ADA SESUATU DI MATAMU - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 26 Oktober 2016

ADA SESUATU DI MATAMU


Kau bilang pelangi di kota kita selalu tujuh warna. Aku bilang pelangi di matamu warnanya tidak terhingga. Mirip bilang matematika yang ketika dihitung hasil tertinggi hasilnya tidak terhingga. Kau bilang aku begitu pandai menyusun kata-kata buat meluluhkan hatimu. Aku bilang aku hanya menyampaikan tentang kebenaran tentang dirimu. Lalu kau memetik hidungku serupa memetik buah anggur.

"Warna perak rambutmu itu memiliki warna perak yang tak terhingga, bagaimana mungkin aku mampu memutuskan warna padamu hanya warna tujuh pelangi yang kau lihat itu." Aku menunjuk ke timur. Warna pelangit di timur itu cukup kental. Mungkin karena hujan terlalu lebat. Dan cahaya matahari keluar dari sisi barat yang tak ditutup awan.

Kemudian kita membuka jendela selebar-lebarnya. Kau merentangkan tangan, mengembangkan sayapmu hendak terbang. Aku mengatupkan sayapku. Berpangku tangan, membiarkan ciprakan hujan menutup ujung rambutku.


Seolah jendela tidak pernah ada di sana, kau berputar-putar. Rokmu ikut berputar. Sejak kapan kau pintar balet. Aku benar-benar sudah lupa sejak kapan kita mempelajari sesuatu dan melupakan sesuatu. Kemudian kau berhentu berputar. Mendelik ke arahku dengan manja. Menjulurkan tangan. Kemudian kita berdansa. Puas berdansa, kita kembali ke jendela.

Kain jendela kau gulung. Katamu kain jendela itu hanya menghalangi pandanganmu dari pelangi. Kau memandang ke timur. Burung terbang di antara pelangi, itu adalah warna lain, kataku. Kau mendelik kepadaku dengan tersenyum. Memencet hidungku. Hidungku merah menahan perih. Kau kecup hidungku. Hidungmu dan hidung bergesek tiga kali.

"Kau ada-ada saja. kelak kalau kita tua apakah kau bakal masih seromantis ini?" 

"Menurutmu?"

"Menurutku tidak!"

"Bagaimana kau tahu?"

"Semua laki-laki begitu!"

"Aku pengecualian."

"Pengecualian, ya, karena kau bakal lebih tidak peduli lebih dari yang aku bayangkan?"

Kau menarik jemariku ke genggamanmu. Bahuku dan kepalamu bertemu. Nafasku mengeluarkan uap. Nafasmu juga. Kepalaku mengeluarkan kenangan. Kepalamu mungkin saja mengeluarkan sepi.

Tidak, aku tidak pandai menjawab apa besok aku masih bakal berkata begitu kepadamu. Mungkin saja perkataanku berubah wujud meski intinya sama. Enggak ada yang benar-benar baru di bawah waktu. kecuali hanya satu. Itu kamu.

"Aku yakin burung itu sedang menuju pulang?" Aku menunjuk kumpulan burung yang tubuhnya diselimuti pelangi. 

"Darimana kau tahu?"

"Bakal selalu saja begitu."

"Aku tidak begitu yakin."

"Aku yakin."

"Kau sok tahu."

Aku dekatkan pinggulku dengan pinggulmu. Pinggul kita bertemu. Kita kemudian senggol-senggolan.

Aku masih ingat masa kecil kita. Dahulu kau paling anti kalau harus mengalah kalau kita main tebak-tebakan. Murai berkicau. Aku bilang bakal ada yang mati. Dan memang ada yang mati hari itu.

"Nah itu buktinya, kan ada yang meninggal! Kalau murai berkicau itu tandanya ada yang meninggal," ujarku berteriak dari halaman. Aku berkacak pinggang. Kau mencibir dari jendela. Melenggang-lenggokkan rambut kucir kudamu. Kemudian melambai-lambaikan dua tanganmu di telinga sembari menjulurkan lidah.

"Kau hanya kebetulan saja," ujarmu pura-pura membuang muka. Kemudian kau menjulurkan lidah lagi berulang kali mengejekku.

"Kalau murai berkicau itu tandanya murai sedang mengabarkan kematian seseorang. Aku tahu itu." Tentu saja kau pantang kalah. 

"Menurut pelajaran IPA, kalau murai berkicau tandanya sedang musim kawin." Benar saja ada murai-murai yang lain berlahiran beberapa bulan berikutnya.

Kita buru-buru dewasa. Masa kanak-kanak hilang begitu cepat. Kini sudah berdiri di jendela. Dahulu kita bertengkar soal apa saja. Umurku lima saat kita bertengkar tentang murai sedangkan umurmu empat. Umutku tujuh saat kita bertengkar tentang apa cicak bisa terbang atau tidak. Umur sepuluh saat kita bertengkar soal semut baik dan semut jahat. Sekarang umurku sembilan belas.

"Aku yakin burung itu pergi?" Katamu. Kau bertopang dagu di jendela. Aku bertopang dagu di jendela. "Apakah kau juga bakal pergi?" Aku menatap tajam matamu. Kau alihkan tatapanmu ke burung-burung yang menurutku pulang. "Lupakan!" Katatamu. Kau tepuk tanganku. Daguku lepas ke samping kusen jendela. Gigiku bertubrukan kayu jendela. Berdarah.

[at/ alizartanjung]








ADA SESUATU DI MATAMU Reviewed by rumahkayu on 19.12.00 Rating: 5 Kau bilang pelangi di kota kita selalu tujuh warna. Aku bilang pelangi di matamu warnanya tidak terhingga. Mirip bilang matematika yan...

Tidak ada komentar: