ANGIN UTARA, BERHEMBUS - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Jumat, 19 Juni 2015

ANGIN UTARA, BERHEMBUS



ALIZAR TANJUNG
 Singgalang, 21 Juli 2015
 
Design by Alizar Tanjung
Angin utara berhembus kencang. Seorang perempuan kecil dan seorang anak lelaki duduk di atas batu jenjang. Batu berundak yang disusun dari batu-batu pipih. Menghadap ke barat. Menghadap menembus batas angin. Menantang matahari. Lalu angin menyelinap ke rambut mereka. Rambut perempuan bergerai ke selatan, menutupi pipinya yang mungil. Ya, setiap sore kalau dipandang dari barat menembus batas angin, akan selalu dilihat seorang perempuan kecil dan seorang anak lelaki suka bercerita di jenjang batu. Di belakang mereka rumah kayu, rumah sederhana.

“Kita menikmati senja, Amelia,” kata lelaki. Lelaki duduk sejajar dengan perempuan. Sama-sama menghadap ke barat. “Aku sudah berulang kali mengucapkan kalimat ini. Sekarang sudah ke sekian ribu aku ucapkan.” Matanya menatap ke matahari senja, matahari yang tidak menyilaukan matanya. Terpantul matahari itu di matanya. Dia duduk di sebelah kanan perempuan. Mengerucutkan tangannya di dua lutut yang mungil. Lutut itu tidak tertutup. Celananya hanya sampai sebatas batas paha.

“Kita memang sudah berulang kali mengucapkannya Kak.” Perempuan sejenak menoleh ke pipi lelaki. Pipi lekaki tampak hitam dimakan matahari. Tetapi pipi itu tetap menarik dan berkilau. Lelaki pura-pura tidak menyaksikannya. Perempuan kembali mengalihkan pandangannya. Menunjuk matahari. “Menikmati matahari yang tenggelam di ujung Langit, Kak,” ujarnya. “Matahari yang tidak akan pernah meninggalkan kita.”

Lelaki mengangguk.

“Ya, ya, kita menikmati senja di ujung langit. Sebentar lagi matahari tenggelam. Sebentar lagi malam benar-benar datang.” Lelaki mengikuti telunjuk perempuan. Telunjuk mereka bertemu. Mereka tertawa. Perempuan melilitkan mata kanannya ke lelaki. Kemudian tersenyum. Kembali menarik sudut matanya, menoleh ke matahari kulit jeruk matang.

“Matahari itu tidak akan tenggelam, Kak. Dia akan tetap di sana. Sebab kita tetap di sini. Kalau kita sudah pindah baru dia tenggelam.”

“Dirimu semacam Tuhan saja, Amelia.”

“Matahari akan tetap menemani kita.” Perempuan melingkarkan telunjuknya seperti melingkari matahari. Tersenyum. “Dengarkan, Kak. Matahari itu berjanji tidak meninggalkan kita.”

“Ha ha ha.”

“He he he kakak tertawa.”

“Iya Amelia. Habis kamu lucu.” Lelaki mengikuti gerakan jemari telunjuk perempuan. Melingkari matahari. Lalu matahari itu seperti menjadi milik mereka berdua. Mereka pertemukan dua ujung telunjuk. Sepakat menunjuk matahari bersama.

“Ha ha ha,” tawa mereka berdua. Tangan kiri lelaki memegang bahu kiri perempuan. Merangkulnya perlahan. Bahu perempuan beradu dengan tulang iganya. Sejenak ia menolah ke pipi perempuan. Perempuan tersenyum. Rambutnya kembali dihembus angin utara, bertiup ke pipi lelaki.

“Rambutmu panjang Amelia.”

“Aku merawatnya, Kak.”

“Aku suka.”

“Aku juga suka, Kak.”

Mereka berdua menurunkan telunjuknya dari lingkaran matahari. Kembali mengerucutkan di lutut. Mereka membiarkan matahari menyapu wajah mereka dengan cahaya. Cahaya itu memperindah lelaki dan perempuan. Sekejap mereka berluluran cahaya senja. Dua ekor burung terbang melintas di udara. Selalu begitu, setiap mereka duduk di tangga, dua ekor burung melintas membelah matahari. Lalu matahari itu akan kembali bulat. 

“Kenapa dua burung itu terbang melintasi cahaya matahari senja, Kak?”

“Mereka juga mencintai cahaya matahari senja.”

“Seperti kita?”

“Tidak, Amelia. Seperti mereka sendiri.”

“Aku tidak mengerti, Kak.”

“Mereka mencintai cahaya matahari senja karena mereka suka. Kita mencintai cahaya matahari senja karena kita suka.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ya ya ya.”

Lelaki merangkul perempuan ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap rambut perempuan ke punggung. Perempuan merasa nyaman di dada lelaki. Lelaki merasakan nafas perempuan yang turun-naik dengan perlahan. Perempuan menyatu dengan lelaki. Cahaya matahari senja menyusup ke balik rambut perempuan yang meramu merah.

“Apakah di matahari itu senyaman di dada Kakak?”

“Hmm.”

“Kak.”

“Hmmm.” 

“Maukah Kakak mengajak Amelia ke Matahari Senja?”

“Hmmm.” 

Rumah kayu di belakang mereka berderit dihembus angin utara. Papan-papannya saling mengericit. Atap berdentang. Daun-daun kulit manis berhamburan ke halaman. Sehelai daun kulit manis yang masih hijau jatuh di bahu kanan lelaki.

“Untukmu, Amelia,” kata lelaki mengenduskan daun kulit manis di hidung Amelia. Amelia merebutnya. Meletakkannya di telapak tangan. Membiarkan daun itu kembali lepas ke udara. Angin utara kembali bertiup tenang. Amelia bergerak, melepaskan sandaran tubuhnya dari dada lelaki. Lelaki mengusap kepala Amelia. Amelia mencubit lelaki. Lelaki meringis. Kembali mereka memperhatikan matahari senja. Dua ekor burung itu sudah melesat ke selatan bersama angin utara. Mereka saling pandang.

“Aku menginginkan burung itu,” kata Amelia menunjuk ke selatan. Ke ujung horison langit. Burung itu melesat mengecil seperti terbang burung anggang yang menjauh. Lelaki tersenyum. Mengacak-acak rambut perempuan. Mata mereka sama-sama memandang ke selatan ujung langit.

“Tidak mungkin kita menangkap burung terbang.”

Mereka bercanda saling cubit. Batu-batu di bawah mereka ikut bergoyang. Batu-batu yang tak sanggup di goyang angin utara. Puas bercanda kembali memandang ke ujung langit.

“Kenapa mereka sepasang, Kak?” Tanya perempuan menunjukkan nada heran dan kecewa.

“Karena mereka kekasih, Amelia.”

“Kekasih?”

“Hmmm. Coba lihat sini.” 

Perempuan menoleh ke kanan. Lelaki mencubit dan menarik pipi perempuan. Perempuan membalasnya. Mereka tertawa. Perempuan kembali menyandarkan tubuhnya di bahu lelaki. Lelaki memeluknya. Matahari menyelinap ke senyum mereka. Matahari memantul di empat bola mata mereka.

 “Senja matahari indah, Kak. Ada rumah-rumah cahaya di kabut.” Perempuan menunjuk rekah awan. Rekah awan yang menyerupai istana yang sering ia temukan dalam mimpinya. Istana yang memiliki tujuh pintu masuk menuju tangga cahaya. Setiap pintu memiliki penjaga bergaun cahaya emas. Ia disambut dengan pincuran air yang bening lagi menyejukkan. Perempuan merasa ia telah di surga. Ya, ya, itu sering ia temukan dalam mimpinya.

“Selalu begitu. Dan akan selalu begitu, Amelia. Kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi.”

“Esok, Kak?”

“Ya.”

“Kak, Amelia boleh ke sana?”  

“Tidak sekarang Amelia.”

“Suatu hari nanti, Kak?”

“Ya, ya, suatu hari nanti.”

“Kak.”

“Hmmm.”

“Kak.”

“Hmmm.”

“Tidak ada apa­-apa.”

Kini angin utara tidak berhembus dengan kencang. Tapi daun-daun kulit manis kembali berguguran dari sisi kiri halaman. Daun kulit manis itu berguguran membuat lelaki dan perempuan bagaikan bermandikan cahaya. Lelaki dan perempuan menikmatinya. Mereka sama-sama merentangkan tangan. Meniup aroma kulit manis yang khas. Daun-daun kulit manis bermandikan cahaya, berkilau-kilau keemasan sebelum jatuh ke tanah. Ya, ya, berkilau-kilau keemasan sebelum jatuh ke jenjang batu. Di belakang lelaki dan anak perempuan tetap berdiri rumah kayu; dinding yang melapuk, atap yang bolong, sandi yang berderit-derit, rumput-rumput yang menjalari papan. Matahari senja di barat berkilau buah jeruk. Dan akan selamanya begitu.***Padang
ANGIN UTARA, BERHEMBUS Reviewed by rumahkayu on 20.51.00 Rating: 5 ALIZAR TANJUNG  Singgalang, 21 Juli 2015   Design by Alizar Tanjung Angin utara berhembus kencang. Seorang perempuan kecil ...

Tidak ada komentar: