Cinta di Langit Ramadan (Terbit di Riau Pos 26 Juli 2015) - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 02 Agustus 2015

Cinta di Langit Ramadan (Terbit di Riau Pos 26 Juli 2015)

Cinta di Langit Ramadan
Oleh: Mustopa Kamal Btr


Gadis berwajah manis itu merenung di jendela kamar. Mukanya terlihat membengkak karena butiran-butiran air yang mengalir dari sudut matanya. Ia belum bisa menerima keputusan dua hari yang lewat, yang sangat menyayat hatinya. Hubungan dengan kekasih hatinya sudah kandas di tengah jalan. Entah apa penyebabnya, ia tidak tahu. Mungkin ada orang ketiga. Atau mungkin orangtua kekasihnya itu tidak merestui hubungan mereka lagi.
Anisa, nama yang indah, namun tak seindah perasaannya saat ini. Ia merasa hidupnya tak berarti lagi setelah berpisah dengan pujaan hatinya, Romi. Cinta sucinya telah ia amanahkan kepada pria berpendidikan tinggi itu sejak dua tahun silam. Romi juga sudah berjanji kepadanya bahwa ia akan setia sampai mati.
“Anisa, kenapa sayang?” ujar Aminah, ibunya, yang tiba-tiba membuka pintu kamar.
Nggak ada Bu, Anisa cuma kurang enak badan aja” Anisa berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia memang tidak pernah menceritakan kepada keluarganya kalau ia menjalin cinta dengan Romi.
“Kalau Anisa kurang enak badan, nanti ibu panggil dokter”
Nggak usah Bu, Anisa cuma kurang istirahat aja mungkin”
“Anisa jangan berkata begitu, ibu takut nanti sakitnya tambah parah. Dua hari ini ibu perhatikan Anisa sering melamun”
Nggak papa kok Bu, Anisa cuma kurang enak badan biasa aja” Anisa masih tidak mau menceritakan hal yang sadang terjadi karena di kampungnya, masalah asmara adalah sesuatu yang jangggal untuk diceritakan kepada orangtua.
“Ya sudah kalau begitu, Anisa istirahat saja dulu ibu mau beres-beres rumah ya”
Setelah ibunya keluar dari kamar, Air mata anisa kembali mengalir dengan derasnya. Hatinya berontak. Lidahnya keluh. Ia tidak tahu lagi tempat untuk mengadukan kisah pilunya itu. Ia merasa hidupnya seolah bagai sebatang kara. Tiada tempat mengadu. Tiada tempat berlindung dan berkeluh kesah. Cinta membuat hatinya bagai bawang yang diiris pisau yang sangat tajam. Cinta juga telah membuatnya lupa akan kasih sayang orangtuanya selama ini. Semenjak menjalin asmara dengan Romi, ia semakin malas membantu orangtuanya untuk masak dan membersihkan rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktu senggang dengan lelaki pujaan hatinya itu.
Hati Anisa masih berkabut di hari ketiga setelah ia berpisah dengan Romi. Ia masih saja merenung di samping jendela kamarnya. Pandangannya kosong menghadap matahari terbit. Sinar mentari yang mulai meninggi itu belum juga bisa menerangi kegelapan jiwanya. Ia tak tahu lagi hendak berbuat apa, dalam hatinya menyesal kenapa dulu ia harus mengenal lelaki pecundang itu. Anatara marah dan sedih itulah gejolak batin yang sedang mencengkramnya.
“Anisa sayang, coba lihat apa yang ibu bawa” Aminah tiba-tiba muncul ke kamar Anisa.
“Ada apa Bu” Anisa menyeka airmatanya.
“Coba Anisa buka, apa isinya”
“Ini apa Bu, kok dibungkus segala”
“Anisa buka aja, biar tahu apa isinya”
“M-u-k-e-n-a”
“Iya ibu tadi belikan di pasar”
“Anisa kan masih punya mukena Bu”
“Iya ibu tahu, mukenanya kan udah lama gak diganti. Anisa nanti jangan lupa pake pas shalat tarawih ya, kan Ramadhan udah dekat”
Anisa memandangi mukena putih yang dibelikan ibunya itu. Air matanya menetes. Hatinya terharu. Jemarinya gemetar. Ia bergegas menuju dapur. Ia pandangi wajah wanita renta yang sedang menyiapkan makanan. Perlahan ia dekati wanita tanpa kenal lelah itu.
“Bu, terimaksih mukenanya ya. Anisa sangat senang”
“Iya sayang”
“Yang penting Anisa harus rajin ibadah lagi ya”
“Iya Bu. Anisa minta maaf selama ini sudah jarang ngerjakan ibadah”
“Iya sayang. Anisa harus rajin lagi ya”
“Iya Bu”
Langkah gadis itu perlahan, namun pasti. Ia baru saja menyimpan mukenanya di kamar. Raut wajahnya mulai terlihat merona. Pandangannya menyimpan sejuta asa.
“Bu, Anisa ikut bantu masak ya?”
“Anisa istirahat aja dulu biar cepat sembuh”
Nggak Bu, Anisa udah sembuh kok”
“Ya sudah kalau Anisa mau bantu ibu masak. Anisa motong sayurannya aja ya”
“Iya Bu” jawab gadis berkulit putih itu.
Malam kelam dihiasi bintang-gemintang. Selepas shalat maghrib Anisa menghampiri kedua orangtuanya yang sedang berada di depan tivi memantau perkembangan penetapan satu Ramadan yang dilakukan oleh pemerintah. Ia melihat kedua orangtuanya itu sangat antusias menyambut bulan suci ramadhan. Dengan perasaan haru, ia coba mendekati kedua orang yang telah membesarkannya sejak kecil itu.
Alhamdulillah. Akhirnya hilal sudah terlihat. Besok kita sudah puasa” ungkap Ali, ayah Anisa, ketika menyaksikan dari tivi keputusan Kementrian Agama Indonesia.
Alhamdulillah ya yah, malam ini kita sudah mulai tarawih” ungkap Aminah.
“Iya Bu. Nanti kita sekeluarga akan pergi tarawih sama-sama”
“Yah, Bu” tiba-tiba Anisa menghampiri.
“Ya ada apa Anisa” jawab kedua orantuanya serentak.
“Besok kan kita udah puasa, Anisa mau minta maaf sama ayah dan ibu atas semua kesalahan Anisa selama ini. Anisa dulu sering gak ngerjain kewajiban-kewajiban Anisa sebagai seorang anak dan sering juga lalai ngerjakan ibadah”
“Iya Anisa Ayah dan ibu juga minta maaf ya” jawab ayahnya.
“Iya sayang. Anisa juga maafin kesalahan ibu sama ayah ya” ibunya menambahkan.
“Iya Bu”
Kumandang azan isya menyeru insan tuk menghadap tuhan. Kerumunan manusia terlihat ramai menuju masjid. Di sudut kegelapan gadis itu tampak ceria dalam perjalanan menuju rumah tuhan. Ia bersama kedua orangtua dan dua adiknya. Wajahnya tampak bercahaya di tengah kelam malam. Sesekali dia melempar senyuman kepada orang-orang yang berjalan di samping kiri-kanannya.
“Kalau nanti udah selesai shalat, ayah nanti tunggu kalian di samping pohon kelapa depan masjid ya” ungkap ayah Anisa.
“Iya Yah, kami nanti menyusul ke situ” jawab ibu Anisa.
“Anisa harus khusuk ibadahnya ya. Minta ampun sama Allah atas kesalahan-kesalahan yang telah lalu”
“Iya Yah”
Sore nan indah dibingkai lukisan mentari. Udara yang cukup panas tidak menyurutkan semangat Anisa untuk membantu ibunya menyiapkan hidangan berbuka di hari pertama bulan suci Ramadan.
“Bu Anisa aja yang masak lauknya, ibu istirahat aja dulu”
“Bentar lagi Anisa, ibu tuangkan takjil ini dulu”
“Anisa aja Bu yang nuangkan”
“Ya sudah, ibu mandi dulu ya biar gantian”
“Iya bu”
Awan merah sudah mulai menghampiri langit ramadhan pertama. Anak-anak kecil terlihat berlari tergopoh-gopoh membawa takjil menuju rumah masing-masing. Ibu-ibu rumah tangga mulai beranjak dari teras-teras menuju ke ruang makan rumah mereka. Suara bedug terdengar bergema menghiasi jagat raya.
“Hore bedug sudah bunyi” ungkap anak kecil bernama Rahman, adik laki-laki Anisa.
“Alhamdulillah waktu berbuka sudah tiba” jawab Anisa.
“Rahman, kakak minta satu kurmanya sayang”
“Kurmanya tinggal tiga biji lagi. Ini buat kurma sahur Rahman” jawab anak polos yang sedikit nakal itu.
“Anisa makan ini aja. Tadi Rahman ngasi sebiji sama ibu”
“Nggak usah Bu, sama ibu aja. Anisa cuma iseng aja tadi mintanya sama Rahman. Karena Anisa takut aja tadi kurmanya mubazir, gak dihabisin Rahman.
“Udah Anisa makan aja. Ibu makan takjil yang kita buat tadi sore aja”
“Nggak kok Bu, sama ibu aja”
“Sini biar ayah makan kurmanya, kalau gak ada yang mau makan” jawab Ali sambil becanda.
“Ayah bisa aja” jawab Anisa sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Langit Bulan Suci Ramadan ini telah jadi saksi perjalanan kisah cinta Anisa. Kini telah ia sadari akan ketulusan cinta yang telah diberikan kedua orangtuanya. Cinta yang tiada tara. Cinta tanpa harap balas jasa. Cinta yang melebihi kesetiaan langit kepada bumi. Cinta yang melebihi kesetiaan bintang kepada malam. Cinta yang tulus tanpa syarat, melebihi cinta yang diberikan kekasihnya dulu, cinta yang diberikan lelaki pecundang, lelaki yang pergi tanpa alasan. Sekarang Anisa berjanji akan membalas ketulusan cinta kedua orangtuanya. Cinta sepasang manusia yang selalu mengajarinya untuk mencintai sang Maha Memilik Cinta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.









Cinta di Langit Ramadan (Terbit di Riau Pos 26 Juli 2015) Reviewed by Kabara on 22.20.00 Rating: 5 Cinta di Langit Ramadan Oleh: Mustopa Kamal Btr Gadis berwajah manis itu merenung di jendela kamar. Mukanya terlihat membengkak ...

Tidak ada komentar: