Baju Batik Atuk di Petak Umpet - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Kamis, 27 Oktober 2016

Baju Batik Atuk di Petak Umpet

Baju Batik Atuk di Petak Umpet
Cerpen: Mustopa Kamal Batubara
Dimuat di Harian Rakyat Sultra 08/10/2016


Lelaki itu tak hentinya memandangiku. Entah apa yang ada dalam benaknya. Mungkin ia tidak tahu kalau aku memperhatikan glagatnya ketika ia baru saja duduk di kursi berwarna abu-abu itu sedari tadi. Aku benar-benar tidak bisa fokus tuk mengalahkan motor-motor tangguh yang silih berganti meninggalkan kecepatanku. Aku nanti akan menyalahkan lelaki tua itu jika aku kalah pada permainan game balap motor di gadget yang baru dibelikan mama sebulan yang lalu ini.
Duduk di kursi ruang tamu sudah menjadi kebiasaan lelaki itu setiap malam. Setelah shalat maghrib, ia akan membawa secangkir teh dan beberapa potong roti. Tak lupa, koran yang belum selesai ia tammatkan pada siang harinya akan ia rampungkan tuk membacanya pada malam hari. Jika tumpukan koran itu telah selesai ia baca, selanjutnya ia akan menghidupkan tv yang tepat ada di hadapannya. Ia akan mematung di depan stasiun tv berita yang sepanjang hari akan menyiarkan berbagai peristiwa yang sedang terjadi di seantero negeri. Ia juga memang sangat hobi menonton berita, pun usianya sudah renta namun ia tidak mau ketinggalan info terkini.
Sorot mata lelaki itu mengantarkanku pada kekalahan permainan balap motor malam ini. Aku ingin sekali memarahinya. Ketika aku akan berubah jadi iblis garang yang akan mengancamnya, nalar telah terlebih dahulu menjadikanku sesosok malaikat yang sedang teringat akan semua kebaikan-kebaikan lelaki itu. Aku harus sabar. Aku tidak seharusnya melampiaskan rasa kesal kepada lelaki yang sudah di usia senja itu.
Entah kenapa tatapannya sedari tadi terhenti padaku, bukan pada koran yang sedang ia pegang. Apa perbuatanku ada yang salah hari ini ?. Aku rasa tidak. Atau ada yang ingin ia katakan ?. Kelihatannya tidak juga. Biasanya jika ada yang ingin ia katakan, pasti akan langsung ia ungkapkan tanpa harus menunggu aku selesai bermain game. Entahlah apa maksud sorot matanya yang penuh dengan tanda tanya.

***

“Udah selesai main gamenya Cu ?” ujar lelaki yang sedari tadi menatapku itu.
“Udah Tuk”
Atuk masih saja memandangiku.
 “Ada apa Tuk ?”
Atuk terdiam. Tatapannya kosong. Sorot matanya semakin tajam meluncur pada baju yang sedang kukenakan.
“Baju batik cucu Atuk ini siapa yang beli ?”
“Mama Tuk”
“O ya”
“Kapan mama beli ?”
“Tadi Tuk, selepas pulang dari kantor”
“Di mana ?”
“Di plaza”
“Ada apa Tuk, ada yang salah ?”
Atuk terdiam sejenak.
“Baju yang sedang Riki pakai ini mengingatkan Atuk pada masa 60 tahun silam”
“Maksud Atuk ?”
“Baju yang sedang Riki kenakan ini sama persis dengan baju Atuk dulu, itu baju favorit Atuk, dibelikan eyang buyutmu ketika Atuk juara kelas waktu SD. Baju itu juga merupakan baju yang paling sering Atuk gunakan ketika bermain petak umpet. Atuk rasa baju itu selalu membawa keberuntungan ketika bermain permainan tradisional itu. Atuk tidak pernah kalah. Atuk tidak pernah menjaga pohon petak umpet. Atuk serasa bermimpi ketika melihat baju yang Riki pakai. Ternyata di era modern ini masih ada baju batik yang sama persis dengan kepunyaan Atuk dulu”
“Oo, jadi itu sebabnya atuk memperhatikan Riki semenjak tadi”
Atuk tersenyum sumringah.
“Kata guru kesenian Riki di sekolah Tuk, suatu mode itu akan kembali populer secara berulang-ulang”
“Maksud cucu ?”
“Begini Tuk, apa yang pernah populer pada masa dulu akan kembali populer pada masa-masa tertentu. Jadi baju yang dibuat dengan mode tertentu pada zaman dulu akan kembali bisa populer pada zaman sekarang”
“Benarkah ?”
Aku mengangkukkan kepala.
 “Berarti petak umpet juga akan kembali populer suatu saat ?”
“Petak umpet ?”
“Iya”
“Riki tidak tahu kalau masalah itu Tuk”
“Kenapa tidak tahu ?”
“Riki tidak banyak tahu tentang petak umpet”
“Benarkah ?”
“Iya Tuk. Emangnya permainan petak umpet itu seperti apa ya Tuk ?”
“Petak umpet itu adalah salah satu permainan tradisional yang sudah mulai dilupakan”
“Benarkah ?”
Atuk menganggukkan kepala.
“Dulu, ketika semasa atuk, petak umpet merupakan salah satu permainan favorit para anak-anak seusia Riki di kota kita ini. Atuk juga sangat senang ketika ikut main petak umpet. Satu orang yang kalah akan menjaga pohon petak umpet, selainnya akan bersembunyi. Si penjaga pohon petak umpet akan mencari kawan-kawannya yang sedang bersembunyi di belakang rumah-rumah warga atau di balik semak-semak, sehingga setiap orang yang kedapatan terlihat di tempat persembunyian maka ia akan menjadi penjaga pohon petak umpet”
Atuk terlihat sangat terharu ketika menceritakan kisah permainan petak umpet itu. Airmatanya seolah ingin meluap namun ia tahan. Beliau menceritakan permainan tradisional itu dengan serius dan penuh keprihatinan.
“Kenapa sekarang permainan petak umpet tidak ada lagi di kota kita ini Tuk ?”
“Entahlah cucuku, Atuk juga kurang tahu. Mungkin anak-anak zaman sekarang lebih memilih main game dengan gadget
Atuk berdiri dari tempat duduknya.
 “Tunggu di sini sebentar, Atuk ke Kamar dulu”
“Mau ngapain Tuk ?”
“Tunggu aja di sini, nanti cucu Atuk akan tahu”

***

Atuk keluar dari kamar. Beliau berjalan gontai menuju tempatku menunggu. Atuk menunjukkan baju batik kesayangannya dulu padaku. Memang sangat persis dengan baju yang sedang aku pakai sekarang. Warna, corak dan jenis sulamannya benar-benar tak ada bedanya, hanya saja baju batik Atuk ini sudah kelihatan mulai lusuh dimakan usia.
“Benar kan yang atuk bilang, bajumu sama persis dengan baju kesayangan atuk”
Aku menganggukkan kepala pertanda mengiyakan perkataan beliau.
Memori ingatan Atuk kembali terbawa pada masa silam. Atuk berkisah. Malam itu mereka beberapa sekawan sedang bermain petak umpet di halaman rumah. Tiba-tiba temannya yang bernama Hasan berteriak ketakutan ketika bersembunyi di belakang rumah yang agak gelap.
“Setan…” teriak Hasan, anak yang sangat penakut di masa itu, sembari berlari terbirit-birit.
“Mana setannya, agar kita cingcang ?” jawab Roni, kawan Atuk yang paling berani.
“Di sana tadi, di belakangku, pas waktu sembunyi”
“Ayo kita lihat”
“Kalian aja yang melihatnya, aku tak berani lagi”
“Dasar penakut kau Hasan”
Beberapa orang itu pun berjalan perlahan menuju tempat persembunyian Hasan tadi. Jika benar, mereka sudah tidak sabar lagi akan bertemu dengan setan yang dimaksud Hasan itu.
“Haha… Ada apa ?” ujar Atuk.
“Kata Hasan di sini tadi ada setan”
“Haha… mana ada, cuma aku aja tadi yang datang ke belakang Hasan, haha…”
Atuk tampak sangat bahagia bercampur haru ketika menceritakan kenangan hidupnya yang takkan terlupakan itu.
Sesaat kemudian suasana senyap. Entah kenapa raut ceria wajah Atuk tiba-tiba berubah drastis menjadi seolah memperlihatkan perasaan tidak karuan. Mungkin beliau merasa sudah penat senyam-senyum sedari bercerita kisah ketika bermain petak umpet dulu atau ?. Entahlah.
 “Atuk, aku juga ingin suatu saat nanti bisa membawa baju batikku ini bermain petak umpet seperti yang pernah Atuk lakukan dengan baju batik Atuk dulu”
 “Benarkah ?”
“Iya tuk, benar, benar, benar”
 “Kalau begitu, Atuk akan berdoa agar diberikan umur panjang, hingga suatu saat kelak Atuk bisa melihat cucu kesayangan ini bermain petak umpet”

Selesai


Tentang Penulis


Mustopa Kamal Batubara saat ini tercatat sebagai mahasiswa UIN Suska Riau. Artikel, cerpen maupun puisi dari putra Mandailing ini pernah dimuat di Analisa, Malintang Pos, Rakyat Sultra, Medan Bisnis, Tribun Sumsel, Mandailing Online, Web Kemenag Riau, Singgalang, Riau Pos, Gagasan, Buletin Makna dan lain-lain. Selain itu, ia juga telah menulis buku Facebook Mengguncang Dunia Akhirat, Buku Bait Bait Hati Novel Sampan di Seberang dan Novel Jalan Impian.

Mahasiswa yang hobi membaca ini bisa dihubungi lewat email: mustopakamalbatubara@gmail.com. Facebook: Mustopa Kamal Batubara. Intagram: @kamal_btr. Blog: www.karya-kamal.blogspot.com. Twitter: @mustopakamalBTR.


Baju Batik Atuk di Petak Umpet Reviewed by Kabara on 18.51.00 Rating: 5 Baju Batik Atuk di Petak Umpet Cerpen: Mustopa Kamal Batubara Dimuat di Harian Rakyat Sultra 08/10/2016 Lelaki itu tak hentiny...

Tidak ada komentar: