SEPUH - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 28 Juni 2015

SEPUH


Cerpen Astriani Sefitri


Tempat ini yang menjadi tempat favoritku sejak 2 tahun yang lalu gang sempit di salah satu sudut kota Bandung. Tidak banyak orang-orang yang melewati gang ini, kebanyakan orang takut melewatinya, bukan karena hawa mistisnya, belum pernah ada warga yang lewat melihat pocong goyang-goyang sendiri, kuntilanak sedang menyisir rambut, atau tuyul yang mondar-mandir sibuk menghitung uang. Tapi karena gang ini, penuh dengan hawa criminal. Banyak kejadian  pemalakan, perampokan bahkan pernah ada yang dihipnotis dan kemudian seluruh hartanya dikuras habis di gang ini, selain itu gang ini sering di jadikan tempat berlindung anak-anak dari kejaran polisi setelah selesai adu jotos dengan musuh sekolahannya.

            Di pojok luar dari gang ini ada sebuah warung kecil yang menjual berbagai macam makanan, terkadang aku sering memesan mie instan dan kopi putih kesukaanku. Mie instan buatan ibu warung menurutku sangat berbeda rasanya dengan mie instan buatanku dirumah. Meskipun bahan yang digunakan tetap sama, berasal dari mie, tetapi ada rasa plus tersendiri yang aku rasakan ketika menyantap mie instan buatan ibu warung ini.

            Panas matahari semakin hari semakin menantang, energi panas yang dipancarkan hampir membuat tubuhku melepuh, merubah warna kulitku dari yang berwarna coklat manis jadi hitam legam.  Memang tidak bisa 100% menyalahkan alam yang semakin hari semakin tidak bersahabat kepada penghuninya, manusianya sendirilah yang berbuat seenaknya kepada alam, gemar mengendarai sepeda motor atau mobil yang membuat polusi udara semakin bebas berkeliaran, selain itu, tumbuhan yang seyogyanya bisa menjadi paru-paru kota kini banyak yang ditumbangkan dengan paksa demi berdiri tegaknya gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan dan hotel-hotel mewah, sehingga tidak perlu aneh jika banjir dimana-mana mulai terlihat itu akibat ulah manusia sendiri. Aku terus menghapus peluh keringat yang terus mengucur dari dahi ke wajah, kemudian dari leher ke badan, sampai kemeja putih yang sedang ku pakai terlihat lebih transparan karena jiplakan keringat basah yang menempel pada kemejaku.

            “ Teu ngiring tawuran?” Tanya ibu penjaga warung yang memang sudah kenal akrab denganku. Setiap pulang sekolah, seharipun aku tidak pernah absen mengunjungi warung ini, hanya sekedar untuk duduk santai sambil menikmati mie instan favorit dan segelas kopi putih buatan Bu Jejen, sapaan pemilik warung ini.

            “ Lagi gak ada schedule bu” jawabku enteng. Aku berpikir sejenak memang alangkah lebih baiknya jika tawuran itu seharusnya ada jadwal,  terutama untuk menghindari kejaran aparat keamanan yang berdalih ingin menertibkan murid-murid yang terlibat tawuran. Aku jadi ingat sekitar 2 bulan yang lalu aku pernah terlibat aksi serang ke sekolah swasta yang merupakan musuh utama dari sekolahku, nothing problem sebenarnya hanya menyangkut harga diri, sebelumnya kami pernah adu jotos dengan sekolahan serupa tapi disaat itu kamilah yang kalah hingga akhirnya kami selalu dipandang remeh setiap lewat depan salah satu siswa SMA itu.

            “ Aneh pisan euy, naha tawuran teh pake schedule sagala? Emangna artis kitu aya schedule” sindir bu Jejen sambil memberikan sepiring gorengan yang telahku pesan sebelumnya. Aku geli sendiri mendengar ocehan bu Jejen, tidak mungkin tawuran itu di schedule, hari ini tawuran dengan sekolah mana, besok dengan sekolah mana, bulan depan dengan sekolah mana, tahun depan mungkin bisa mengajak tawuran anggota-anggota dewan.

            “ Manusia hidup penuh dengan harga diri bu, kalau bu Jejen gak punya harga diri, mungkin dagangan ibu gak akan laku” aku mengangkat bala-bala buatan bu Jejen mencoba memberi penjelasan sejelas-jelasnya melalui sebuah objek yang berada di depan mata.

            “ Hubunganna naun bala-bala ibu jeung eta harga diri?” Bu Jejen semakin penasaran. Aku semakin geli melihat Bu Jejen bertingkah seperti itu. Aku tidak menuntaskan penjelasanku, biarlah bu Jejen penasaran.

            Hari ini aku pulang kerumah lebih awal, rumahku terletak di sebuah perkampungan di daerah Bandung, tepatnya di belakang gang favoritku ini. Ukuran rumahku tidak terlalu besar, tentunya dibanding rumah-rumah yang berjejer megah di dekat rumahku. Aku mempunyai seorang adik perempuan bernama Elin yang baru berusia 10 tahun, disekolah Elin terkenal pintar, setiap tahun selalu menjadi bintang kelas, selain itu Elinpun terkenal dengan tulisannya disekolah yang setiap minggu selalu menjadi langganan madding di sekolahnya, berbeda jauh kalau dibandingkan denganku, di bilang pintar, tidak. Untuk mendapatkan nilai 8 di setiap mata pelajaran saja susahnya minta ampun. Ayah dan ibuku sudah lama tidak pernah menginjakkan kaki dirumah ini, tidak tahu kemana rimbanya, rasanya aku dan Elin seperti dibuang, di rumah ini memang ada kakekku yang bersedia dengan tulus mengurusi kami. Aku sebagai anak laki-lakipun tidak tinggal diam, aku berusaha membantu kakek untuk menopang ekonomi keluarga kami. Saat sore hari aku berjualan plastik di pasar baru Bandung, dimana sudah menjadi surganya orang belanja dari berbagai penjuru kota datang, bukan hanya lengkap tapi harga-harga  barang di tempat ini cukup murah.

            “ Kak, liat deh” Elin menghampariku ketika aku baru sampai dirumah. Elin menunjukan sebuah kertas dan terdapat tulisan tangan di didalamnya.

            “ Ini apa lin? Kamu bikin puisi?” Tanyaku ketika melihat isi tulisan itu berbait-bait. Elin tidak menjawab, hanya sebuah senyum kecil dari sudut mulutnya dan tatapan berbinar menunjukan kalau memang hari itu dirinya telah menyelesaikan puisi hasil goresan penannya. Aku  melemparkan senyum kepada elin dan mulai membaca puisi buatannya.

            Dialah kakaku

Sosoknya urakan, tak pernah dandan, dan ganas….
Kulitnya hitam legam selalu terbakar oleh sinar matahari yang panas…
Peluhnya selalu bercucuran, keringat yang menetes selalu tak terhitung pantas…
Dialah kakaku…..
Di balik tatapan matanya yang sangar, tersimpan cinta yang dalam, untukku….
Di balik wajahnya yang masam, tersimpan kerinduan yang dalam, untukku….
Di balik gerak tubuhnya yang kasar, tersimpan kasih sayang, untukku…..
Di balik suaranya yang besar, yang mampu menggema setiap sudut rungan, bak halilintar yang datang sebelum hujan turun, tersimpan kelembutan, untukku…..
Dialah kakaku…..
Yang tak pernah memejamkan matanya sebelum kelopak mataku tertutup rapat….
Yang tak pernah marah meskipun aku kerap menyulut amarahnya….
Yang tak pernah membuat goresan di tubuhku, ketika sikap kekanak-kanakanku mulai menyeruak keluar…
Dialah kakaku……

Selesai membaca beberapa bait puisi goresan Elin, aku melempar senyum kepadanya. Adikku ini memang pandai sekali menulis, dan inilah salah satunya puisi yang menurutku sangat indah dibaca. Meskipun penggamaran aku dalam puisi itu terlalu berlebihan. Aku memang sangat menyayangi Elin, karena hanya dialah penyemangat hidupku, harta satu-satunya yang ditinggalkan ayah dan ibu sebelum mereka raib bak ditelan bumi.

            “ Kakak suka sama puisi Elin?” Tanya Elin menatap mataku penuh harap. Aku tidak menjawab hanya sebuah anggukan pelan kuberikan untukknya. Elin langsung memelukku erat aku bisa merasakan betapa kasih sayangnya begitu besar kepadaku, perasaan yang kurasakan sepertinya sama dengan Elin.

            Cahaya sinar matahari mulai menurun, senja rupanya akan muncul. Beberapa plastik yang kujajakan belum juga berkurang jumlahnya, sepertinya hari ini aku tidak akan membawa uang cukup banyak kerumah. Aku menarik nafas panjang, mengeluarkan handuk kecil dari saku celana menghapus keringat yang sedari tadi bercucuran tiada henti. Sulitnya mencari uang ditengah kehidupan yang serba mahal ini, biaya sekolah tak lagi murah, sembako tidak bisa dibeli dengan harga rendah. Aku mendongakan kepalaku ke atas menatap langit yang masih sedikit terlihat cerah, ada sudut hatiku yang lain mulai berbicara tentang diriku sendiri. Aku memang anak pertama, dan suatu saat nanti aku akan menjadi topangan hidup untuk Elin, aku adalah seorang kakak yang menurut Elin adalah kakak yang baik, tapi seandainya Elin tahu betapa brandalnya aku ini ketika diluar rumah, di sekolah aku tidak pernah datang tepat waktu, omelan-omelan gurupun sudah tidak pernah aku dengar, setiap pelajaran tak jarang aku selalu mengganggu temanku entah yang duduk di sampingku, di depan, di belakang, atau dipojok. Sepulang sekolah aku selalu berkumpul dengan teman-temanku yang sama brandalnya dengan diriku, berkumpul membentuk strategi untuk mengalahkan musuh. Musuh sekolahku letaknya tidak jauh hanya beberapa kilometer dari sekolah. Ada masalah ataupun tidak, aku dan teman-temanku tidak pernah memperdulikannya. Kejadian beberapa bulan yang lalu, tentang kekalahan sekolahku melawan mereka itu tidak bisa dilupakan begitu saja sampai ada beberapa teman seperjuanganku yang terluka akibat kejadian itu, bukan cuman itu saja kejadian itu juga sudah menjadi cukup bukti bahwa harga diri kami terenggut dan diinjak-injak oleh mereka.

            Saat aku sedang menikmati langit luas di atas sana, menikmati secercah sinar yang perlahan-lahan mulai pudar karena terenggut senja, tiba-tiba aku merasa ada yang melempar sesuatu yang menyentuh kepalaku. Sebuah gulungan kertas, akupun menengok ke belakang, mencoba mencari-cari siapa yang melempariku dengan gulungan kertas ini, mataku menyapu seluruh area pasar ini, mencoba mencari sosok yang sedang ingin mencari perkara denganku tapi ternyata nihil. Hanya orang yang masih sibuk berlalu lalanglah yang aku tangkap dan beberapa penjual yang masih aktif menjual barang dagangnnya.  Gulungan kertas yang berada di tanganku mulai menarik perhatianku, aku membuka gulungan kertas itu dan ternyata di dalamnya ada sebuah tulisan, aku kira tulisan itu hanyalah tulisan biasa, orang yang melempari gulungan itupun tidak sadar akan tulisan itu tapi setelah sekian detik aku berpikir, aku rasa orang yang melempari gulungan kertas ini sengaja menulis ini untukku, menggulungnya kemudian di lempar kepadaku. Gulungan kertas ini memang ditujukan untukku.

‘Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sampai kapan kau akan tetap menjadi orang dungu?! Berapa uang yang harus di habiskan kakekmu untuk menyekolahkanmu? Tapi kau tetap dungu!!’

Aku meremas-remas kertas itu usai membaca isinya. Batinku mulai bergejolak, sepertinya ada orang yang ingin menyulut amarahku, aku melempar kertas itu sampai tersungkur di lantai. Mataku mulai menatap tajam kesegala penjuru, berusaha menemukan orang yang sedang ingin merasakan bogemanku. Kakiku terus kutuntun menuju setiap sudut area pasar ini, tidak kupedulikan pedang-pedagang yang sudah memulai menutup kiosnya atau para pembeli yang sudah mulai surut, yang terpenting saat ini menemukan orang yang sengaja mengataiku “bodoh dan dungu” sebelum dia merasakan bogem mentahku, aku tidak akan bergegas pulang.

         
   Keesokan harinya aku tidak dapat berkonsentrasi penuh, aku masih saja sibuk dengan semua prasangkaku tentang seorang yang dengan beraninya menghinaku. Benar- benar tak bisa diberi ampun! Gerutuku dalam hati. Mata pelajaran sejarah masih berlangsung, bu daryani guru sejarahku pun masih berkicau di depan kelas memberi penjelasan panjang lebar mengenai sejarah perkembangan kerajaan islam Indonesia. Sudah beberapa kali mulutku membuka dan menutup merasakan kantuk yang luar biasa, buku tulis yang tergeletak di depanku pun sudah penuh dengan coretan-coretanku, coretan yang menggambarkan kekesalanku pada kejadian kemarin sore di pasar, seseorang yang menimpukku dengan kertas gulung dan mengataiku “bodoh dan dungu” rasa penasaranku masih mendomanasi. Entah dari mana pikiran itu datang, tiba-tiba terbesit salah satu siswa dari musuh sekolahku ini yang bernama wahyudi, bukankah dia juga berdagang di pasar yang sama denganku. Iya, mungkin Wahyudi.

            Sepulang sekolah aku mengumpulkan teman-teman seperjuanganku untuk merencanakan penyerangan ke musuh sekolah ini. Aku menjelaskan panjang lebar, bahwa salah satu anak sekolah itu yang bernama Wahyudi sudah mencari-cari perkara denganku, kemarin dia melempariku kertas gulung tepat mendarat di kepalaku dan dia menghinaku dengan sebutan dungu dan bodoh. Mendengar hal itu teman seperjuangnkupun mulai berapi-api untuk menyerang sekolah itu.

            “ Yang cari masalahkan wahyudi,gimana kalau kita bantai saja wahyudi!” Tono memberi ide kepada kami. Setelah berunding agak lama, akhirnya kami sepakat untuk member sedikit pelajaran kepada  Wahyudi.

            Siang ini dimana panas mulai menjalari tubuh kami, antara panas matahari dan panasnya hati. Aku bersama teman- temanku mulai mengintai Wahyudi di sebrang jalan sekolahnya. Berharap menemukan batang hidungnya diantara ratusan siswa yang mulai berhamburan keluar gedung sekolah. Akhirnya aku dan teman- temanku menemukan sosok yang sedari tadi kami cari. Salah seorang temanku yang sudah melepas seragamnya terlebih dahulu dan menggantinya dengan kaos sudah siap dengan peranya untuk membawa Wahyudi masuk kedalam perangkap kami. Kemudian salah satu temanku mulai berjalan mendekati Wahyudi dan merangkulnya kemudian membawa Wahyudi ke gang yang tak jauh dari sekolahnya. Setelah sampai di gang aku dan teman- temanku yang lain mulai beraksi menyeret tubuh Wahyudi masuk kedalam gang. Seragam sekolah yang sudah tertutup debu, dan badannya yang sudah mulai lemas tidak menyurutkan niat kami untuk memberikan pelajaran kepada Wahyudi. Bertubi-tubi bogem mentah di daratkan ke wajah dan tubuh Wahyudi, setetes darah mulai keluar dari sudut bibir dan hidungnya, Wahyudi tersungkur tak berdaya, kini saatnya giliranku memberikan bogem mentah terakhir untuknya. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat, dan mulai melayangkan tanganku ke wajah Wahyudi, bogem mentahku ini mampu membuat wahyudi tersungkur kembali.


Semenjak kejadian itu, dimana Wahyudi menjadi bulan-bulanan aku dan teman seperjuanganku, sering kami di serang oleh musuh sekolah kami. Atas dasar kesetiakawanan, kami pun menyerang balik mereka, kejadian saling serang ini, sepertinya sudah menjadi pemandangan biasa yang akhir-akhir ini kami pertontonkan kepada masyarakat sekitar tak jarang membuat mereka resah dan akhirnya melaporkan aksi kebrutalan kami ke pihak berwajib. Sudah beberapa kali juga kakek di panggil oleh pihak berwajib, kakek hanya di suruh mengawasiku lebih baik supaya aksi kebrutalan ini tidak lagi terjadi.

Di rumah, berulang kali aku mendengar kakek menasehatiku, entah kenapa nasihat kakek tidak mampu menyentuh hatiku di pikiranku saat ini adalah bagaimana harga diriku bisa ku rebut kembali, bukankah perkataan Wahyudi dengan mengataiku “bodoh dan dungu” merupakan pelecahan? Yang mampu menginjak-injak harga diri yang selama ini kubangun dengan susah payah. Berbicara tentang Wahyudi, setelah peristiwa pengeroyokan itu aku tidak pernah melihat wahyudi di sekitar pasar, bahkan kios yang biasa di jadikan tempat berdagangpun sudah tidak pernah terlihat. Akh! Untuk apa aku memikirkan orang yang telah menginjak-injak harga diriku, ini pikirku.

Untuk menenangkan sedikit pikiranku, aku memutuskan tidak berdagang hari ini, aku ingin menghabiskan banyak waktuku untuk bersantai, menghirup udara bandung yang sudah sedikit terkontaminasi dengan asap-asap kendaraan.

            “ Rokok sama kopi bu!” pintaku saat aku tiba di warung favoritku di ujung gang tempat dimana menjadi saksi bisu kebrutalanku membabi buta, menghajar Wahyudi tanpa ampun.  Tidak perlu menunggu terlalu lama, Bu Jejen datang membawa baki berisi kopi putih dan beberapa gorengan juga sebatang rokok yang kupinta.

            “ Gak pesen gorengan bu” kataku mengambil sebatang rokok kemudian membakar ujung rokok itu dengan api dan menghisapnya. Hanya sebatang rokok dan segelas kopi putih inilah yang sedikit mampu menjernihkan pikiranku kembali.

            “ Eh, di, ibu teh masih penasaran, maneh teh pernah bilang ka ibu lain, aya hubunganna harga diri jeung bala-bala”  Bu Jejen memandangaiku dengan tatapan penuh harap mendapat sambutan dariku. Aku memperhatikan wajah bu Jejen di sampingku, masih terlihat ada sisa-sisa rasa penasaranya tentang kejailanku waktu itu.

            “ Dengerin ya bu, harga diri itu gak boleh sama kaya bala- bala ini, itu artinya harga diri ibu gak boleh semurah harga bala-bala ini” aku memberikan penjelasan singkat. Dalam hatipun aku kurang yakin dengan apa yang barusan aku ucapkan.

            “ Oh…kitunya, leres pisan lamun kitu mah, harga diri teh kudu awis” ucap bu Jejen sambil beranjak pergi dari hadapanku. Setelah puas menghabiskan sebatang rokok dan segelas kopi putih aku langsung bergegas pergi menuju rumah. Tidak seperti biasanya rumah ini tampak begitu sepi, tidak ku dengar tv yang menyala yang biasanya setiap sore kakek selalu menghabiskan waktu di depan layar tv, sosok elinpun tidak aku temukan, biasanya sore hari Elin selalu menghabiskan waktu membaca atau belajar di kamar.  Entah kemana kakek dan Elin pergi, rumah jadi begitu sepi. aku menyalakan tv dan mengubah-ubah channel mencari acara yang menarik mataku untuk menontonnya, tapi sepertinya acara sore ini lebih didominasi dengan acara gossip murahan, tentang artis yang hobi gonta-ganti pacar, pernikahan yang seumur jagung mengganggap pernikahan sama dengan pacaran, dan pereseturuan yang kebanyakan dibuat-buat. Aku mengganti channel ke acara selanjutnya, di acara lainnya sedang ramai diberitakan tentang tawuran antar pelajar yang semakin marak terjadi dimana-mana. Aku tersenyum kecil menyimak berita itu, seharusnya mereka paham dimana harga diri itu lebih penting dibanding adu jotos yang sering di besar-besarkan. Aku mematikan TV dan berjalan menuju kamar Elin, kamar adik kecilku ini selalu rapi, tidak pernah sekalipun aku melihat kamar ini berantakan, beberapa tumpukan buku tertata rapi di meja belajarnya, pandangan kupun beralih ke sebuah tas kecil berwarna merah hati yang tergeletak di mejanya. Aku ingat saat Elin berulang tahun, tas itulah yang aku berikan untuknya, saat itu Elin tidak mempunyai tas bagus untuk dipakai kesekolah, banyak lubang-lubang kecil yang terlihat disetiap sudut tasnya. Tas pemberianku itulah, meskipun tidak mahal tapi sangat berkesan untuk Elin. Aku meraih tas itu, tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh kakiku, beberapa gulungan kertas jatuh kelantai, aku mengerutkan kening, menatap heran, tiba-tiba aku ingat gulungan kertas yang di lempar wahyudi yang mendarat pas di atas kepalaku, gulungan kertas yang mampu menyulut amarahku, gulungan kertas yang isinya menginjak-injak harga diriku. Aku memungut gulungan kertas itu dan mencoba membuka isinya, aku tersentak kaget begitu mengetahui isinya sama dengan isi dari kertas gulung yang beberapa lalu menyulutkan amarahku.

‘Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sampai kapan kau akan tetap menjadi orang dungu?! Berapa uang yang harus di habiskan kakekmu untuk menyekolahkanmu? Tapi kau tetap dungu!!’

Tiba-tiba ada sesuatu yang terasa sesak didada, seperti ada sebuah tombak yang menembus jantungku. Apa mungkin Elin yang melakukannya? Belum sempat pikiranku berlari jauh,entah sejak kapan datangnya Elin sudah berdiri di sampingku. Aku menatap matanya dengan penuh keheranan, sepertinya Elin mengetahui arti tatapanku padanya.

            “ Maaf kak, itu Elin yang buat” kata-kata yang tidak kuharapkan ternyata keluar dari mulutnya. Aku tersentak kaget, tubuhku di buat kaku seketika, aku tidak  menyangka ternyata Elin lah yang melakukannya tapi tunggu dulu, aku harus selidiki apa mungkin Elin juga yang melempar gulungan kertas ke kepalaku saat di pasar beberapa waktu yang lalu.

            “Termasuk melempar kertas kekepala kakak di pasar?” tanyaku menyelidiki. Sesaat Elin terdiam, tiba-tiba setetes air jatuh mengalir di pipi merahnya. Aku mencoba mencari-cari jawaban akan hal itu, tak kutemukan dari tatapan matanya yang terus membidik ke arahku. Sebuah anggukan pelan akhirnya menjadi jawaban.  Hatiku hancur berkeping-keping, teiris-iris halus sampai tak sanggup lagi aku merasakannya, aku menghela nafas panjang, aku tidak menyangka Elinlah yang membuat tulisan itu yang menurutku sangat menjatuhkan harga diri. Tentang Wahyudi? Aku telah menuduhnya yang melakukan, atas dasar dialah orang yang berdagang di satu tempat yang sama denganku. Aku menutup kedua wajahku dengan telapak tangan, rasa penyesalan mulai menyelinap masuk dan menyesaki rongga dada. Wahyudi yang ku tuduh itu, sudah menjadi korban aksi kebrutalan aku dan teman-temanku tanpa pernah mau menyelidiki lebih jauh tentang tuduhanku, kami main hakim sendiri tidak peduli tuduhan yang kami tunjukan itu benar atau tidak.

            “ Kak!” Elin memanggilku, aku menatapnya kembali. Sekilas aku melihat rasa penyesalanpun hadir di hati Elin.

            “ Tadi, kakek dan Elin habis menghadiri pemakaman Kak Yudi, apakah kakak kenal?” Elin bertanya dengan mata berbinar. Aku mengangguk kepala cepat

            “ Wahyudi, katanya dia juga dagang di pasar, tadi Elin dan kakek baru pulang dari pemakaman Kak Yudi” jawaban Elin langsung meremas-remas jantungku. Tuhan! Wahyudi meninggal! Apa ini karena ulahku? Wahyudi tidak bersalah, aku lah yang terlalu gegabah! Dengan mengatasnamakan harga diri aku main hakim sendiri. Tidak pernah mau mendengar penjelasan orang yang kutuduh itu. Tuhan, dosaku besar! Apa mungkin kejadian ini akan menyeretku ke balik jeruji besi, pikiranku semakin kalut terus bertanya dan menyalahkan diri sendiri.

            “ Bukan salah kakak, Kak Yudi meninggal karena sakit jantung, dari kecil kata ibunya, Kak Yudi sudah menderita penyakit jantung bawaan” Elin sepertinya sudah tahu isi hatiku, kata-katanya mampu membuatku sedikit tenang. Bukan salahku? Apa Elin tahu kasus pengeroyokan itu? Pikirku. Elin mulai menceritakan panjang lebar, orang tua Wahyudi sudah mengetahui anaknya korban pengeroyokan, dan aku lah salah satu tersangka pengeroyokan itu, awalnya orang tua Wahyudi sangat marah dengan hal tersebut, sore hari beberapa waktu yang lalu, orang tua Wahyudi datang ke rumah dan langsung memaki-maki kakek. Elin yang tengah belajar mendengar kegaduhan di depan langsung beranjak pergi dari kamar. Orang tua Wahyudi meminta pertanggung jawaban, bahkan sempat akan melaporkan aku ke polisi atas kasus penganiayaan. Tapi sebelum niat itu terlaksana, Wahyudi melarang, dia tidak ingin kasus ini semakin besar, bukanlah karena takut, tapi Wahyudi tahu bahwa jika kasus ini terus melebar dan menguak ke permukaan bukan hanya sebagian siswa yang akan saling menyerang satu sama lain, tapi bisa jadi seisi sekolahpun akan saling serang satu sama lain. Niat diurungkan, kondisi Wahyudi semakin hari semakin parah, sepertinya ada bogem mentah yang didaratkan tepat di dekat jantungnya, sampai membuat keadaan jantungnya tidak stabil, kondisi Wahyudi saat di periksa ke dokter dengan menggunakan EKG pun terlihat buruk, untuk itu Wahyudi sangat dianjurkan untuk mengurangi aktifitas dan isitirahat total dirumah. Tapi pada akhirnya benar saja anjuran dokter itu, Wahyudi bukan saja istirahat total di rumah tapi juga istirahat total dari bengisnya dunia.

            Lututku mendadak lemas, mulutpun berubah kelu, air mata yang selama ini tidak pernah aku keluarkan karena harga diripun kini melebur, aku tidak menyangka orang yang sudah aku tuduh macam-macam tanpa bukti masih mau membelaku di depan orang tuanya, di saat orang tuanya hampir menyeretku masuk ke jeruji besi. Tuhan! Ampuni aku. Aku berlutut dan tersungkur di lantai, menangis sejadi-jadinya, kali ini aku sama sekali tidak ingin memikirkan harga diri, atas nama harga diri yang salah aku tafsirkan mampu menghilangkan nyawa orang begitu saja. Sekarang bagiku, Wahyudi adalah seorang sepuh, bukan karena umurnya yang menginjak senja, bukan, Wahyudi masih terlalu muda,  tapi karena dia mampu menjadi cerminan untukku supaya tidak salah lagi menafsiran sebuah harga diri hanya sebatas isi surat yang terdengar mencela, tapi harga diri itu justru ada ketika kita mampu mempertahankan sesuatu hal yang memang menjadi prinsip kita, cara Wahyudi yang tidak membalas perbuatanku pun, sudah bisa menjadi panutan untukku agar segala jenis kejahatan tidak mudah mengendap menjadi dendam yang menyuluh kobaran api dan dapat membakar apa saja didekatnya sehingga menimbulkan banyak korban berjatuhan. Wahyudi sepuhku, panutanku, patokanku untuk lebih bijak bertindak, demi sepuhku, aku akan berusaha mengoreksi harga diri yang aku tafsir dan mempertahankan sebuah harga diri dengan cara yang lebih mulia.

TAMAT



SEPUH Reviewed by rumahkayu on 15.32.00 Rating: 5 Cerpen Astriani Sefitri Tempat ini yang menjadi tempat favoritku sejak 2 tahun yang lalu gang sempit di salah satu sudut kota Band...

1 komentar: