Aku Hanya Ingin Melati bukan Belati (Karya Desiyana El-Rahimiyah) - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 28 April 2015

Aku Hanya Ingin Melati bukan Belati (Karya Desiyana El-Rahimiyah)

Terbit di Suara Kampus, Edisi April 2015

"Nak, simpanlah parfum ini. Pakailah setiap hari. Cukup oleskan pada jilbabmu saja di bagian dada. Mak tahu berapa lama parfum ini akan habis jika kamu pakai hanya pada satu bagian itu saja.” Kata Mak kepadaku. Lalu ia memberiku sebuah pot bunga yang batangnya masih kecil. Kira-kira setinggi tiga puluh centimeter.

"Tanamlah bunga ini di depan rumah, Nak. Dan jika bapakmu bertanya, katakan saja bunga ini adalah pemberian temanmu di sekolah." Akupun lalu mengangguk. Mak mengelus-elus rambutku. Lalu ia memelukku sekuatnya. Inilah detik-detik yang sangat ku benci dalam hidupku. Aku benci sekali dipeluk mak disaat-saat seperti ini. Kebencianku bercampur aduk dengan kesedihan. Kepiluan yang akan ku jalani selama beberapa bulan lagi ke depan.

"Mak, nak akan pakai parfum ini tiga kali sehari seperti minum obat." Suaraku mulai serak. Air mataku meleleh.

"Jangan, Nak. Nanti bapakmu bisa marah kalau mak sering-sering mengunjungimu kesini." Mak menghapus airmataku yang mengalir lancar di pipiku. Mak mengecup keningku untuk beberapa detik. Kecupan eratnya membuat ada sembilu yang ditarik dari ulu hatiku.

"Tok... tok... tok... Deyaaaa..."

Segera mak melepaskan kecupannya dari keningku. Lalu mak merangkulku sekuatnya. Tak pelak lagi, sungguh jantungku benar-benar ada yang menusuk.

"Nak, jaga dirimu baik-baik ya. Mak akan datang lagi kesini jika parfum ini telah habis. Jangan sedih ya Nak. Mak pergi dulu. Kalau bapakmu tahu mak ada disini kamu pasti akan dipukili lagi."

Aku hanya bisa mengangguk. Lalu dengan cepat mak keluar melalui pintu belakang. Pintu itu sering di pakai nenek untuk keluar menimba air sumur. Dan disekitar sumur ada kebun yang biasa ayah tanam didalamnya sayur-sayuran.Disebelah utara dari sumur itu ada pohon rambutan yang batangnya masih sebesar betisku.

Ku lihat mak berjalan cepat-cepat lalu badannyapun menghilang di antara rumpunan pohon pisang. Tubuh mak ramping sekali dengan tinggi badan saat ini tujuh sentimeter dari tinggi badanku. Dua bulan yang lalu tinggi badanku baru sekitar 150 cm.

"Deyaaaaaa!!!" Suara itu menggelegar. Dengan badan yang kaku aku berjalan menuju pintu depan. Lalu ketika aku membuka pintu, lagi-lagi suara keras yang tidak asing lagi itu terdengar memekakkan telingaku.

"Kenapa lama sekali kau membuka pintu!!! Apa kau tidak tahu aku capek!" Lalu dengan kasar ia menarik daguku.

"Kau menangis deya?" Kemudian sambil membuang wajahku dengan kuat ke arah kanan, ia berkata keras lagi. 

"Apa yang kau tangiskan hah?" Aku menggeleng.

"Jawab!!!" Suara itu membentak lagi.

"Tidak ada, Pak. Nak cuma sedih aja." Airmataku mengucur deras lagi.

"Kalau tidak ada mengapa kau menangis?! Jawablah! Jujur saja!! Kalau tidak, akan ku ikat kau dekat kuburan itu!" Tangannya menunjuk ke arah timur. Ada sebuah pemakaman di depan rumah kami. Makam itu panjangnya sekitar lima belas meter. Pemakaman khusus bagi keluarga besar suku bapakku.

"Ta...tadi nak ja...jatuh di... di sumur Pak." Suaraku tersengal-sengal karena sudah tidak tahan lagi menahan isak tangisku.

"Bagus. Kau tidak pernah hati-hati dengan hidupmu sendiri, Deya. Tunggulah saatnya. Hidupmu akan hancur jika kau selalu tidak hati-hati."

Sambil mengoceh banyak kalimat lagi, bapak berlalu ke dapur untuk meletakkan cangkulnya di dekat pintu dimana ibuku lewat tadi.

Aku berjalan ke kamar. Ku letakkan pot bunga itu di meja belajarku. Kemudian ku oleskan parfum itu ke dadaku seperti apa yang mak pesankan.

***

Hari ini hari Minggu. Seluruh pekerjaan rumah telah ku bereskan, kecuali masak. Bapak selalu berpesan pada nenek bahwa aku tidak boleh memasak. Bapak bilang aku masih kecil. Belajar masak hanya akan membuatku cepat dewasa. Jika demikian, ia khawatir pikiranku bukan untuk sekolah lagi. Tapi untuk menyibukkan diri menanti jodoh, seperti yang dialami oleh teman-teman di kampungku.

Seperti halnya dua bulan yang lewat, ketika itu aku memasak nasi goreng. Lalu nenek melihatku masak dan memberitahu apa saja bumbunya. Kemudian secara tiba-tiba bapak datang dan memakiku, lalu menyeret lenganku. Aku dibawa ke kamar. Lalu didorong. Aku terduduk di kursi tepat di depan meja belajarku. Bapak mengambil buku-buku di rak lalu menghempaskannya ke meja. Bapak memakiku. Bapak bicara panjang lebar dengan suara keras, bahwa aku harus rajin belajar dan membaca bukan memasak.

Dan ketika bapak pergi meninggalkanku, aku pun segera mengambil parfum pemberian mak. Parfum itu tinggal separuh. Ku oleskan di bajuku bagian dada. Disaat-saat seperti itulah yang membuatku sangat merindukan mak. Airmataku seringkali mengucur tatkala aku mencium aroma parfum melati itu.

Sebenarnya hari Minggu ini aku diajak Sari dan Nuri untuk pergi meraton ke pasar. Sehabis itu, mereka ingin mengajakku pergi ke mall membeli hiasan kamar dan aksesoris lainnya untuk detakkan di meja belajar.

Namun, seperti halnya minggu lalu, aku harus menerima pukulan dari rotan di telapak tanganku sebanyak sepuluh kali masing-masingnya, karena aku terlambat setengah jam saja pulang kerumah. Sari dan Nuri mengantarku ke rumah lewat dari pukul 13.30. Padahal waktu yang diberikan bapak untuk pergi bersama mereka hanya sampai pukul 13.00.

Oleh karena itulah aku menolak ajakan mereka. Aku harus menghabiskan hari liburku hanya di kamar di depan meja belajar. 

Nenek memanggilku dan menyuruhku untuk segera pergi ke halaman rumah. Aku penasaran. Sejenak jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya.

"Jangan Paaaak..." teriakku histeris. 

Namun lelaki paruh baya itu terus saja mencabik-cabik polybag bunga melati pemberian ibuku dengan pisau pemotong sayur. Nenek hanya memegang tanganku dan lalu memelukku. Ia mengelus-elus pundakku. Nasihat nenek tak didengar oleh bapak. Bapak terus saja membabi buta mengoyak-ngoyakkan pot bunga itu. Tanahpun berserakan seiring mengucurnya airmataku. Lalu bapak mematah-matahkan batang melati itu. Dan meremas-remas seluruh daun dan bunganya yang putih suci itu.

Hatiku tersayat hebat. Sakit sekali. Rasanya memang seperti ada belati menusuk hatiku. Mulutku tak mampu berucap apa-apa lagi. Lalu ayah menghempaskannya tanah dengan keras. Kemudian bapak melakukan hal yang sama dengan melati lain. Ada tujuh buah polybag melati lagi.

Aku melepaskan pelukan nenek lalu mengambil tiga polybag yang tersisa. Namun bapak menendang badanku tepat mengenai pundakku. Aku terhempas ke tanah. Tangan kananku terhimpit dan sikuku terkena pecahan kaca. Sikuku berdarah dan terasa ngilu. Namun belum sepilu hatiku yang sedang tercabik-cabik. 

"Kau telah membohongiku, Deyaa!!!" Bapak melotot padaku. Lalu meludah keras ke wajahku. Ku hapus dengan syal putih yang melilit di leherku. Lalu aroma melati syal itupun semakin membuatku terpekik hebat.

Aku ingin mak ada disini memelukku. Namun sayup-sayup aroma itu hilang karena hidungku dipenuhi cairan. Aku tak bisa lagi menciumnya lagi. Hidungku tersumbat.

Bapak terus saja menendang dan menginjak-injak melati yang tak berdaya itu. Kini hilang sudah melatiku. Melati yang dikirim mak setiap hari dalam minggu ini. Kiriman melati yang tidak sesering itu dikirim oleh mak sebelumnya.

"Kau bilang melati ini adalah pemberian temanmu. Tapi nampak oleh mata kepalaku sendiri dari kejauhan mak Kau yang mengirimnya melalui Nina. Lalu Nina memberikannya padamu." Bapak memekik keras sambil mencangkul tanah untuk menguburkan semua melati bersama tanah humus itu. Nina adalah tetangga kami sekaliagus teman satu kelasku.

Aku sungguh tak bisa lagi berbuat apa-apa.Bapak memang sangat benci dengan mak. Bapak mengusir mak karena cemburu buta. Bertahun-tahun mak di kurung di rumah. Mak tidak pernah bisa ke luar rumah sekalipun hanya untuk pergi ke warung membeli kebutuhan pokok. Kalau tidak nenek yang membelikannya, maka akulah yang akan membelinya.

Namun ketika itu ada tukang sayur yang lewat di depan rumah kami. Mak merasa bapak tidak akan marah. Lagipula bapak ketika itu sedang pergi ke pasar menjual sayur. 

Hari libur terakhir bersama mak itu, meninggalkan kenangan yang sangat pahit bagiku. Bapak dengan kasarnya menyeret lengan mak ke rumah lalu memukulinya, dan memaki. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Mak memekik sekuat tenaga. Tetangga kami tidak ada yang peduli karena mereka juga takut dengan bapak. 

Lalu hari itu juga bapak membereskan pakaian mak dan mengusirnya. Mak tidak punya rumah lagi. Mak pergi meningglkan kami tanpa sebuah bendapun terkecuali parfum beraroma melati itu. Mak berjanji akan selalu menemuiku saat parfum melatiku sudah habis. Lalu, saat itu mak bilang ia akan tinggal di kontrakan dekat pasar, tinggal bersama temannya.

Setelah kejadian itu, bapak selalu memarahiku bahkan pada hal-hal kecil sekalipun. Apalagi ketika temanku datang ke rumah mengajakku pergi bermain ke luar. Bapak tidak mengizinkannya lagi. Ia pun tidak pernah percaya kalau kami harus pergi ke rumah guru untuk belajar kelompok.

Setelah mengubur semua sampah melati itu beserta tanah humus dari pot plastiktersebut, lalu pergi ke dekat kebun untuk membakar plastik polybag itu. Dan aku pun kembali ke kamar. Aku yang masih menangis, memandang ke luar jendela. Mataku tertuju pada tanah yang baru saja bapak kubur melati itu.

***

"Mak...maafin nak yaaa. Nak tidak bisa berbuat apa-apa. Nak sayang mak. Nak akan selalu mendo'akan Mak. Mak, nak sangat suka bunga melati yang mak kasih. Melati itu bapak tanam di depan jendela kamar nak. Sebelum belajar, nak selalu melihat timbunan melati itu, Mak. Bapak juga sayang sama Mak. Maaaaakk...." Airmataku meleleh tiada henti. Ulu hatiku bagai diikat dengan kawat yang berduri. Aku memeluk kuburan mak, setelah semua orang meninggalkan pemakaman. Aku dan nenek masih duduk di dekat pemakaman mak. Sementara bapak sedang sibuk mengantarkan keranda mayat ke mesjid bersama bapak-bapak yang lain.

Tak lama kemudian, ayah menarik tanganku dan menyeretku pulang. Aku melambaikan tangan ke kuburan mak. Aku sayang makku. Hatiku remuk dan perasaanku terbawa jauh ke ruang hampa. Aku tiada hentinya memandangi kuburan mak sampai aku masuk ke dalam mobil. Ku buka kaca mobil, ku melihat sayu ke kuburan mak dengan mataku yang masih mengalirkan air mata.


Semenjak kepergian mak, aku selalu membeli parfum melati itu dan setiap kali aku mencium aroma melati, doakupun tak luput untuk mak.[]
Aku Hanya Ingin Melati bukan Belati (Karya Desiyana El-Rahimiyah) Reviewed by Alizar Tanjung on 21.32.00 Rating: 5 Terbit di Suara Kampus, Edisi April 2015 "Nak, simpanlah parfum ini. Pakailah setiap hari. Cukup oleskan pada jilbabmu saja di b...

Tidak ada komentar: