PERSIAPAN TO PEKANBARU - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 25 Maret 2015

PERSIAPAN TO PEKANBARU

Malam benar-benar sudah sepi. Bit token listrik dikontrakan berbunyi setiap sebentar. Padahal baru tiga hari yang lalu saya mengisi pulsa listrik. Benar-benar amat mengganggu. Hanya bunyi katak sawah yang mengisi kekosongan, sebagai bentuk apresiasi seni dari seekor hewan. Dan aku ingin membagikan tentang planing "to" Pekanbaru April 2015 ini kepada pembaca yang baik "hati".

Agenda April 2015 ini, "to" Pekanbaru. Berbagi dalam sesi temu Rumahkayu Pekanbaru, Sabtu, 18 April 2015, dan bedah buku "Semua untuk Hindia" karya Iksana Banu di Aklamasi UIR (Universitas Islam Riau", Minggu, 19 April 2015.

Perjalanan terakhir saya ke Pekanbaru, 2011 dalam sesi TFT FLP ketika saya masih menjadi anggota FLP di tahun 2011. Menikmati Panam dan UIR di pagi hari. Serta menikmati Kota dalam sesi jalan-jalan ke Pustaka Daerah Pekanbaru.

Kenangan memang selalu indah. Dan semakin indah ketika kenangan kembali ditelusuri. Sebab saya ingin kembali menelusuri Pekanbaru sembari jalan kaki atau menggunakan sepeda. Menikmati Kota Pekanbaru dengan sepeda di malam harinya tentunya menawarkan sensasi yang berbeda, romantis, melankolis, dan yang terpenting penuh cinta dan kedamaian.

Tuhan berikan kesempatan kepada saya untuk menikmati hidup. Dan saya ingin menikmatinya salah satunya dengan melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Termasuk ke Pekanbaru.

Saya sudah rindu bertemu dengan Koordinator Rumahkayu Pekanbaru, Desi Somalia, setelah lama tidak berjumpa dengan lulusan master kultas hukum Universitas Andalas. Tentunya dia masih seperti Desi yang kritis yang saya kenal selama sempat bergaul dua tahun lebih di Kota Padang Tercinta. Sebagaimana yang selalu dibanggakan penyair Leon Agusta.

Saya rindu bertemu dengan anggota-anggota muda Rumahkayu Pekanbaru. Mereka itu Mustopa Kamal, Syafri. Watri Camila. Nikko. Mereka para anggota Rumahkayu Pekanbaru. Mengingat pertemuan dengan mereka mengingatkan saya dengan proses awal mendirikan Rumahkayu yang menuai berbagai pendapat yang mengantarkan Rumahkayu Group sampai sekarang ini.

Mereka generasi awal memulai dari titik awal kepenulisan. Sampai menjadi penulis di media masa dan buku. Keberhasilan demi keberhasilan terus diraih. Ada suatu semangat baru yang terus diwariskan oleh mereka kepada anggota sesudahnya.

Pekanbaru merupakan provinsi kedua yang menjadi tempat perkembangan Rumahkayu. Tentunya ini jalan untuk menuju provinsi-provinsi selanjutnya. Pergerakan memang harus terus dilakukan. Dan perjalanan memang harus dilanjutkan.

Tentunya Mustopa, Syafri, Watri, Nikko, mereka generasi awal Rumahkayu Pekanbaru yang mengembangkan Rumahkayu di sana. Gerakan, semangat, kualitas karya, kebersamaan, tentu menjadi suatu hal yang penting di sana. Semangat mesti didorongan oleh gerakan, gerakan mesti didorong oleh kebersamaan, kebersamaan mesti didorong oleh kualitas karya. Dengan begitu Rumahkayu bukan hanya menjadi tempat berkumpul, melainkan juga menjadi tempat untuk meningkatkan kualitas karya, melahirkan karya-karya bermutu dari anggota.

Kedatangan saya ke Pekanbaru, untuk berbagi dengan anggota. Pertama soal proses kreatif. Di mana menulis adalah sebuah pekerjaan serius yang menyenangkan. Merubah cara berpikir dari biasa menjadi spesial.

Kita adalah makhluk Tuhan yang spesial, oleh sebab itu berpikirlah dengan cara yang spesial, cara yang tidak biasa dan dibutuhkan oleh banyak orang. Saya datang ke Pekanbaru sebagai makhluk spesial yang diciptakan Tuhan. Oleh sebab itu saya akan berbagi dengan cara yang spesial kepada anggota. Termasuk juga kepada Aklamasi, sebagai pers kampus yang keberadaannya diakui sebagai pers mahasiswa di seluruh Indonesia.

Sebagai agenda harian yang ingin saya lakukan selama kunjungan ke Pekanbaru. Pertama, tentunya berbagi ilmu dengan Rumahkayu Pekanbaru dan Aklamasi. Kedua saya ingin menikmati malam hari sambil berkeliling kota dengan sepeda ontel ataupun sepeda motor. Hal ini tentunya akan sangat melankolis dan romantis, kalau ditemani oleh teman-teman Rumahkayu maupun Aklamasi. Ketiga menikmati derasnya harus sungai. Keempat bertemu dengan kawan-kawan sastrawan dan sastrawan-sastrawan senior: Marhalim Zaini, Hary B Qoriun, Ciki Wahab, Ahmad Ijazi, Riki Utomi. 

Mengingat Ahmad Ijazi seperti mengingat kisah-kisah cinta dalam roman. Karena begitu dekatnya Ahmadi Ijazi dengan cinta dan kebijaksanaan. Saya menyukai sajak-sajak Ahmad Ijazi. Dia salah satu pengarang muda Pekanbaru yang memiliki kekuatan dan daya tarik dalam bercerita maupun bersyair.

Kembali kepada poin pertama dalam agenda saya ke pekanbaru, berbagi proses kreatif bersama anggota, ada beberapa hal pula yang amat menarik di dalamnya. Seseorang terkadang berkata kepada dirinya, "Apa yang sebenarnya saya inginkan?". Saya ingin berbagi dengan anggota Rumahakayu Pekanbaru, karya seperti apa yang ingin mereka tulis ketika sudah bergabung di Rumahkayu Pekanbaru.

Para orang besar sering mengatakan kepada banyak orang maupun kepada diri mereka sendiri. Kamu hari ini adalah investasi dari kamu di masa lalu. Kamu sepuluh tahun mendatang adalah hasil investas yang kamu tanam mulai dari hari ini. Artinya tujuan dan cara mendapatkan tujuan dipengaruhi oleh proses yang dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini mengandung makna bahwa setiap hasil yang didapatkan dari anggota baik hari ini maupun puluhan tahun ke depan bergantung kepada proses yang mulai dilakukan semenjak hari ini.

Ya, Saya ingin mengatakan bahwa pekerjaan mengarang adalah pekerjaan serius yang akan membuahkan hasil ketika proses kepengarangan dilakukan secara berkelanjutan. Pekerjaan mengarang bergantun kepada kefokusan, keberlangsungan secara terus-menerus, kemampuan untuk meningkatkan kualitas.

Pekerjaan mengarang tidak bergantung kepada apakah dia dari jurusan bahasa indonesia, sastra indonesia, sastra arab, sastra inggris, ataupun jurnalistik. Pekerjaan mengarang bergantung kepada isi kepala si pengarang. Apa pun pekerjaannya, apa pun pendidikan, apa pun keturunannya, selagi dalam kepalanya ada pustaka besar, maka dia mempunyai kesempatan untuk menjadi pengarang besar.

Akhirnya saya harus mencukupkan sharing malam ini. Saya harus menutup laptop. Mengambil bantal. Mengucapkan basmalah sebelum tidur. Sampai bertemu, Pekanbaru.

ALIZAR TANJUNG/ 25-03-2015

PERSIAPAN TO PEKANBARU Reviewed by Alizar Tanjung on 10.46.00 Rating: 5 Malam benar-benar sudah sepi. Bit token listrik dikontrakan berbunyi setiap sebentar. Padahal baru tiga hari yang lalu saya mengisi puls...

Tidak ada komentar: