Ojek Payung - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Sabtu, 25 April 2015

Ojek Payung


ALIZAR TANJUNG*
Terbit Singgalang, Minggu, 26 April 2015

Seorang perempuan berkebangsaan Indonesia asal Surabaya dan seorang laki-laki berkebangsaan Indonesia asal Padang berdiri di halte. Berteduh dari rintik hujan deras di atas atap halte. Hanya mereka berdua. Si laki-laki bersandar ke dinding halte. Tangan kiri menopang kepala. Tangan kanan memantik sebatang kretek. Memandang lurus ke halte di seberang jalan. Di halte di seberang, dua orang perempuan, anak-anak, mengembangkan payung mereka.
“Mau menyeberang?” ujar si laki-laki kepada si perempuan. Si perempuan itu menoleh. Dia tidak menatap mata si laki-laki. Dia hanya melihat sebatas dagu si laki-laki yang dipenuhi bekas jambang.
Perempuan itu menggeleng. Dia kembali melihat lurus ke halte di seberang. Melipat paha kanan di atas paha kiri yang dibungkus celana jeans. Melipat tangan kanan di atas tangan kiri. Matanya lurus menatap seorang perempuan paruh baya di seberang. Dua orang anak perempuan sedang melakukan negosiasi dengan seorang perempuan paruh baya itu. Perempuan paruh baya itu menggeleng tiga kali. Dan, dia memilih duduk diam di halte. 
“Lagi menunggu seseorang?” ujar si laki-laki. Dia meniupkan asap kreteknya ke udara. Asap kretek itu membentuk lingkaran di udara. Kemudian lenyap di atas atap halte. Kaki kirinya naik ke dinding bagian bawah halte.

“Kau mungkin boleh memilih untuk tidak menggangguku. Aku sudah biasa bertemu dengan laki-laki semacam kau,” ujar si perempuan. Dia mengetuk-ngetukkan jemari tangan kanan di atas lengan tangan kiri.

“Mungkin kita bisa memulai dengan pertemanan di tengah hujan,” ujar si laki-laki. Kini gantian si laki-laki yang menoleh ke perempuan. Rambut perempuan itu dikuncir seperti ekor kuda. Poni depannya dibiarkan menyilang ke kening bagian kiri. Anting berbentuk gelang emas palsu menjuntai di telinga kanan perempuan.

“Terimakasih atas tawarannya. Hujan selalu mendatangkan kesedihan. Jadi aku tidak butuh pertemanan,” ujar si perempuan. Mata mereka bertemu tiga detik. Kemudian si perempuan mengalihkan tatapannya ke gedung di balik halte di seberang. Tiga gedung raksasa itu berjajar, gedung di tengah lebih tinggi dari pada gedung di sisi kiri dan kanan. Gedung di tengah adalah sebuah hotel bintang lima. Gedung-gedung itu menghalangi pemandangan bukit hijau di seberangnya lagi. Kabut tebal menyelimuti pemandangan ke langit di balik gedung.

“Om. Om. Om. Ojek payung. Hanya seribu rupiah, Om.” Seorang anak perempuan menarik tangan si laki-laki. Dia mengembangkan payung merah. Si laki-laki tidak menyadari kapan anak perempuan itu berdiri di samping kanannya. Si laki-laki mengusap kepala anak perempuan itu. Duduk jongkok di depan anak perempuan.

“Siapa namanya?”

“Lusi, Om.”

“Kelas berapa sekarang, Lusi?”

“Enggak sekolah, Om. Enggak ada biaya.”

“Tinggal di mana?”

“Di sana, Om.” Lusi menunjuk ke perkampung kumuh di seberang sungai, di balik jembatan, jauh di sebelah kiri halte tempat mereka berada.

“Ojek payung, Om?”

“Om lagi ingin menikmati hujan di sini.” Laki-laki itu menyerahkan uang seribu rupiah ke anak perempuan itu. Anak perempuan itu kembali bergegas ke halte di seberang. Seorang perempuan muda sedang melakukan negosiasi dengan kawannya Lusi. Perempuan muda itu memilih memakai jasa ojek payung. Ojek payung itu mengantarkan perempuan muda ke pintu bus.

Laki-laki itu kembali memandang perempuan di sampingnya. Perempuan itu sedang memperhatikannya. Dan, mengalihkan pandangannya ke anak perempuan di halte di seberang, sesaat sebelum laki-laki itu menyadarinya.

“Hujan sumber dari ketenangan. Saat dia turun dari langit dan menyentuh kulitmu, ketenangan mengaliri seluruh badanmu,” ujar si laki-laki. Dia kembali menaikkan kaki kirinya ke dinding bagian bawah halte. Dua tangannya menempel di atas paha dengan sebatang kretek di sela-sela jari. 

“Dinginnya hujan menenangkan hati, basahnya menyejukkan jiwa. Dengarkanlah bunyi gemericik hujan ini, melodinya mampu membuat tersenyum.”

Si laki-laki memandang air yang bergenang. Air itu menguning. Air itu mencapai batas mata kaki si anak perempuan yang baru saja berhasil menyeberangkan seorang penumpang, laki-laki gendut. Si laki-laki gendut duduk di sisi kiri perempuan. Dia batuk berat. Menyandar memejamkan mata. Laki-laki itu langsung mendengkur dengan suara mirip harimau tidur.

“Hujan sumber dari kesedihan tanpa henti. Mendatangkan penderitaan bagi jalan-jalan kota, rumah-rumah penduduk, kedai-kedai kelontong di tepi jalan. Bagaimana mungkin kau mengatakan hujan sumber ketenangan?” Si perempuan memandang toko-toko yang tutup di pinggir jalan. Air sudah memasuki teras-teras toko. Para penumpang semakin ramai terjebal di halte seberang.
Dua orang anak perempuan berulang kali mengantarkan penumpang ke seberang. Dua anak perempuan itu sangat mirip. Dia bagaikan dua orang anak perempuan kembar.

Si laki-laki gemuk semakin keras dengkurnya di samping si perempuan.

“Sebab hujan mendamaikan hatiku yang bertengkar dengan logika,” ujar si laki-laki. Si laki-laki membuat lingkaran di dada. Kemudian merentangkan kedua tangan. Bibirnya terangkat ke atas.

“Oh,” ujar si perempuan.

“Ya.”

“Aku sebaliknya.”

“Hidup memang tak selalu mesti sejajar,” ujar si laki-laki. “Semua bergantung persepsi dalam kepala masing-masing. Dan aku memilih hujan sebagai sumber ketenangan.” Si laki-laki menampung rintik hujan di telapak tangan. Mengusapkan air ke muka dan kepala. Dia menyapu kumisnya yang tipis. Kemudian mengusapkan air ke lengannya yang kekar.

Anak perempuan di seberang mengantarkan seorang penumpang, perempuan gemuk. Sekarang perempuan gemuk itu duduk di samping laki-laki gemuk. Mereka berpegangan tangan. Membiarkan rinai-rinai percakan hujan menyapu wajah mereka.

“Hujan luka yang menganga dalam dada. Dalam diriku mengalir luka hujan. Mula-mula dia hadir sebagai pemandangan yang indah dengan rintik-rintik yang serentak. Kemudian dia mengalir sebagai air yang mengalir dengan jumlah yang tidak terbatas, mengalir sebagai sungai buatan di jalan-jalan utama, mengalir sebagai banjir ke pemukiman, membawa penyakit setiap harinya. Mengalir sebagai tangisan orang-orang yang tenggelam di dalamnya.”

Hujan di jalan utama naik sampai sebetis anak-anak perempuan si ojek payung. Kini mereka harus menyinsingkan lengan celana. Meraba jalan, berjalan perlahan-lahan agar tidak tergelincir di tengah genangan air. Si laki-laki memandang genangan air yang semakin deras. Dia memandang si anak perempuan yang kembali membawa seorang penumpang, perempuan muda. Si laki-laki mendadahkan tangan ke anak perempuan si ojek payung. Anak perempuan itu membalas dadahan tangan si laki-laki.

“Dalam diri kita mengalir hujan yang menjadi keberkahan. Hujan mengalir ke dalam tanah. Tanah menghidupkan segala macam tanaman, hewan, yang menjadi konsumsi kita setiap hari. Pada diriku dan pada dirimu mengalir hujan yang menjadi sumber kehidupan,” ujar si laki-laki.

“Siapa yang sedang kau tunggu?” ujar si perempuan.

“Aku sedang menunggu kebahagiaan.”

“Kebahagiaan seperti apa yang kau tunggu?”

“kebahagiaan yang dibawa hujan.”

Sungai mulai meluap di samping kiri pemukiman tempat tinggal anak perempuan si ojek payung. Air-air kuning mengalir dengan tenang. Si perempuan mengikuti arah mata si laki-laki.

“Begitulah hujan?” ujar si perempuan.

“Itu banjir,” ujar si laki-laki.

“Sama saja,” ujar si perempuan.

“Banjir disebabkan penggerusan tangan manusia di hulu sungai. Hujan keberkahan dari langit,” ujar si laki-laki. “Itu sungguh berbeda dengan hujan.”

“Jangan alihkan pembicaraan. Faktanya hujan menjadi banjir. Sedangkan perluasan sungai hanya janji.”

Si perempuan dan si laki-laki memandang ke anak perempuan yang tergelincir di tengah genangan air di jalan utama. Anak perempuan itu kembali berdiri dengan membentangkan payung sembari menundukkan kepala kepada penumpangnya. Si laki-laki dan si perempuan bergegas menolong mereka berdua, membawanya ke pinggiran halte. Dalam sekejap baju mereka basah diguyur hujan lebat. Si perempuan mengibaskan rambut, menanggalkan kuncir ekor kudanya. Si laki-laki mengusap lengan anak perempuan. Membuat simbol senyuman di dagu dengan jempol dan telunjuk yang mengembang. Si anak perempuan menarik sudut bibirnya ke atas.

Air di jalan utama naik selutut orang dewasa. Sungai di seberang jembatan meluap ke badan jalan. Air memasuki toko-toko di pinggir jalan. Halte di seberang sudah penuh oleh penumpang. Langit semakin gelap. Sebentar lagi malam, tiba.

“Lusi! Susi! Kita segera pulang,” ujar si perempuan. Dua orang anak perempuan itu bersegera mendatangi si perempuan. Dia mengembangkan satu payung untuk si perempuan. Tiga payung pada tiga perempuan itu terus menjauh. Ketiga payung itu warnanya merah….[]



*Alizar Tanjung, lahir di Solok, 10 April 1087, Sumatera Barat. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, catatan kebudayaan dipublikasikan di koran lokal dan nasional.
Antologi cerpennya: Rendezvous di Tepi Serayu (Grafindo Litera Media, 2009). Bukan Perempuan (Grafindo Litera Media, 2010). Antologi puisinya:  Akulah Musi (Dewan Kesenian Palembang, 2011). TSI Narasi Tembun i(Komunitas Sastra Indonesia, 2012). Akar Anak Tebu (Pusakata, 2012). Handphone 085 278 970 960. Rekening a/n Alizar, Bank Manidiri : 111-00-0561246-6

Ojek Payung Reviewed by Alizar Tanjung on 05.00.00 Rating: 5 ALIZAR TANJUNG* Terbit Singgalang, Minggu, 26 April 2015 Seorang perempuan berkebangsaan Indonesia asal Surabaya dan seorang laki-...

Tidak ada komentar: