"Ya. Begitulah Bang."


"Apakah Deski benar-benar ingin menjadi penulis?"

"Kira-kira begitulah Bang."

"Abang ingin melakukan penegasan terhadap Deski. Apakah deski benar-benar ingin menjadi penulis."

"Iya Bang. Mencoba menjadi penulis."

"Mencoba! Ada semacam ketidakyakinan dalam kata-kata 'mencoba', 'kira-kira begitulah'." Saya tahu Deski di satu sisi kurang nyaman dengan pertanyaan ini. Oleh sebab itu saya berusaha menyampaikan dengan serileks mungkin agar dia tidak merasa diinterfensi dengan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini tujuan mengarahkan penulis ke keyakinannya sendiri.

"Apakah Deski benar-benar yakin ingin menjadi penulis? Dan apakah itu sungguh yakin?" Tentu saja pertanyaan ini akan menimbulkan kesan keraguan dalam diri penulis. Sebab dia akan bertanya ulang ke dirinya sendiri, apakah dia benar-benar ingin menjadi penulis atau hanya sekedar iseng dan ing mencoba. Jawaban hati kecilnya yang akan membimbing si penulis kepada apa yang dia inginkan.

"Iya Bang. Saya yakin ingin menjadi penulis."

Berangkat dari keyakinan kita akan bisa beranjak ke tujuan yang lebih mendetail. Ketika dia suda yakin, keyakinan akan menuntup ke tindakan. Tindakan ini akan berjalan dengan baik ketika keyakinan sudah menyeluruh dalam diri penulis.

"Bagaimana pencapaian targetmu dalam menulis cerita anak?"

"Kurang bisa dipahami, Bang."

"Dalam menulis cerita anak dirimu menargetkan untuk media apa?"

"Kemarin sih terbit di Singgalang, Bang."

"Bagaimana dengan media yang lain."

"Belum terpikir lagi Bang."

"Kalau begitu apa yang harus kamu lakukan?"

"Mengirimkan ke media."

"Media-media apa saja yang akan kamu targetkan."

"Masih ragu-ragu, Bang."

"Bagaimana kalau media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Tempo, dan dll."

"Enggak begitu yakin Bang. Karyaku belum seberapa."

"Yakinkan dulu diri kita. Persoalan diterima atau ditolak itu adalah pekerjaan redaktur. Redaktur kerjanya memang menerima dan menolak tulisan. Kerja kita adalah mengirimkan karya."

"Kalau begitu apa yang harus kamu lakukan?"

"Meyakinkan diri saya sendiri untuk mengirim ke media masa."

"Kalau begitu targetkan media apa yang harus kamu kirimkan cerpen-cerpen anakmu? Baik silahkan kamu targetkan media-media yang akan kamu kirimkan karyanmu."

"Kompas, MI, Bobi, Singgalang?"

"Kapan kamu akan menargetkan menerbitkan karya di media itu."

"Mungkin beberapa bulan setelah mengikuti pelatihan."

"Mungkin beberapa bulan setelah mengikuti pelatihan! Sungguh jawaban yang belum konkrit. Tidak dapa diukur. Apakah bisa diperjelas? Kira-kira kapan kamu menargetkan terbit di empat media itu?

"Beberapa satu bulan dari mulai mengikuti pelatihan?"

"Kalau pelatihan baru dimulai lima bulan lagi, berarti kamu baru akan mengirimkan di bulan keenam. Sungguh jawaban itu masih absurd. Mohon lebih detail lagi. Tepatnya dirimu menargetkan terbit di media itu di bulan apa?"

"Februari 2014."

"Key. Yakin."

"Ya!"

"Baik berapa cerpen dirimu menargetkan menuliskannya sampai tanggal 14 Februari 2015, karena dirimu akan libur."

"Sebanyak yang aku bisa Bang!"

"Dua, tiga, juga banyak lo."

"Minimal kamu akan menargetkan berapa banyak?"

"Sepuluh Bang."

"Key. Itu jawabanmu lo. Itu bukan permintaan saya lo."

"Ya Bang. Aku percaya bisa menyelesaikan minimal 10 cerpen anak."

"Aku tunggu darimu."

Kalau dibaca satu persatu percakapan dengan Deski, Deski awalnya dari tidak tahu media apa persisnya yang akan dia kirimkan cerpen anak, menjadi dia mengetahuinya. Dari tidak mempunyai target minimal sampai mempunyai target minimal. Awalnya dia tidak tahu kapan harus menargetkan terbit, sampai dia mengetahui kapan tepatnya harus tepatnya karya ini harus terbit. Inilah yang dituntut dari pertemuan pertama pelatihan kelas menulis. Penulis mengetahui dengan detail perihal tujuan yang dia inginkan. 

Ketika detail tujuan dan capaian itu jelas, tanggung jawab untuk memenuhi juga lebih terkontrol. Kontrol itu dir kita sendiri yang mengatur. Kita yang lebih mengetahui kapasitas diri kita. Sedangkan diri orang lain hanyalah mentor bagi diri kita sendiri. [Alizar Tanjung... Tulisan ini belum selesai...]
DESKI RAMANDA: BELIEFE DAN IMAJINASI KANAK-KANAK Reviewed by Alizar Tanjung on 20.27.00 Rating: 5 SEMANGAT MENJEMPUT KEINGINAN Selasa, 6 Januari 2014, hari yang baik untuk memutuskan ke Gramedia. Mencicipi buku dengan kata-kata...

Tidak ada komentar: