Rumahkayu Pekanbaru Ikuti Bedah Buku Putri Pinang Masak - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Senin, 04 Mei 2015

Rumahkayu Pekanbaru Ikuti Bedah Buku Putri Pinang Masak



Putri Pinang Masak sebuah judul buku yang dibedah Griven H Putera, penulis Riau dalam kegiatan bedah buku pada rangkaian kegiatan Bulan Pusaka 2015 di Toko Buku Gramedia, Pekanbaru. Kegiatan ini ditaja Riau Heritage, komunitas yang fokus mengangkat dan mensosialisasikan warisan budaya Melayu Riau. Buku ini ditulis Afrizal Cik, putra kelahiran Selatpanjang, Riau. Ia mengisahkan kehidupan seorang putri, Nila Sari (Putri Sulung Raja Numbing, Bintan) yang baru menikah dengan Putra Rengit Perkasa (Putra Mahkota Kerajaan Merbau). Setelah melangsungkan pesta agung, Putra Rengit Perkasa ingin membawa pulang Putri Nila Sari berlayar menuju Merbau, Kepulauan Meranti.

Sebelum berlayar Engku Putri Siluan Intan, ibunda sang putri memberi pesan agar jangan singgah di Pulau Medang, karena hantu kiwi menghuni pulau itu. Hantu kiwi dikenal jahat dan dapat menyamar seperti apa yang mereka mau.

Dalam perjalan di tengah lautan, ombak dan badai menghantam Kapal Elang Senja yang mereka tumpangi. Untung tak dapat diraih, nasib pun tak dapat ditolak, dengan terpaksa mereka harus bersandar di Pulau Medang yang sangat ditakutkan. Lalu Putra Rengit Perkasa pun melihat keadaan di luar kapal. Saat ia keluar hantu kiwi tertarik dengan Putra Rengit Perkasa. Lalu hantu kiwi berniat menyingkirkan sang putri, ia pun menghampirinya, dan membuangnya Putri Nila Sari ke Selat Pinang Emas (masak). Putri tenggelam dan ditelan Ikan Jerung, ikan yang sangat besar.

Putra Rengit Perkasa kembali ke dalam kapal, ia mendapati Putri Nila Sari tidak seperti biasanya, ada kelakuan dan tingkah yang sangat aneh dan berubah-ubah. Karena mereka terdampar di Pulau Medang, ia mengira istrinya sudah dirasuki hatu kiwi. Karena itu mereka cepat-cepat meninggalkan pulau itu.

Ikan Jerung yang memakan Putri Nila Sari merasa tak nyaman dan sangat menderita, karena  putri memegang tali perutnya, boleh jadi karena putri juga orang yang bertuah lantaran ia keturunan orang terpandang. Ikan Jerung pun kesana kemari tanpa arah, lalu mati dan terdampar di Tanjung Motong, kampung kecil di wilayah kerajaan Merbau. Putri yang berada di dalam perut ikan masih terus berteriak dan meminta tolong. Nek Ketiung yang menyisiri pantai mendapati ikan besar itu, dan ia mendengar ada suara minta tolong dari perut ikan. Nek Ketiung membelah perut ikan, dan benar ia mendapati seorang perempuan jelita. Perempuan itu menyebutkan namanya, Sri Seroja. Ia menyembunyikan identitasnya sebagai istri Putra Rengit Perkasa.

Mulai saat itu Sri Seroja hidup bersama Nek Ketiung yang sehari-harinya berjualan sirih, pinang dan lain-lain ke pasar dan keliling sampai ke istana. Sri Seroja sangat pandai merangkai bunga. Ia minta Nek Ketiung sekalian menjual rangkaian bunganya di istana. Bujang Mengkopot pegawai istana, iba melihat perempuan tua itu lantaran tak ada yang membeli rangkaian bunga yang dibawanya.

Bujang mengkopot lalu membelinya, dan hendak menghadiahkan pada kekasihnya. Bujang mengkopot menitipkan rangkaian bunga itu pada inang tua, yang juga pegawai istana untuk menyampaikannya pada kekasihnya. Sebelum inang tua menyampaikan rangkaian bunga itu, Putra Rengit Perkasa melihatnya, dan sadar tidak ada seorang pun yang bisa membuat rangkaian bunga seperti itu kecuali Putri Nila Sari. Putra Rengit Perkasa pun menyuruh Bujang Mengkopot menyelidiki di mana perangkai bunga itu tinggal.

Cerita di atas lah yang disarikan Griven H Putera dari buku Putri Pinang Masak di hadapan peserta bedah buku malam itu, Sabtu, 25 April 2015. Ia menilai cara Afrizal Cik mengisahkan Cerita Rakyat Melayu dalam buku ini ada sedikit kemiripan dengan cara Soeman Hs, Bapak Cerpen Nasional dalam menuliskan karya-karyanya. Kemungkinan ini dikatakannya, lantaran Afrizal Cik dan Soeman Hs sama-sama lahir di daerah pulau, meski pulaunya berbeda, karena Soeman Hs di Pulau Bengkalis sedangkan Afrizal Cik di Selatpanjang, Kepualaun Meranti. Selain itu, Afrizal Cik juga menceritakannya lewat buku ini penuh dengan unsur budaya dan bahasa Melayu, dengan bahasa elok, sederhana dan terkadang kocak.
. Selain itu, hadir juga dari perwakilan Pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau dan beberapa penulis dan pegiat budaya Melayu Riau. Beberapa peserta bedah buku turut menanggapi isi cerita dalam buku Putri Pinang Masak ini, seperti seorang putri tetap bisa surfive meski hidup di luar istana. Selain itu ada kemiripan kisah putri yang dimakan ikan Jerung dengan kisahnya Nabi Yunus yang tetap dapat hidup dalam perut ikan. Menurut Griven ini boleh jadi karena Melayu begitu dekat dengan Islam.
Selain itu pun pada kesempatan itu mereka membicarakan betapa anak muda sekarang tidak tertarik dengan kebudayaan sendiri. Hal ini menjadi kekhawatiran bersama bagaimana mengemas dan mempromosikan agar kebudayaan lebih dekat dan dicintai masyarakat, terutama anak muda. Diantaranya, lewat buku-buku cerita rakyat seperti yang ditulis Afrizal Cik. Namun tidak cukup dengan membukukannya saja, para penerbit buku yang mempunyai jaringan nasional seperti Gramedia juga harus memberikan ruang kepada penulis-penulis buku seperti ini. Selain itu mengemas cerita-cerita rakyat itu dengan visual, film seperti kisah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, yang berangkat dari kebudayaan Minang, Sumatera Barat harus menjadi alternatif menyampaikan nilai-nilai budaya kepada anak muda.***
(Abdul Hamid Nasution, Bergiat di Rumahkayu Pekanbaru)
Rumahkayu Pekanbaru Ikuti Bedah Buku Putri Pinang Masak Reviewed by Alizar Tanjung on 03.13.00 Rating: 5 Putri Pinang Masak sebuah judul buku yang dibedah Griven H Putera, penulis Riau dalam kegiatan bedah buku pada rangkaian kegiatan ...

Tidak ada komentar: