RANG GADIH - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Sabtu, 25 April 2015

RANG GADIH



ALIZAR TANJUNG
Terbit Singgalang, 26 April 2015

“Bantuak Kau se nan rancak. Bajalan malenggok-lenggok bantuak itiak sakik pinggang. Satiok sabanta mancaliak suok kida. Lai ado jo laki-laki nan lalu, lenggok Kau langsuang bantuak siampa. Lua se nan rancak, dalamnyo baulek bantuak batang dadok. Den rumeh muncuang Kau ko nah! Bia tantu Kau jo diri Kau surang. Sakik talingo den mandangaan gunjiangan urang, mancaliak parangai Kau. Anak rimau Kau mah. Bapiyoh muncuang den dek Kau. Parangai Kau cingkahak urang juo. (Kau merasa cantik. Pinggulmu ketika berjalan bergoyang seperti itik sakit pinggang. Setiap sebentar melihat kiri kanan. Ketika ada laki-laki yang lewat, goyang badanmu seperti hantu janda. Luarnya bagus, di dalamnya isi hatimu berulat. Saya robek mulutmu nanti! Biar Kau mengerti dengan diri sendiri. Sakit telinga saya mendengarkan gunjingan buruk tetangga tentangmu. Kau ini anak harimau. Sakit mulut saya menasihatimu, tingkahlaku Kau tidak juga berubah)”

Waktu kecil, entah pada detik, menit, jam, hari, tanggal, tahun, ke berapa, saya suka mendengarkan pertengkaran rumahtangga orang. Terkadang itu pertengkaran antara anak dengan induknya. Terkadang pertengkaran antara kakak dan adiknya. Dan biasanya itu pertengkaran antara perempuan sesama perempuan.

Ada-ada saja yang terjadi; Ada piring yang pecah dihempas ke dinding dapur. Ada kuali yang jadi bas karena dipukul sebab semakin marahnya. Ada pula gelas yang melayang dari jendela. Ada pula tangis yang meratap-ratap sebab anak yang suka melawan. Ada pula dada yang dipukul karena tidak tahan dengan perangai anak. Semakin menariknya ada yang merentak-rentak di atas rumah karena anak perempuan sudah pandai mampakau, seolah mereka sama besar.

Sebenarnya yang dipermasalahkan banyak pemicu. Kalaulah anak gadis kerjaannya tidur saja di pagi buta, dengan sendirinya sang induk akan mencak-mencak dari dapur. “Anak tidak tahu diri, tidur saja kerjanya.” “Anak harimau, tidak tahu dia induknya sibuk di dapur. Piring tidak dicuci. Air tidak diambil dari sumur. Sudah terbit matahari dia masih juga tidur.” Kalimat-kalimat ini keluar sebagai pemicu emosi pertama. Ada yang memang dipancing dengan perangai anaknya yang kalau ada laki-laki dia langsung bersantun-santun. Kalau sama induknya langsung seperti harimau dengan kucing. Harimau dia. Kucing induknya. Pertengkaran ini ada pula karena memang anaknya suka menjawab nasihat dari induknya. Suka bermuka durja, bermuka masam, man den (membesarkan diri di depan orangtua), ada yang memang suka membuat aib dengan mudahnya dibawa laki-laki.

Saya tidak tahu, Anda yang perempuan yang membaca mantagi ini pernah mengalaminya. Atau barangkali pernah melakukannya kepada anak Anda karena Anak Anda semakin membandelnya saat Anda minta melakukan sesuatu. Sampai-sampai Anda tidak bisa mengontrol diri. Kalau ada di antara Anda pernah bertengkar demikian, Anda boleh pura-pura tidak melakukannya. Atau pura-pura orang lain saja yang melakukan perkataan demikian.

“Pandai-pandai jadi padusi (berpandai-pandai menjadi perempuan)”. Begitu nasihat yang lebih halus. Kalau tak berpandai-pandai menjadi perempuan. Maka terciptalah banyak generasi perempuan bunga, suka dihinggapi kumbang. Tercipta generasi perempuan anai-anai, ke mana pergi memperlihatkan pantat. Tercipta generasi laba-laba, di mana hinggap orang ditangkap. Tercipta generasi perempuan ayam lepas, bermain saja kerjanya. Pergi pagi pulang petang.

Wajar kalau begitu kalau Anda atau orangtua Anda mengatakan, “jongkek bana (jalang)”, “kurang utak (tidak berpikir), “rimau gadang (berperangai seperti rimau)”, “anjiang kurok (berperangai seperti anjing kurap)”. Ada api, ada asap. Tidak besar api kalau tidak ditiup.

Tentunya tidak semua perempuan yang seperti diceritakan di atas. Ada pula perempuan yang memang kebalikan dari semua hal itu. Ada perempuan kalau berkata di bawa-bawa, saat dia bicara tidak menyinggung orang lain. Ada perempuan kalau berjalan baik bunga melati di taman, menyejukkan mata. Ada pula perempuan bagaikan merpati, dia seperti jinak, tetapi pandai menjaga diri tidak mudah ditangap. Ada pula perempuan seperti si rama-rama, dari kupu-kupu menjadi kepompong, pandai benar dia melakukan diri dari waktu ke waktu. Ya, begitulah seharusnya rang gadih (perempuan). Maksudnya saya ya begitulah seharusnya rang gadih Indonesia.[]

RANG GADIH Reviewed by Alizar Tanjung on 05.15.00 Rating: 5 ALIZAR TANJUNG Terbit Singgalang, 26 April 2015 “Bantuak Kau se nan rancak. Bajalan malenggok-lenggok bantuak itiak sakik pingg...

Tidak ada komentar: