DESKRIPSI PROSA - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 16 Juni 2015

DESKRIPSI PROSA

Malam ini tema pembahasan berkenaan dengan deskripsi yang dalam sebuah cerita pendek. Ada pertanyaan yang mendasar dalam kepala saya semenjak pulang dari kanto pukul 5 sore tadi. Sepanjang jalan pikiran saya mengajukan pertanyaan, kalau seseorang mengajukan pertanyaan seputar deskripsi, seberapa banyakkah seseorang itu menulis cerpen dalam setiap minggu? Seberapa banyakkah dia menulis cerpen setiap bulan? Seberapa banyakkah dia membaca cerpen setiap minggu? Seberapa banyakkah dia membaca cerpen setiap bulan? Kemudian saya mengajukan pertanyaan kembali ke pikiran saya. Seberapa seriuskah seseorang itu dalam menggarap cerpen? Seberapa yakinkah seseorang itu bahwa dia memang benar-benar menyukai menulis cerpen? Pertanyaan ini kemudian saya jadikan sebagai pembuka dalam diskusi cerpen yang bertemakan deskripsi pada malam. Bagaimana mungkin seorang cerpenis akan menghasilksan deskripsi yang bagus tanpa dia menulis cerpen setiap minggu, setiap bulan? Bagaimana mungkin cerpenis akan menghasilkan cerpen yang bagus kalau si cerpenis itu sendiri sedikit sekali membaca cerpen-cerpen berkualitas? Pada akhirnya yang seriuslah yang menggarap yang akan menemukan gaya berceritanya sendiri, gaya mendeskripsikan cerita. Kepada para peserta diskusi silahkan mengajukan wacana, pertanyaan dengan memasukkan di coment Anda satu paragrafkarya anda yang mengandung deskripsi. 

ALIZAR TANJUNG I Mafidatul Ilmi I Sebelumnya saya malam ini terlalu bersemangat untuk berdiskusi. Dialog yang barusan Mafidatul Ilmi kirimkan di satu sisi ada yang sifatnya lebih menjelaskan, di satu sisi memang ada unsur deskripsi. Persoalannya deskripsi yang dirimu gunakan sedikit berjarak dengan pembaca dengan adanya kalimat. "Sebuah tahi lalat sebesar biji kacang hijau bersarang di ujung matanya yang kiri. " Deskripsi ini coba atur ulangh susunan kalimatnya, "Kalaulah aku dan Mas Binar lagi lari-lari kecil di bibir pantai, dan aku ditangkapnya, aku memberikan kecupan di tahilalat sebesar kacang hijau di pelipis mata kirinya. Itu sebagi hadia dariku." Kalau seperti ini, ini sudah langsung ke cerita, tetapi kalau kita menjaskan ada "Tahilalat di pelipis matanya sebesar kacang hijau' itu membuat cerita berjarak dari pembacanya. Kemudian Mafidatul Ilmi. Cungkring itu apakah sudah berbahasa sesuai EYD. Rahang kotak dengan formal perlu diperbaiki lagi pengambarannya. Hubungan rahang kotak dengan formal itu sulit ditangkap oleh visual, formal yang seperti apa yang dimaksud." Hal yang terpenting si akunya sebagai orang yang dalam cerita, mesti tergambarkan sedang di mana, lagi ngapain.

ALIZAR TANJUNG I Lisma Laurel I Selamat malam kembali dan salam senyum buat lama ini. "Pada suatu malam" "Pada suatu hari" "Pada suatu senja" "Pada suatu masa". Biasanya teknik ini banyak di pakai dalam cerita dongeng. Baru kemudian masuk ke isi cerita. Sebenarnya ada baiknya juga menggunakan teknik, kalau didukung dengan deskripsi yang hidup. Deskripsikan lebih sabar dan tenang, Lisma Laurel. "Pada suatu malam di hutan lumut belantara, di tengah-tengahnya berdirilah kota para penyihir. Kota itu menjulang sampai ke langit. Setiap rumah di kota para penyihir diterangi cahaya hijau. Cahaya yang keluar dari ujung topi para penyihir. Setiap penyihir menciptakan karya sihirnya sendiri. Kemudan satu di antara penyihir itu, penyihir yang paling lama hidupnya, tetapi tetap berwajah cantik jelita, melahirkan karya fenumenal dua buku dongeng paling ditakuti oleh penyihir dewasa dan paling disukai para penyihir cilik.

Di tengah-tengah kota sihir, di bawah kastil tertinggi kota, di rumah bawah tanah penyihir itu tinggal. Konon sepanjang hari selama dua bulan terakhir ini, dia selalu membakar dua balok kayu berukuran 13 cm X 15 cm, dengan tebal kurang lebih 5 cm diperapian. Dia selalu setia di depan perapian seraya duduk di kursi goyang hitam. Kursi goyang bicara kepada dia. Dia menghidupkan kursi goyang itu sebagai temannya. Buku-buku tua tentang rahasia penyihir berjajar di lemari di belakang punggungnya,

Penyihir membelalakkan matanya ke perapian yang mulai padam. Ranting berterbangan ke perapian. Seketika api kembali membesar. Dan dia kembali menggoyangkan kursinya, membuka buku sihir "Nyanyian Daun Bodi", tepat di halaman 56 baris ketiga. .(nah barangkali ini hanya sedikit gambaran, mudah-mudahan bisa membantu. Buka imajinasimu Lisma Laurel kalau ingin menulis tentang fantasi)
ALIZAR TANJUNG I Elsa Suryani I Hai Elsa. Apa kabar dirimu, tentunya semakin bagus ya ceritanya? ( Aira mengisi paru-parunya dengan tarikan napas panjang. Pandangannya menyapu seisi ruangan yang benar-benar mewah itu. Dari jendela kaca, Aira dapat melihat keluar betapa derasnya hujan kali ini. Pandangannya lalu tertuju pada sebuah foto bayi yang dicetak besar tergantung di dinding. Aira terlonjak kaget saat Pak Halim batuk, meminta perhatian.) Elsa Suryani pada deskripsi Elsa "Aira mengisi paru-parunya dengan tarikan napas panjang" ini kalimatnya sebenarnya bisa disimplekan. "Aira menarik nafas dua kali lebih lama dari biasanya. Pandangannya menyapu seisi ruangan tinggi menjulang berbatu marmer. Jendela kaca besar mengeliling ruangan. Jelas sekali diluar hujan masih deras. Satu kursi panjang berdiri di bawah batang palem. Aira kembali mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sebuah figura bayi menggantung di dinding kaca utara. Elsa deskripsi sebaiknya memang harus bisa menghadirkan pembaca dalam ruangan itu, Elsa. jadi tidak hanya Air yang hadir dalam ruangan itu. Pembaca juga harus hadir. Mewah itu tidak bisa dibayangkan, tetapi kalau dinding kaca besar, atau marmer bisa dibayangkan. Kemudian posisi fotonya juga belum jelas. nah ini penting membuat pembaca hadir dalam cerita kita."
ALIZAR TANJUNG I Majenis Panggar Besi "Deskripsimu saya melihat lebih hidup dari deskripsi sebelumnya yang sudah saya bahas. Memang sebaiknya demikian. Singkatnya begini ketika Yakuza keluar pintu dan masuk lagi dengan mengapit bir di satu tangannya, dan gitar di tangan yang lain, sudah langsung tergambar di otak pembaca bagaimana cara dia menenteng biri. Nah posisi si aku yang sedang duduk belum terbaca oleh saya selaku pembaca, dia sedang duduk di mana. Saya tidak tahu apakah memang tidak ada banyak orang di dalam ruangan jenazah itu. Sejauh ini saya melihat deskripsimu bagus. Sedikit tambahan saya." "Malam semakin dingin. Hujan diluar semakin lebat. Atau bisa jadi ada pilihan lain."
Irna Juliadi I ALIZAR TANJUNG I (Malam semakin kelam. Seorang gadis duduk di dahan nangka. Kepalanya miring 30 derajat ke arah kanan. Wajahnya aneh. Menatapku aneh. Kami berbicara dalam diam.) Nah, lebih baik dimulai berceritanya dari sini, Irna Juliadi. Langsung kepada cerita. Untuk permainan dekripsi dirimu bisa menambahkan seperti ini. Malam semakin gelap. Bulan sabit ditutup awan. Hanya ada satu, dua, bintang yang bersinar dari kejauhan. Seorang gadis duduk di dahan nangka. Lebih tepatnya peri. Rambutnya yang dikucir dua mengeluarkan cahaya keemasan, cahaya itu sekaligus menampakkan matanya yang juga keemasan. Wajahnya aneh, bersinar seperti lampu neon. Menatapku...) Perhatikan penggunaan bintang, cahaya keemasan, bulan sabit. Dari sana pembaca merasa sedang berada di bulan sabit, di bawah langit yang hanya ada beberapa bintang, dan dia sedang bertemu dengan seorang gadis yang bersinar rambutnya, dikucir dua lagi. Semoga bermanfaat.
Diy Ara I ALIZAR TANJUNGI Deskripsi yang Diy Ara saya membacanya dapat hadir dalam cerita. Deskripsimu mampu menghidupkan imajinasi pembaca Diy Ara. Memang seharusnya begitulah sebuah cerita. Cerita tidak sekedar menawarkan makna, atau pesan, tetapi dia juga menawarkan keindahan, fantasi. Deskripsi menarik. Saya suka. Membayangkan besarnya kepada pembaca sekaligus membayangkan ada pohon randu di belakang rumah Sam. Cara deskripsi yang cukup cerdik. Saya apresiasi terhadap cerpenmu Diy Ara.   
 Dina Uswatun Hasanah I ALIZAR TANJUNG I (Malam Kak Alizar Tanjung saya ingin tanya, bagaiaman cara membuat deskripsi yang menarik untuk opening sebuah cerita kak?) Hmmm pertanyaan yang menarik, opening yang berbentuk deskripsi untuk sebuah cerita!! Sebenarnya ini memang bergantung kepada kecerdasan kita untuk memindahkan visual ke dalam bentuk teks, Dina Uswatun Hasanah. Gunakan kecerdasan itu untuk mengolah visual. Sebagai contoh: LIHAT perempuan itu, bukan emas atau berlian di lehernya, tapi ular. Ia memang cantik, semua pemuda di sini tahu itu dan berdecak kagum setiap melihatnya melintas di jalanan desa. Tapi kau mesti tahu kalau ular di lehernya itu berbisa. Dan yang sangat mengerikan lagi, ular itu hanya patuh pada majikannya. (Meisa dan Ular di Lehernya, Cerpen Maltuf A Gungsuma (Suara Merdeka, 25 Januari 2015) Kita langsung terbayang ada ular berbisa di leher seorang perempuan saat pertama kali membacanya. Kecerdasan untuk mengimajinasikan memang diperlukan dalam diri seorang cerpenis. Dina Uswatun Hasanah ini salah satu contoh lagi cerpen yang dimulai dengan deskripsi di awal "DI luar sana, langit telah rata berselimut mendung. Hujan mulai merintik sejak beberapa menit lalu. Perempuan muda berparas ayu khas Jawa itu masih berdiri, bergeming di tepi jendela kamarnya." (Sebelum Pesawat Itu Jatuh, Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 25 Januari 2015)) Membaca pembuka cerpen ini kita tahu, langit mendung, hujan mulai rintik. Seorang perempuan jawa berparas ayu berdiri di bibir jendela." Inilah yang disebut dengan kelihaian pengarang menghidupkan cerita.

Anggarani Ahliah Citra I ALIZAR TANJUNG I (Kapal-kapal kayu pinisi berusia puluhan tahun berjejer di pinggir dermaga. Debu-debu bertebaran di aspal gersang menemani perjalananku siang ini.
Tatapan mata yang bertemu dengan paparan matahari memberikan siluet nanar saat menyapu semua bagian Pelabuhan Sunda Kelapa, tempat bersejarah di Jakarta penuh kisah kehidupan yang jauh dari kata manis.) Paragraf pertama itu sebaiknya dipecah menjadi paragraf. Karena ada dua ide dalam satu paragraf, Anggarani Ahliah Citra. Susunan kalimat juga mempengaruhi cerita kita. Paragrafnya akan lebih cocok kalau kita buang kalimat kedua dari cerita ini, seperti : Kapal-kapal kayu pinisi berusia puluhan tahun berjejer di pinggir dermaga.
Tatapan mata yang bertemu dengan paparan matahari memberikan siluet nanar saat menyapu semua bagian Pelabuhan Sunda Kelapa, (tempat bersejarah di Jakarta penuh kisah kehidupan yang jauh dari kata manis.) sedangkan kalimat ini lebih seperti penjelas dalam cerita, kalau ada kalimat yang lain sebagai pengganti sebaiknya gunakan kalimat yang lebih mendeskripsikan yang membuat pembaca lebih tertarik lagi.
Nurmasf Fiverthefunnys I ALIZAR TANJUNG I ( bgaimana menciptakan deskripsi yang belum jelas kita ketahui menjadi jelas. Misalnya tentang tempat yg belum kita lihat? Dan sbrapa bnyak deskrisi yg dperlukan dlm sbuah cerpen.) Barangkali maksudnya Nurmasf Fiverthefunnys bagaimana membuat deskripsi itu membuat pembaca merasa hadir di dalamnya, seperti gambaran tempat, atau suasan. Nurmasf Fiverthefunnys, sebenarnya gampang Nurmasf Fiverthefunnys. Misalnya kita ingin menggambarkan tempat, kemudian orang, biar tidak terkesan terpisah orang dan tempatnya. Salim bersiul-siul ria lagu "Ayam Den Lapeh' dari atas punggung Roman, kuda putih kesayangannya. Sekarang dia dan Roman menelusuri jalan becek, terjal. Butuh 30 menit lagi untuk sampai di pusat kampung. Kemudian dia berhenti sejenak di tepi jalan yang sedikit lebih landai, memandang ke barat ke Puncak Gunung Talang. "Hari yang menyenangkan," ujarnya sembari menepuk kudanya. Mereka sekarang menelusuri jalan berbatu. Kalau Nurmasf Fiverthefunnys sedang berjalan terjal pasti terbayang batu, kerikil, rumput, apa yang bisa dijadikan sebagai tempat berpegangan. Cerita memang harus bisa pula menghadirkan yang terbayang itu.


Kepada peserta diskusi cerpen malam ini. Sesuai dengan tema kita "deskripsi". Deskripsi itu ibarat kita membuat sebuah film pendek. Beberapa orang penulis menyebutnya dengan teknik Show. Ada yang menyebutnya dengan bercerita, bukan menceritakan. Teknik show ini sudah lama digunakan oleh para penulis-penulis besar. Kalau hari ini kita membaca novel-novel terjemahan, kita menemukan teknik show ini begitu kental dengan karya-karya mereka. Dalam novel English, Kira-kira karya Chintia Kadohata, The Good Thief, kita akan menemukan teknik show. Ketika ini digunakan dengan maksimal kita memang akan benar-benar tidak berkedip membaca, ingin membacanya terus. Begitulah teknik show membuat cerita menjadi hidup dan bertenaga. Setiap kita memang memiliki gaya bercerita sendiri Pertanyaanya seberapa dalamkah kita menguasai gaya bercerita kita? Ide itu mungkin memang biasa, tetapi ketika diolah dengan cara yang tidak biasa maka dia akan menjadi cerita yang luar biasa. Dengan kalimat penutup ini, diskusi malam ini kita cukupkan..

ALIZAR TANJUNG / 16/06/2015
DESKRIPSI PROSA Reviewed by rumahkayu on 06.25.00 Rating: 5 Malam ini tema pembahasan berkenaan dengan deskripsi yang dalam sebuah cerita pendek. Ada pertanyaan yang mendasar dalam kepala saya seme...

Tidak ada komentar: