ANGKU KADI - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 28 Juni 2015

ANGKU KADI

YUSRINA SRI

PADANG EKSPRES, 28 JUNI 2015



Malam semakin kelam dalam pandangan. Empat lelaki dan dua orang perempuan tengah menuntaskan ritual terakhir dengan diterangi tiga buah dama, lampu sumbu berminyak tanah.

Angku Kadi menyeringai lebar-lebar, menampakkan giginya yang tinggal sebiji seperti akan lepas kapan saja. Tiadalah ia peduli pada siapa yang hamil dan siapa yang menghamili, yang penting ada yang dinikahi dan ada yang menikahi. Itu saja. Selesai perkara, habis cerita. Dan tentu, ia dapat upah dari usahanya. Apalagi kalau bukan menautkan dua punai yang sudah aduhai menggila perangainya lantaran mabuk asmara. 

Di kampung kami namanya kadi, di tempatmu mungkin bernama penghulu. Namun, aku yakin betul, walau beda nama, barangkali perangainya tak jauh beda.

***

“Kau jangan macam-macam Ros.” Suara lelaki paruh baya itu terdengar serak. “Tali gantungan tinggal sehelai. Pegangan untuk berdua.”

Ros menekur dalam-dalam, menatap lekat-lekat kedua telapak tangannya yang sedari tadi memilin-milin ujung baju kurung. Ia begitu gugup berbicara di hadapan kakak sulungnya. Ah, bukan gugup. Barangkali cemas, atau takut. Ya, barangkali begitu. Sementara, lakinya Dulah, diam tak bergeming. Ia tahu, ia pun akan segera dipetuahi kakak iparnya itu.

Datuak Itam menyulut sebatang rokok.

“Ti-tidak, Uda. Kali ini tidak.” Ros terisak. Sulit betul ia menahan air matanya sedari tadi. Ia paham benar, Udanya, Datuak Itam tidak akan goyah oleh apa pun jua, apalagi air mata belaka.

“Tali gantungan tinggal sehelai,” ulangnya lagi. “Jika kau tak seayun seirama dengan Dulah, jikalau tidak pegangan kalian yang lepas, tentulah tali yang putus.” Datuak Itam menghisap batang rokoknya. Asapnya menyembul dari dua lubang hidungnya yang mekar, juga dari sela-sela antara dua katup bibirnya yang kehitam-hitaman.

Ros masih saja menekur. Tangannya pun masih memilin-milin ujung baju kurung yang ia kenakan.

“Kau paham Dulah?” Datuak Itam mengalihkan pandangannya pada lelaki empat puluh tahun yang telah mengawini adik bungsunya lebih dari dua puluh tahun.

Dulah hanya membungkuk. “Ambo minta maaf Uda.” Tidak ada kata lain yang bisa ia ucapkan selain itu.

“Dulu, saat talak pertama kau jatuhkan, seperti ini jualah kau membungkukkan kepala meminta maaf,” kisah Datuak. “Aku bukanlah orang yang terluka atas jatuhnya talak kau, atau kalau-kalau kalian bercerai, putus pertalian. Lantas buat apa menyungkur meminta maaf kepadaku?” Kedua matanya menatap lekat sepasang suami istri yang selalu saja berulah itu.

“Biduk ini biduk kau berdua, yang bilamana kau karam, karam pulalah anak-anakmu.” Ia kembali mengisap batang rokoknya.

“I-iya Uda,” ujar mereka serempak.

“Sekarang kalian tentukan. Kau Ros, jangan lagi menghardik-hardik laki dan memaksanya menjatuhkan talak. Tidak sangguplah, menderitalah, inilah, itulah. Kalau Dulah membuat kau menderita, mengapa bisa bertahan sampai lahirnya anak ketiga?”

Ros mengangguk pelan. Air matanya jatuh lagi.

“Kau juga Dulah. Ini kesempatan terakhir kau. Sudah dua talak kauucapkan dengan percuma. Ingat kataku, tali gantungan kau berdua seutas cuma, talak tinggal satu semata, jangan anggap mainan saja.”

“I-iya Uda.” Dulah mengiyakan dengan kepala yang masih saja menekur seakan beratnya bukan main.

Datuak terdiam sesaat. Ia mematikan rokoknya dengan menekan-nekankannya ke dinding asbak dari tempurung kelapa.

“Ros, kau tinggallah di sini hingga magrib nanti. Bantu Uni kau menanak nasi dan gulai.” Ros mengiyakan. Air matanya sudah kering. Bibirnya berusaha tersenyum.

“Kau Dulah, pulanglah dahulu. Bawa seorang dari pihak keluargamu, kemenakan pun tak apa. Lepas magrib akad kita helat.” Dulah gegas mengangguk. Dadanya terasa lapang. Kepalanya seakan ringan kembali.

“Kau berdua ingat baik-baik, ini akad terakhir. Ini rujuk terakhir. Tidak akan ada akad antara kau berdua setelah ini. Tidak ada lagi pertalian jika selepas ini kau ungkai lagi.” Mata Datuak Itam menyala.

“I-iya Uda.”

“Jangan sampai talak tiga kau jatuhkan Dulah, atau jikalau jatuh jua, jangan coba-coba kalian kawin kabuang. Dalam riwayat hidup Udamu ini, tidak mengenal kawin kabuang.”

“Bukankah haram hukumnya dalam agama, selepas talak tiga kau sewa orang untuk menikahi mantan binimu semalam saja, lalu pagi hari ditalaknya ia. Lalu selepas idahnya selesai, kau nikahi ia kembali? Itu nikah mut’ah namanya. Kawin kabuang istilah kampung kita. Haram hukumnya, Dulah! Haram hukumnya, Ros!” tegasnya.

“Jangan coba-coba kalian melakukannya kalau-kalau talak penghabisan ini terucap lagi!”

“Uda, kami berjanji. Pasti Uda. Percayalah! Tidak akan ada kawin kabuang. Mana berani kami melakukannya,” bujuk Ros. Dulah pun turut memasang wajah sungguh-sungguh.

“Kita lihat saja bagaimana esok, Ros!” ujar lelaki yang dipanggilnya Uda itu. “Jikalau talak Dulah jatuh, habis sudah pertalian, usai cerita. Jangan coba-coba kalian kawin kabuang! Atau jikalau kau siap tak lagi beruda, tak lagi bersaudara, anakmu tak lagi bermamak, silakan, silakan, berbuat sesuka kau saja!”

“Ti-tidak Uda. Aku tidak akan berani begitu,” janji Ros. Dulah turut meyakinkan.

Ros maklum, soal agama, pengetahuan Udanya bukan main dalam dan luas. Semua orang pun tahu. Seisi kampung menyebutnya buya, seisi nagari tahu siapa dia.

Maka malam itu, di antara langit yang dihiasi gerimis satu-satu, Datuak Itam menjadi wali nikah adiknya Ros dengan suaminya Dulah. Pasangan suami istri yang selalu saja berulah.

Ini malam yang penting. Bukan hanya bagi Ros dan Dulah. Bukan hanya bagi anak-anaknya yang turut menjadi saksi, namun juga bagi Datuak Itam. Baginya ini hidup dan mati. Jikalaulah tidak hidup pernikahan adiknya selepas ini, maka matilah kesudahannya.

Datuak Itam menaruh perasaran pada akhir dari kisah yang baru saja dimulai lagi malam ini.

***

“Aduhai, bagaimana ini Angku? Kepala rasanya ingin membelah, pecah.” Lelaki dengan tampang kusut awut-awutan itu pusing bukan kepalang. Ia datang malam-malam ke rumah Angku Kadi, mengeluhkan perkaranya.

Ia dipanggil Angku karena memang sudah tua, barangkali sudah kepala enam. Namun ia disebut Kadi bukan lantaran bernama demikian, namun di kampung kami, sejak rimba mulai diteruka menjadi hunian yang layak, seorang penghulu nikah selalu saja disebut sebagai Angku Kadi. Anehnya penghulu KUA tidak dipanggil demikian, kami seringkali memanggilnya Pak KUA saja, bukan Angku Kadi.

Angku Kadi hanya penghulu biasa dengan pekerjaan yang tidak lagi biasa. Ah, mengapa kukatakan tidak biasa? Seharusnya memang bukan hal biasa, namun di kampung kami, sudah menjadi hal yang lumrah semata. Dugaanku, entah pekerjaan yang tidak biasa itu sudah diturunkan dari Kadi-kadi sebelumnya, entah itu hanya tuntutan zaman belaka.

Kau tentu paham, semisal pasangan muda yang hamil sebelum halalnya, maka orang tua mereka akan memboyongnya ke rumah Angku Kadi. Lalu dinikahkan mereka dengan mahar sekadarnya, lalu di mata warga, sahlah mereka bersentuh-sentuhan bilamana ditangkap mata. Ada hujah yang dimiliki kerabat dan keluarga, bahwasanya ia sudah berlaki dan berbini. Dan bilamana kandungannya telah lahir, barulah mereka menikah kembali di KUA di kecamatan, nikah resmi katanya. Pasal anaknya? Ah bisa dilupakan barang sebentar. Orang KUA tak akan tahu, kampung kami cukup jauh dari jangkauan mereka. Oh, perkara agama? Jangan kau tanyakan itu. Bagi Angku Kadi persoalan agama, ia yang lebih paham tiada duanya.

Dan hari itu, tanpa peduli pada malam yang pekat, gelap yang menyelindap, Dulah datang dengan rambut kusut dan tampang awut-awutan mengetuk-ngetuk pintu rumah Angku Kadi. Kata orang, tidak banyak alasan bagi seseorang mendatanginya. Jikalau bukan untuk mengawinkan perempuan hamil dengan seorang lelaki, pasti untuk melakukan perjanjian kawin kabuang, yang mana Angku Kadi akan mencarikan lelaki untuk menikahi istri si tamu yang sudah ditalak tiganya, lalu sehari setelah akad nikah, ia diceraikan oleh suami sewaannya itu, dan selepas tiga kali datang bulan, perempuan itu akan dinikahkan oleh Angku Kadi dengan si tamu yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami yang sudah menalaknya. Maka pertalian baru disimpul kembali.

Tentu, alasan Dulah adalah satu di antara keduanya.

“Tolonglah Angku. Saya sudah kehabisan akal,” gerutu Dulah. Ia meremas-remas rambutnya yang semakin kusut saja.

Angku Kadi menyengir. Giginya yang tinggal sebiji seperti akan lepas kapan saja dari gusi yang tak ubahnya seperti bibir karang yang berlumut.

“Tenanglah kau Dulah. Ada apa? Istri kau lagi-lagi berulah dan kau lepas lidah?”

Mata Dulah berair. Merah menyala.

“Haha, Dulah! Habis sudah kau Dulah.” Angku Kadi menyengir bukan main buruknya.

“Datuak Itam sudah tahu?” pancingnya.

“Bisa mati saya jika berita ini sampai ke telinganya, Angku! Bisa mati saya!”

“Haha, memangnya kakak iparmu itu akan membunuhmu?” Ia kembali menyengir. Mulutnya menganga bukan main buruknya.

“Dia sudah mewanti-wanti agar tidak terjadi seperti ini, Angku,” terang Dulah. “Namun, di luar kendali saya, Ros cemburu tak menentu, suaranya meninggi, menghardik, mengungkit ini-itu, kalap sudah saya Angku. Talak tiga saya ucapkan!”

“Yang sudah berlalu usah diusik lagi. Kau hendak menungging ke langit pun, Ros tetap saja sudah kau talak, sudah menjadi janda. Kau mau tenggelam ke laut pun, tidak ada yang berubah, kecuali kau mati, anak kau yatim. Hahaha ....” Dulah geram sebenarnya, namun apa daya, ucapan lelaki tua itu benar adanya. Benar seluruhnya.

“Sekarang bagaimana?” tanya Angku Kadi.

“Saya menyesal Angku. Agaknya Ros pun begitu. Ia tersedu-sedu sewaktu saya mengemas baju. Ah, anak-anak saya masih kecil-kecil, belum tahu apa-apa, masih butuh Ayah, masih perlu keluarga yang utuh,” keluh Dulah.

“Haha. Lantas mengapa kau mengucap talak seperti terkentut saja?” Ia kembali membuka mulut dan gelak tawa terdengar keluar dari sana.

“Tolonglah Angku. Carikan solusinya. Carikan siapa saja yang bersedia menikahi Ros. Sebelum Uda Datuak Itam tahu. Sebelum semakin rumit segalanya. Semalam saja Angku. Nikah semalam saja.” Dulah memohon.

Setelah menyeringai kembali, Angku Kadi berujar, “kau punya tebusan berapa? Tukang kabuang tentu harus dibayar dengan upah yang pantas.”

“Tenang saja Angku. Saya sudah sediakan dua ekor kambing. Hari raya kurban tak lama lagi, harga kambing akan melonjak. Tolonglah Angku.”

Lelaki tua itu mengangguk-angguk dengan bibir yang tak henti-hentinya menyengir.

***

Malam itu rinai turun satu-satu. Ros tengah menikmati malam punai. Oh, barangkali tidak. Baginya malam ini hanyalah tunaian syarat. Esok ia akan ditalak oleh suami sewaan Dulah, ayak anak-anaknya, yang kini tengah sebilik sedipan dengannya, lalu setelah tiga kali datang bulan, ia akan menikah kembali dengan Dulah, sebagai perkawinan yang baru, pertalian dengan simpul yang baru.

Ros berdebar-debar. Bukan lantaran ia telah bersuami kembali dengan si tukang kabuang, yang disewa Dulah melalui perantaraan Angku Kadi untuk menikahinya semalam saja dan esok hari menceraikannya, namun dadanya seakan hendak runtuh menunggu pagi yang lambat betul datangnya.

Malam itu, bagi Ros bumi seakan berputar dengan beringsut-ingsut, waktu berjalan lambat, dan menunggu pagi membuatnya merasa tengah sekarat.

***

“Angku bagaimana ini?” Suara Ros meninggi. “Ini ulah Angku. Angku yang meminta persyaratan begitu. Harusnya tak perlu demikian. Lihat sekarang apa yang terjadi!”

Muka Ros merah padam. Ia marah sekali.

“Bagaimana jika Uda Dulah tahu? Kacau semua rencana.” Ros meremas-remas perutnya. Angku Kadi diam saja.

“Kau sudah memastikannya?” Akhirnya lelaki tua dengan satu gigi yang menggayuti gusinya itu angkat bicara.

“Apalagi yang harus dipastikan Angku? Saya telat datang bulan, perut mulai mual, apalagi? Harusnya dua minggu lagi akad kami sudah dihelat. Aaah ....” Ros menjelma seorang perempuan yang kesetanan lantaran kesurupan.

“Tenanglah Ros. Pasti ada jalan keluar,” bujuk Angku Kadi.

“Jalan keluar apa? Ah, semua gara-gara kau, Pak Tua!” hardik Ros.

Sejenak keheningan merayap di antara mereka.

“Usah kaupikirkan perkara itu dahulu. Besok malam datanglah kemari dengan Dulah. Akad kita helat.” Mata Ros melotot.

“Ah, yang benar saja Angku. Masalah sudah runyam begini. Bisa-bisanya kau, aahh ....”

“Kau turuti saja kataku Ros. Masalah perut kau itu, nanti saja kita urus, kau mudah berkilah, Dulah mudah luluh, benar toh? Haha ....” Ia kembali menyeringai.

Maka di malam yang semakin meninggi, malam yang semakin kelam dalam pandangan. Empat lelaki dan dua orang perempuan tengah menuntaskan ritual terakhir dengan diterangi tiga buah dama, lampu sumbu berminyak tanah. Angku Kadi sebagai penghulu, Dulah, Ros, istri Angku Kadi, dan dua lelaki sebagai saksi. Akad dihelat, nikah dengan suara keras mereka sahkan.

Ros tersipu malu-malu. Ros agaknya tak lagi terlalu peduli pada sebentuk makhluk yang mulai bernaung dalam perutnya, juga tak lagi memusingkan amarah Udanya, Datuak Itam bilamana kelak ia tahu yang sesungguhnya. Tak beruda tak apalah, tak bersaudara tak apalah, tak bermamak pun anaknya tak masalah, asal perkara ini usai, urusan selesai, ia tak menjanda, dan suaminya, Dulah yang PNS dengan gaji yang besar itu tak beranjak ke perempuan lain.

Ros dan Dulah tersenyum penuh makna. Angku Kadi menyeringai lebar-lebar, menampakkan giginya yang tinggal sebiji seperti akan lepas kapan saja.(*)



Yusrina Sri. Bergiat di Rumahkayu Indonesia.
ANGKU KADI Reviewed by Yusrina Sri on 05.33.00 Rating: 5 YUSRINA SRI PADANG EKSPRES, 28 JUNI 2015 Malam semakin kelam dalam pandangan. Empat lelaki dan dua orang perempuan tengah menu...

Tidak ada komentar: