Ramadan yang Mengancam (Terbit di Riau Pos 28 Juni 2015) - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 08 Juli 2015

Ramadan yang Mengancam (Terbit di Riau Pos 28 Juni 2015)

Ramadan yang Mengancam
Oleh Mustopa Kamal Btr


Surga dunia telah Romi rasakan di tengah hiruk-pikuk kota Pekanbaru ini. Sepuluh ruko besar, Lima mobil mewah dan tabungan uang yang banyak di bank telah jadi jaminan hidup keluarganya sampai tujuh keturunan. Dua anak laki-laki dan satu perempuan menambah kebahagian hidupnya bersama sang istri, Rahma. Apa yang dia inginkan bisa segera ia dapatkan, karena gelimang harta yang ia punya.
 Tapi apa yang Romi bayangkan tidak seindah kenyataan. Sudah beberapa hari ini ia tidak berdaya untuk berdiri. Sekarang ia hanya bisa duduk di kursi roda. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba penyakit aneh ini menimpanya. Mendung mulai menghampiri kehidupannya, surga dunia yang telah lama ia rasakan berubah jadi neraka.
Kini, hari-hari Romi lalui dengan cerita pilu menyayat hati. Ia mulai jenuh duduk di kursi roda itu, ia ingin kembali merasakan kebahagiaan hidup seperti dulu. Ia rindu momen pergi ke luar negeri untuk rekreasi bersama keluarga, ia rindu nongkrong-nongkrong di kafe. Ia ingin sekali kembali menjadi burung cakrawala yang bisa mengepakkan sayapnya.
“Papa makan dulu ya, biar mama suapin” sahut istrinya, sambil membawa sepiring nasi.
Papa lagi nggak selera makan ma, papa jenuh duduk di kursi roda ini terus”
“Iya Pa, mama tau. Papa harus makan dulu, biar sehat. Nanti sore biar kita kembali berobat ke rumah sakit”
“Iya Ma”
Seorang wanita yang sedang membeli keperluan terlihat menanyakan keadaan Romi kepada karyawan tokonya. Wanita yang sedang memakai baju dinas itu terheran-heran melihat Romi sedang duduk di kursi roda.
Pak Romi sakit ya?”
“Iya. Sudah satu minggu ini bapak sakit”
“Sakit apa?”
“Penyakitnya sangat aneh, bapak tiba-tiba gak bisa berdiri. Dokter belum bisa memastikan penyakit yang diderita beliau”
“O kasihan ya”
Karena penyakit yang Romi derita tak kunjung sembuh setelah berobat di berbagai rumah sakit terkemuka di Indonesia. Atas kesepakatan keluarga, ia dibawa berobat ke Amerika. Ia berobat di salah satu rumah sakit terkenal di negara adidaya itu. Walaupu sudah berobat di sana, namun hasilnya tetap saja nihil. Romi tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia hampir putus asa dan ingin bunuh diri saja, setelah sekian lama ia hanya bisa duduk di atas kursi yang tidak diinginkan itu.
Malam yang hening dihiasi rembulan setengah redup. Istri dan anak-anak Romi menatihnya ke ranjang tidur. Dengan sekuat tenaga mereka mengangkat Romi dari kursi roda ke tempat tidur berwarna biru itu. Iapun berbaring tuk menuju alam bawah sadar.
Detak jarum jam menunjukkan pukul tiga dinihari. Remaja perumahan terdengar sedang keliling tuk membangunkan warga untuk sahur. Namun bukan karena suara segerombolan remaja itu yang membuat Romi terbangun. Ia bangun karena merasakan keanehan semalam. Ia bermimpi, mimpi yang sangat aneh, tapi nyata.
“Ada apa Pa, kok bapak udah bangun, padahal masih jam tiga” sahut istrinya yang mau menuju dapur tuk menyiapkan makan sahur.
“Ma, papa barusan mimpi”
“Mimpi apa pa?
“Mimpinya sangat aneh sekali ma”
“Iya pa. Papa ceritakan sama mama”
“Papa mimpi bertemu dengan seorang lelaki memakai pakaian putih. Orangnya tinggi besar, wajahnya bersinar. Terus dalam mimpi itu, dia mengancam papa untuk mengikutinya. Kalau papa tidak mau, katanya nanti papa akan menyesal seumur hidup
“Papa, nggak usah khawatir. Mimpi itu hanya bunga tidur saja
“Tapi mimpi ini sangat aneh sekali ma”
“Iya pa, mama mengerti”
Ternyata mimpi itu tidak hanya datang sekali saja. Tiga malam berturut-turut, mimpi itu selalu menghantui malam-malam Romi. Entah apa maksud dari lelaki berpakaian putih itu. Romi belum paham tentang pesan yang ia sampaikan.
“Pa, gimana kalau nanti kita tanya pak ustadzs aja. Barangkali beliau tau maksud dari mimpi papa” ujara Rahma ketika mereka berdua sedang berada di ruang tamu.
“Iya ma. Kalau itu memang jalan terbaik, silahkan” jawab Romi dengan wajah tak menentu.
“Nanti biar mama panggilkan ustadz yang sering imam di masjid sebelah ya”
Dari kejauhan terlihat sosok perempuan berhijab berjalan menuju sebuah rumah berwarna putih yang hanya berjarak seratus meter dari rumahnya. Di raut wajahnya terlihat memancarkan sebuah harapan. Rahma ingin segera bertemu ustadz yang sangat tawaduk itu. Ia ingin sekali secepatnya mengetahui pesan dari mimpi suaminya itu. Rahma juga berharap agar ustadz yang masih berumur tiga puluh tahun ini mau membimbing suaminya menyusuri jalan tuhan.
“Pa, ustadz udah mama jemput” ungkap Rahma setelah sampai di rumah.
“Iya ma, silahkan duduk ustadz” jawab Romi dengan nada penuh harap.
“Bisa diceritakan mimpi yang mendatangi bapak beberapa malam kemaren?”
Romipun menceritakan kronologi mimpi yang mengancamnya tiga malam terakhir ini. Dengan panjang lebar dan suara gemetar, ia berharap mendapat solusi dari ustadz itu.
“Kalau menurut saya mimpi itu membawa sebuah pesan yang sangat bermanfaat bagi pak Romi”
“Maksud ustadz?”
“Begini Pak, sebelumnya saya minta maaf. Apakah sebelumnya bapak jarang melaksanakan perintah agama?”
Cucuran airmata sontak mengalir dari dua sudut mata Romi. Ia merasa sangat berdosa sekali mendengar pertanyaan ustadz itu. Selama ini ia memang sangat jauh dari ajaran agama. Setelah ia menjadi orang yang kaya raya, ia tidak pernah menundukkan kepalanya lagi kepada sang pencipta kehidupan. Shalat ia tinggalkan. Puasa ramadhan tak pernah lagi dikerjakan. Setiap hari berhura-hura. Nongkrong di kafe. Main judi dan masih banyak lagi maksiat lain yang tak bisa dihitung dengan jari.
“Maaf ustadz. Selama ini saya memang sudah tidak pernah lagi menjalankan perintah agama. Harta sudah membutakan hati saya. Saya sangat menyesal ustadz. Apa yang harus saya lakukan ustadz?”
“Iya Pak, saya mengerti. Bapak masih ada waktu untuk taubat”
Rahma terlihat sangat prihatin mendengar kata-kata yang mengalir dari lidah suaminya. Bukannya ia tidak menegur suami yang telah dua puluh tahun mendampingi hidupnya itu. Ia sering mengingatkan agar suaminya itu insyaf, namun ia tak kuasa jika suaminya itu memarahinya karena teguran tersebut.
Astagfirullohal ‘Adzim. Mungkin kaki saya ini lumpuh juga adalah teguran dari Allah, agar saya insyaf dari dosa. Apakah Allah masih mau menerima taubat saya pak ustadz?”
“Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Jangan takut Pak Romi, menghadaplah kepada-Nya dengan Taubatan Nasuha
“Saya sangat malu. Dosa saya sangat banyak ustadz”
“Tidak ada manusia yang tak berdosa Pak Romi. Sedangkan sebaik-baik manusia yang berdosa itu adalah yang mau secepatnya bertaubat pada Allah Swt. Terlebih-lebih saat ini kita sedang berada di bulan suci Ramadhan, niscaya Allah akan membuka pintu ampunan selebar-lebarnya bagi setiap hambanya yang mau benar-benar bertaubat.
“Iya ustadz, saya berjanji akan benar-benar bertaubat di bulan yang penuh keampunan ini”

Ramadan tahun ini benar-benar bulan yang mengancam Romi untuk insyaf. Lelaki berpakaian putih itu membawa ancaman yang baik agar Romi segera bertaubat dan segera menapakkan kaki di jalan tuhan. Kini ia paham setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan sebaik-baik yang berdosa adalah yang mau segera bertaubat kepada tuhannya. 
Ramadan yang Mengancam (Terbit di Riau Pos 28 Juni 2015) Reviewed by Kabara on 00.20.00 Rating: 5 Ramadan yang Mengancam Oleh Mustopa Kamal Btr Surga dunia telah Romi rasakan di tengah hiruk-pikuk kota Pekanbaru ini. Sepuluh ...

Tidak ada komentar: