Santi Oh Santi - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Jumat, 08 Mei 2015

Santi Oh Santi



Cerpen Alizar Tanjung
Suara NTB, Sabtu, 9 Maret 2015 

            “Aku ingin tinggal dalam bulan, bersedia kah Abang tinggal bersamaku?” kata Santi. Mantan pacarku. Ia datang ke rumahku membawa sepasang kaki. Sepasang tangan. Sepasang sepatu hak tinggi. Sehelai rok mini. Duduk di sofa. Menghidupkan tv seperti kebiasannya saat jadi pacarku. Mengganti-ganti channel. Menyandarkan tubuhnya manja. Melirikku dengan tatapan ganjil. Aku pikir setan bersarang di mata, di telinga, di bibir, di roknya Santi.
            “Minum jus melon atau anggur?” Tawarku.
            “Segelas kopi.” Pinta Santi. Santi perempuan yang cantik. Pandai memilih gaun. Berambut sebahu. Berpelipis tipis. Tidak ada yang kurang pada Santi. Lebih cantik dari perempuan pada umumnya.
Kemudian kami duduk kembali. Bersibelahan di atas kursi. Dia menutup rok mininya dengan tasnya yang merah hati. Kemudian mematik sebatang kretek.
            Dua gelas kaca di atas meja. Aku minum jus terung. Aku suka darah. Darah terung membuatku puas. Santi suka jus melon. Jus melon membuat kulitnya lembut. Mungkin pagi ini alasannya memesan kopi sebab ingin memanasiku saja. Ia kira aku akan menasehatinya dan berkata, “Santi, kopi tidak baik untuk kesehatanmu”, kemudian berbalik kepadanya menyatakan bahwa aku masih sayang sama Santi. Ah, Santi, aku tidak akan menasehatinya.
 “Jus lemon,” aku suka katanya. Suatu malam kami duduk di cafe Cafetaria jalan Ayam Wuruk, jalan menuju jembatan Sitinurbaya, perempuan memabukkan dan memalukan bersama Syamsul Bahri. Aku kencan dengan Santi di Malam Minggu. Aku memesan segelas jus terung. Santi memesan jus melon kesukaannya. Duduk berhadap-hadapan sambil mendengarkan music jazz: Dreaming you, All i am, after the love has gone, rivers of love, Thinking about you.
            “Aku penggemar terung. Melihat darah terung membuat aku puas. Hal-hal yang berbaur darah membuat kelelakianku naik.” Santi bergidik mendengar perkataanku. Tetapi kemudian dia menggodaku. Mengerdipkan matanya.
“Jus lemon membuat kulitku mulus.” Aku tidak suka perkataannya. Bagaimanapun aku lelaki pecemburu. Kalaulah Santi tampil cantik banyak lelaki meliriknya.
“Jazz dengan campuran sasopon menurutku sungguh melenakan.” Sengaja aku alihkan pembicaraan. Ia langsung terbawa suasana. Mengajakku bernyanyi. Kami bernyanyi sampai larut malam. Hingga malam itu kami pulang dini hari.
“Kita beli jus terung,” kata Santi ketika bertemu café di jalan Cokroaminoto. Pulang membawa dua jus terung. Besoknya pagi-pagi sekali aku putuskan Santi. Ia resmi menjadi mantan pacarku sedetik sesudahnya.––Tidak, aku tidak menghamili dia. Aku hanya membiarkan dia tidur sendirian di kamar. Aku tidur di sofa menikmati siara tv sampai jam dua dini hari. Saat terbangun ia telah menghidang dua gelas jus yang tak sempat kami minum sepulang café Cafetaria.
“Sebaiknya kita berpisah setelah pagi ini,” ujarku sehabis sarapan pagi. Menikmati roti diolesi mentega dan direndam caffucino.
“Abang bercanda?” kata Santi. Kemudian Santi tertawa. “Kita sudah bahagia untuk bersama. Tidak bertengkar. Bahkan selalu tertawa dan ceria. Tidak ada alasan untuk itu.” Kemudian Santi kembali mengoleskan mentega di rotiku.
“Sebab kita bahagia, aku memilih berpisah. Kita terlalu ceria untuk bersama, Santi.” Santi masih saja tertawa. Roti di mulut Santi menyembur ke bajuku. Aku dan santi tertawa terbahak-bahak. Sangat lama sekali. Jam tujuh pagi, Santi pamit. Sesudahnya aku tidak pernah menghubungi santi kecuali pada masa yang lama sesudah itu.
***
Suatu senja aku dan Santi secara tak sengaja bertemu di café Cafetaria. Bukan di hari Minggu. Aku sehabis lembur di hari Kamis. Mulanya aku ingin duduk paling pojok. Tapi apa kata Santi kalau ia lihat aku menghindar. Aku yang terdorong masuk café mengambil duduk di depan Santi. Aku duduk memesan segelas jus lemon. Santi memesan segelas jus terung.
“Kabar baik,” kataku ketika Santi menanya bagaimana kabarku.
“Kabarku baik juga,” kata Santi, tanpa aku tanya. Santi menanyakan apakah aku masih terlalu bahagia.
“Tumben kau sekarang lebih suka jus terung?” kataku tanpa mengubris pertanyaan Santi. Aku sangat malas membicarakan kebahagian.
“Abang kenapa juga lebih suka sekarang memesan jus lemon?” Kata Santi. “Jus terung ternyata enak sekali,” ujar Santi.
Aku ingin mengatakan kepadanya. Sebenarnya jus lemon juga sangat enak. Ah, untuk apa aku katakan semua itu. “Aku hanya lagi ingin mengganti seleraku saja.” Diam. “Aku hanya lagi tidak ingin saja menikmati jus terung,”  ujarku ketika pelayan café menyodorkan segelas jus lemon. Lengkap pipetnya.
Aku dan Santi bertukar panjang lebar tentang hari-hari yang aku dan Santi lewati selama tak bertemu. Santi lebih banyak bicara, aku lebih banyak mendengar. Santi mengaku sering menangis mengingatku. Kata Santi, ia selalu datang setiap malam Minggu ke cafe Cafetaria. Pulang malam, berjalan sendirian. Kata Santi juga, ia suka memesan segelas jus terung sambil mendengarkan lagu jazz after the love has gone sambil membayangkan aku dan Santi bernyanyi bersama. Ah, memang dasar perempuan. Kata Santi juga, ia sekarang bekerja sebagai guru ngaji dan guru anak-anak TK. Kemudian Santi mengambil tanganku.
“Aku sekarang menikmati berpisah.” Penuturan Santi sungguh berbalik dengan rasa rindu. Ah, sialnya aku suka perempuan yang berpikiran terbalik.
“Aku kira aku suka lemon.” Terucap juga perkataan yang tak ingin aku ucapkan. Santi tak mendengarkan perkataanku. Ia menarik tanganku. Naik ke panggung. Memintaku bernyanyi bersamanya.
“Aku suka darah jus terung membuat keperempuananku bergelora,” bisik Santi. Aku dan Santi bernyanyi sampai dini hari. Aku dan Santi pulang tanpa membeli jus terung. Malam itu Santi kembali tidur di rumahku. Santi tidur dalam kamarku. Aku tidur di sofa. Paginya kami sarapan dengan roti mentega. Dua gelas Caffucino. Dua sendok susu coklat kental. Sesudahnya santi minta pamit.
“Aku ingin mengakhiri pertemuan ini dengan ciuman, Abang. Percayalah aku akan mengingat Abang sebagai kekasih abadi, juga sebagai teman, juga sebagai laki-laki yang suka darah terung.” Aku dan Santi berpisah di pintu tanpa membiarkan Santi mencium bibirku. Hari itu Santi pulang dengan rasa kecewa. Dia sedikit pun tidak menoleh ke belakang dari jalan.
***
            “Maukah Abang antarkan aku menuju Bulan, kamar-kamar putih dan gaun-gaun sutra?” Santi mulai mendekat kepadaku. Santi memang susah ditebak, dahulu dia mengucapkan lain sekarang ia menginginkan lain. Santi membukakan tasnya. Mengeluarkan dua jus; satu jus terung dan satu jus lemon. Ia letakkan di atas meja. “Aku membelinya dini hari tadi sepulang kerja. Aku sekarang kerja di café Cafetaria sebagai penyanyi pop di malam Minggu.” Tanpa diminta Santi langsung meminum jus terung. Ia juga meminum kopi.
            Ah, gila santi.
            Aku meminum dua gelas jus; Jus lemon dan jus terung. Aku juga meminum satu gelas kopi. Pagi itu kami kembali tertawa terbahak-bahak. “Abang memang lelaki yang lucu. Diajak hidup bahagia malah lebih suka menikmat jus terung.” Aku tidak suka lelucon santi. Dalam hati aku berkata mungkin aku memang laki-laki yang lucu yang tidak menerima kedatangan perempuan cantik dalam hidupku.
“Ternyata kopi, jus terung, jus lemon terasa asyik kalau bercampur tiba di lidah,” ujarku. Pagi itu aku tidak berangkat kerja. Tidak enak membiarkan Santi sendirian di rumahku.
Santi minta tidur di kamarku. Katanya ia mengantuk sekali. Aku biarkan ia tidur. Jam 12 siang ia bangun. Santi mandi, menggeraikan rambutnya.  Ia menawarkanku memasakkan mie goreng, telur dadar, sayur bayam, nasi. Santi menghidangkan di meja makan untuk makan siang. Menuangkan nasiku dalam piring, taburan mie goreng, sayur bayam. Kemudian santi mencucikan bajuku. Menstrika. Ia juga menyediakan aku air panas untuk mandi.
Seharian aku dan Santi cuman di rumah. Seharian pula aku dan Santi berbagi banyak hal. Pekerjaan sebagai penyanyi pop tidak menyenangkan, kata Santi. Banyak lelaki jalang yang pura-pura minum jus, juga ada om om yang suka mengasih uang. Ah, Santi ia kira aku akan cemburu. Kemudian menyatakan bahwa sesungguhnya aku juga ingin hidup bersama dengannya, memberikan anak, memasukkan ia sekolah, memberikan uang jajan, dan membawanya berekreasi ke Gunung Padang, Lubuk Paraku, Lubuk Minturun, Pantai Bungus, Bukik Lampu, Pantai Carocok, Pasir Putih, Rumah Mak Rabiah, Lubuk Mata Kucing.
“Sebaiknya kau lebih banyak saja istirahat.”
“Ah Abang, aku tidak akan lama di sini,” ujar Santi. Sungguh tidak ada niatku untuk mengusir Santi. Maksudku sebaiknya Santi melanjutkan istirahat di kamarku. Kalau lapar tinggal buat ulang lagi mie goreng. “Aku setelah ini akan tinggal di bulan,” ujar Santi. Sangat serius sekali wajahnya. “Mau kah Abang tinggal bersamaku di bulan?” Santi mengucapkan bahwa di bulan ada banyak kamar yang bisa aku dan Santi tempati. Kalau mau makan dan minum tinggal pesan, maka akan datang dengan sendirinya. Aku kira Santi hanya berkhayal saja.
“Tampaknya kita malam ini harus mencari jus terung dan lemon. Terserah apa aku yang minum terung atau kau, Santi,” kataku. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan Santi. Hanya pertanyaan anak kecil yang ingin tinggal di bulan. Malamnya setelah santi kembali ke rumahnya dan janjian bertemu di café, Santi tidak datang. Ada sesuatu yang aneh di dadaku, kenapa Santi tidak datang? Nafasku sesak.
Dua jus telah terhidang di mejaku. Dua jus yang akan aku tawarkan kepada Santi. “Kamu mau minum jus terung atau lemon, Santi?” Tapi santi tidak pernah datang. Aku menunggu sampai dini hari. Santi benar-benar tak pernah datang. Jam tiga dini hari ketika aku sampai di rumahku, hpku bordering, bunyi jazz after the love has gone . Sebuah pesan dari Santi, “Maaf aku ketiduran, Bang. Barusan saja bangun.” Tak aku balas pesan santi. Percuma saja, kini aku juga ingin menghempaskan badan di sofa.
Pesan bertubi-tubi datang dari Santi. Aku biarkan pesan-pesan itu tidak dibuka. Aku lagi benar-benar tidak mood untuk membaca pesan-pesan Santi. Hpku masih saja berdering. Aku lemparkan hpku ke kursi dekat tv. Menikmati musik jazz hp itu sebagai musik pengantar tidur.
***
            Pagi-pagi sehabis sarapan roti diolesi mentega dan segelas jus terung, aku membuka pesan-pesan santi. Ada sepuluh pesan dari Santi. Santi benar-benar ingin tinggal di bulan. Kata Santi bulan itu ada di kamarku. Bulan itu ada dalam lipatan kainku. Aku bergegas ke dalam kamar. Aku bongkar lipatan-lipatan kainku. Aku tidak menemukan apa-apa, kecuali lipatan-lipatan kainku yang distrika Santi. Aku menemukan bau parfum Santi di lipatan bajuku. Aku bongkar sekali lagi baju-bajuku, Santi rupanya menyimpan sepasang cincin dalam lipatan bajuku.
            Aku hubungi-hubungi nomor santi. Nomor Santi tidak aktif. Aku buka kembali pesan-pesan Santi. Barangkali ada pesan yang tidak tuntas aku baca. Pesan-pesan santi semuanya tidak ada yang aneh selain kegilaan Santi belakang-belakangan ini. “Aku ingin tinggal di bulan.” Aku keluar rumah menuju rumah Santi. Kata pembantunya Santi, Santi barusan pergi jam sebelas malam tadi dijemput oleh seorang laki-laki gagah dengan mobil. Aku kembali pulang ke rumah menghempaskan badan di kamar. Sebuah pesan Santi masuk dalam hpku, “Aku harus pergi membawa jus terung dan jus lemon.” Aku hubungi Santi, aku ingin katakan kepadanya bahwa aku benar-benar tak bisa hidup bahagia bersamanya. Tapi nomor santi tidak aktif.
            Tak lama pesan Santi kembali masuk: Bulan ternyata memiliki taman putih yang indah, air-air putih yang mengalir deras, daun-daun putih yang semerbak, bunga-bunga yang mekar mawar. Tentu saja aku tidak percaya dengan semua kebohongan Santi. Aku kemudian berangkat kerja dengan seperangkat tanda tanya kepergian Santi.
***
            Kini sudah sepuluh tahun aku tidak kedatangan santi. Kemarin, dua hari yang lewat tiba-tiba pesan santi masuk ke hpku. Santi telah menikah dengan lelaki yang membawanya tengah malam. Kata santi, Santi telah memiliki tiga orang anak. Tiga orang anak yang ia ajari meminum kopi, jus terung, jus lemon. Kata Santi juga, Santi telah memiliki café sendiri tempat ia bebas benyanyi pop, mendengarkan lagu jazz.
Sebenarnya aku tahu Santi sangat menginginkan aku sebagai bulan dalam kehidupannya. Aku juga tahu hatiku sangat ingin menjadikan santi bagian dari bulan dalam hidupku. Tapi seperti yang aku bilang aku sangat haus dengan darah terung. Darah terung yang membuat aku buas. Maka selama kepergian Santi aku tidak memutuskan untuk menikah, seperti juga ketika keberadaan Santi. Bahwa sebenarnya aku lelaki yang tidak akan sanggup memberikan anak kepada Santi. Kini darah terung itu diwariskan Santi kepada Anaknya. Santi, pasti juga telah mendengarkan kepada anaknya lagu jazz after the love has gone.***Padang, 2014

*Alizar Tanjung, sedang menyelesaikan program S2 di Jurusan Pendidikan Islam, IAIN Imam Bonjol Padang.

Santi Oh Santi Reviewed by Alizar Tanjung on 10.29.00 Rating: 5 Cerpen Alizar Tanjung Suara NTB, Sabtu, 9 Maret 2015              “Aku ingin tinggal dalam bulan, bersedia kah Abang tinggal be...

Tidak ada komentar: