Mengapa Ada Penulis yang Bisa Kaya - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 06 Mei 2015

Mengapa Ada Penulis yang Bisa Kaya

Sebut saja satu nama penulis, J.K Rowling, yang meroket berkat karya fiksinya: Harry Potter. Konon, kekayaan yang dimilikinya dari hasil menulis kisah penyihir cilik—beserta kawan-kawannya di sekolah sihir—sempat mengalahkan kekayaan Ratu Kerajaan Inggris, Elisabeth. Bahkan Rowling pernah menjadi penulis terkaya di dunia.
Yang menjadi pertanyaan yaitu mengapa aktivitas menulis bisa menghasilkan kekayaan  sebegitu banyak, hingga ada yang bisa menyaingi harta milik sang ratu yang tinggalnya di istana dengan segala pelayanan istimewanya?
Berikut, beberapa hal yang membuat sebagian kecil penulis bisa mendapatkan penghasilan lebih banyak dibanding penulis-penulis lain.

Royalti dari Penerbit

royalti | www.linkedin.com
royalti | www.linkedin.com
Salah satu penghasilan seorang penulis adalah dari royalti karyanya yang diterbitkan. Semakin banyak jumlah eksemplar bukunya yang dicetak dan laku terjual di pasar, maka nominal royalti yang akan diterima pun bertambah—tergantung perjanjian sistem royalti.
Bayangkan buku Harry Potter yang lahir di tengah masyarakat dengan budaya baca yang bagus. Kisah fiksi tentang dunia penyihir yang kekinian ini tidak hanya dicintai anak-anak dan pembaca remaja, bahkan mereka yang sudah dewasa pun banyak yang jatuh cinta dengan cerita fantasi ini. Potensi pembeli bukunya makin luas, dan best seller.
Jika permintaan pasar makin tinggi, mau tidak mau penerbit harus memproduksi buku tersebut lebih banyak lagi. Cetak ulang!
Ambil contoh buku lokal: novel Bidadari-Bidadari Surga, karya Tere Liye yang sejak pertama muncul, 2008, hingga April 2014 sudah mengalami cetak ulang sebanyak tujuh belas kali. Bayangkan, tahun lalu saja sudah sebanyak itu cetak ulangnya. Dari satu buku saja, kalau cetak ulang sebanyak itu, penghasilan seorang penulis sudah lebih dari cukup.
Sakinah Bersamamu, karya Asma Nadia, merupakan contoh lain lagi buku yang mengalami cetak ulang—per September 2014 cetakan kedua puluh. Waow!
**hitungan sederhana dari royalti:
  • Satu kali cetak 3.000 eksemplar, harga buku Rp 000.
  • Penjualan buku Rp 000.000 dengan asumsi terjual semua.
  • Royalti 10% = Rp 000.000.

Buku yang Difilmkan

Ayat-Ayat Cinta | arest.wordpress.com
Ayat-Ayat Cinta | arest.wordpress.com
Bayangkan sosok karakter Four dan Tris dengan pesona yang dimiliki masing-masing. Yap, Divergent! Mereka berdua adalah tokoh dalam film yang diadaptasi dari novel dengan judul sama (trilogi), karya Veronica Roth. Dan sekarang sedang tayang film dari buku keduanya: Insurgent. Penulis yang menikah dengan seorang fotografer ini, selain menerima royalti dari penerbit, juga mendapatkan uang ‘penjualan’ dari production house yang memfilmkan bukunya.
Habiburrahman Al Shirazy salah satu penulis Indonesia yang bukunya makin melejit setelah difilmkan. Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih. Dari tiga novelnya yang diangkat ke layar lebar, Kang Abik—sapaan akrab Habiburrahman—katanya mendapatkan Rp 150.000.000.
Beberapa penulis lain yang karyanya sudah diadaptasi untuk film antara lain: Dee Lestari dengan Madre, Filosofi Kopi, dan Supernova. Asma Nadia dengan Assalamualaikum Beijing dan Emak Ingin Naik Haji, Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
Biasanya, buku-buku yang difilmkan akan semakin banyak dicari orang. Dengan begitu, jumlah pembaca bertambah, salah satunya didorong rasa penasaran untuk membandingkan cerita versi buku dan film. Makanya di toko buku kita sering mendapati begitu film akan naik tayang, buku dicetak lagi dan covernya memakai poster film—dua kran penghasilan penulis mengucur deras, dari penerbit dan PH.

Workshop dan Undangan Pembicara

Ippho Santosa sedang bicara dalam sebuah seminar | http://prasetya.ub.ac.id/
Ippho Santosa dalam sebuah seminar | http://prasetya.ub.ac.id/
Ippho Santosa dengan buku fenomenalnya berkaitan dengan rezeki, 7 Keajaiban Rezeki, merupakan penulis yang aktif memberikan ceramah, juga workshop. Dari sinilah penghasilan sebagai penulis makin bertambah.
Bedah buku sebenarnya kepentingan pihak penerbit dan penulis untuk memasarkan produk buku. Tapi tidak jarang ada pihak luar yang mengadakan bedah buku sekaligus meet and great, di mana penyelenggara atau panitia membutuhkan kehadiran sang penulis. Maka diundanglah si penulis buku. Karena sang penulis sudah meluangkan waktu, dan kadang panitia pengundang lokasinya tidak dekat, biasanya pihak panitia ‘menghargai’ dengan nominal tertentu.
Atau undangan mengisi seminar, penulis sering dilibatkan sebagai pemateri dengan tema yang sudah ditetapkan event organizer. Dari menjadi pembicara ini pun, penulis mendapatkan tambahan penghasilan.
Selain menjadi pembicara di forum yang diselenggarakan pihak lain, kadang penulis juga membuat event sendiri. Sekarang sudah jamak penulis-penulis menyelenggarakan kelas kepenulisan berbayar. Ada nama Nurhayati Pujiastuti, Ari Wulandari Kinoysan, dan Anang YB, mereka adalah penulis yang mengajar di kelas menulis—fiksi, nonfiksi, naskah film, ghost writer.

Menulis di Media

Ayat-Ayat Cinta 2 di Republika
Ayat-Ayat Cinta 2 di Republika
Makin banyak peluang terbuka bagi penulis untuk mendapatkan penghasilan lebih selain dari royalti penjualan buku. Terlebih penulis yang sudah terkenal—karyanya pun bagus dan berkualitas.
Sinta Yudisia (Tahta Awan dan Existere, dll) merupakan penulis yang menghasilkan novel, juga cerita pendek dan dimuat di harian nasional. Seno Gumira Ajidarma (Negeri Senja, Saksi Mata, Jazz, Parfum & Insiden, dll) juga penulis yang karyanya sering dimuat di media massa.
Sisi menyenangkan dari penulis terhadap media massa adalah, kadang tidak perlu repot menanti kepastian apakah tulisannya dimuat, tidak jarang malah mereka diminta langsung oleh redaksi surat kabar atau majalah untuk mengirimkan tulisan, baik fiksi maupun artikel dengan tema tertentu. Bahkan ada penulis yang menjadi penulis tetap rubrik tertentu, misalnya Asma Nadia yang tiap minggu mengisi rubrik Resonansi di Republika. Termasuk juga penulis novel Kemi, Adian Husaini, namanya sering muncul di media massa nasional.

Buku Diterjemahkan

Andrea Hirata dan buku terjemahannya | http://andrea-hirata.com/
Andrea Hirata dan buku terjemahannya | http://andrea-hirata.com/
Kalau kita berkunjung ke toko buku, tidak hanya buku para penulis lokal yang dipajang, banyak juga karya terjemahan. Toto-chan, salah satu buku yang cukup ‘legend’ karena sangat menginspirasi. Harry Potter, sebagian besar pembaca di Indonesia mengenal novel ini juga setelah diterjemahkan.
Untuk perwakilan buku berbahasa Indonesia, salah satunya adalah karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri: Turki, Jerman, Cina, Amerika, Korea, Madrid, Belanda, Vietnam, dll.
Dengan adanya Frankfrut Book Fair, makin terbuka lebar kesempatan bagi penulis lokal agar buku-bukunya diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri.

Produktif, Terus Menulis

Namanya juga penulis, pekerjaan utamanya tentu saja berkarya menghasilkan tulisan yang kemudian dipublikasikan dan dipasarkan. Kalau berhenti menulis, maka penghasilan pun akan berkurang.
Jadi, salah satu cara agar pundi-pundi rizki terus terisi, seorang penulis mau tidak mau terus berkarya, produktif menulis, menjaga disiplin dan rutinitas menulis.
_____________________
Diyan
Diyan Sudihardjo
Diyan Sudihardjo, editor di AsmaNadia Publishing House. La Tahzan for Hijabers, buku perdananya yang pernah diterbitkan, antologi bersama Asma Nadia, Helvi Tiana Rosa, dll. (spoila.net)
Mengapa Ada Penulis yang Bisa Kaya Reviewed by Alizar Tanjung on 21.38.00 Rating: 5 Sebut saja satu nama penulis, J.K Rowling, yang meroket berkat karya fiksinya: Harry Potter. Konon, kekayaan yang dimilikinya dari hasil me...

Tidak ada komentar: