Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 1) - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Kamis, 20 Oktober 2016

Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 1)



Oleh: Naya Corath

Minggu kemarin, tanggal 25 September 2015, aku mengikuti Kelas Menulis Raditya Dika (alias yang hari Jumat), dengan tajuk “Bengkel Menulis Kreatif,” yang bertempat di Conclave Auditorium, Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan.
Aku menulis ulasan kelasnya dalam bentuk 2 part artikel. Ini adalah artikel PART 1.
12047133_10153236011932983_5609061778765597014_n
Sejujurnya, kelas yang pengen aku ikuti itu 2 kelas–“Kesalahan Penulis Pemula” dan “Bengkel Menulis Kreatif.” Tapi sayangnya kelas yang kusebutkan pertama kali itu hari Kamis, tepat di hari raya Idul Adha. Gak bisa datang.😦
Tebak aku yang manaa?
Tebak aku yang manaa?
PERSIAPAN
Aku duduk di bangku paling depan, sendirian, tak mengerti kenapa orang-orang lainnya memilih duduk mulai di baris kedua. Hahaha. Tapi bukan aku namanya kalo gak pede berlebihan, apalagi aku butuh sudut yang bagus untuk merekam isi pelajaran dari Raditya Dika dan memotret apa pun yang bisa dipotret. Dan luaaaass……! Satu deret bangku untukku semua. Wkwkwk.😛
20150925_194259 (Copy)
REKAP
Raditya Dika memulai kelas dengan membahas bau duren yang ada di hadapannya. Hahaha. Belakangan baru disadari ternyata bau duren itu berasal dari bingkisan plastik yang diberikan oleh salah satu peserta, yang tadinya diletakkan di atas mejanya. Karena nggak kuat iman, akhirnya Radit memindahkan bungkusan duren itu jauh-jauh ke pinggir belakangnya, dan seisi kelas pun tertawa.
Yang di bungkusan plastik putih itu isinya duren. :P
Yang di bungkusan plastik putih itu isinya duren.😛
Oke. Itu gak penting, haha. Seharusnya kita bahas isi kelas menulisnya, ya?😛
Sejujurnya aku tak tahan menulis banyak celetukan Radit yang bikin seisi kelas tertawa terpingkal-pingkal–tapi demi isi liputan kelas menulis yang fokus, tajam, dan terpercaya, aku berjanji akan berusaha mengurangi hasrat menulis hal-hal yang tidak relevan.
Kita mulai lagi. Sekarang pasang muka serius.
Radit membuka kelas dengan merekap kembali isi pelajaran sejak hari pertama sampai hari keempat. Isi rekapnya adalah sebagai berikut:
  1. Hari pertama -> IDE.
    Ide harus berasal dari kegelisahan kita sebagai penulis. Jangan menulis hanya karena pengen kaya, pengen pamer, tapi harus ada kegelisahan di dalam hati ini yang meminta untuk dijawab.
  2. Hari kedua -> ALUR.
    Ada 3 babak tulisan, masing-masing punya beat cerita sendiri. Babak satu porsinya 25%, babak dua porsinya 50%, dan babak tiga porsinya 25%.
  3. Hari ketiga -> KARAKTER.
    Kita harus memiliki karakter matriks. Isinya–nama, umur, apa yang dia mau, apa yang dia sukai, kapan dia jatuh cinta, kelemahan, kekuatan, dan seterusnya. Cocokin matriks ini dengan matriks milik karakter lawannya di cerita tersebut.
  4. Hari keempat -> KESALAHAN PENULIS PEMULA.
    Dialog salah, pembuka salah, dialog yang nggak asik, dst..
Setelah aku diskusi dengan peserta-peserta lain yang udah ikut kelas-kelas sebelumnya, ternyata kelas Hari Keempat ini yang paling bermanfaat. Aaaaaaah……. T_😥 *nangis bombay*
Ya sudahlah. Menurutku pribadi, Kelas Hari Kelima yang kuikuti kali ini juga padat ilmu dan sangat bermanfaat. Hari terakhir, hari kesimpulan. Meskipun aku gak tau mendetail soal teori-teori apa saja yang sudah dijelaskan Radit di kelas sebelumnya, tapi di hari terakhir ini, Radit mengulas kembali teori-teori tersebut, langsung dalam bentuk PRAKTEK.
Cara terbaik untuk belajar. PRAKTEK!😀
Yup. Di hari terakhir ini, Radit tidak memberikan materi presentasi, tapi para pesertalah yang diminta untuk menyerahkan tulisan-tulisan milik mereka, yang di-copy ke laptop Radit, lalu dipajang dan dipertontonkan bersama-sama ke layar proyektor di depan kelas. Taraaaaa……
Tulisan kita dibahas kata per kata, kalimat per kalimat, lalu dibahas premisnya, konfliknya, halangannya, kelebihannya, kekurangannya, dan banyaaak banget tips on the spot yang diberikan Radit, berbekal pengalamannya bertahun-tahun sebagai seorang penulis, komedian, aktor, dan sutradara.
Selain itu, kita juga bebas bertanya dengan Radit kapan pun, bahkan di tengah-tengah penjelasannya. Jadi, sejujurnya banyak banget ilmu dan pertanyaan yang berseliweran di sepanjang kelas menulis itu. Terlalu banyak! Kecepatan menulisku di atas papan menulis kayu dengan modal lima lembar kertas HVS kosong yang diberikan pihak panitia rasanya tidak bisa menyaingi membludaknya ilmu menulis yang disampaikan oleh Raditya Dika, selama dua jam nyolong tambahan waktu 30 menit itu (harusnya dua jam, tapi saking serunya jadi di-extend setengah jam sama Raditya Dika).
Aku akan coba tulis di sini sebanyak yang aku ingat dan catat. Dan aku usahakan semirip mungkin dengan percakapan aslinya, sesuai dengan aliran obrolan yang terjadi di kelas saat itu, dari awal sampai akhir. Jadi, liputanku kali ini tidak terstruktur yaaa.. Lebih berupa insidental dan tanya-jawab aja.
Mudah-mudahan masih bisa dipahami intinya.
Kalo ada yang kelewatan, kasih tau yaa…😀
Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 1) Reviewed by rumahkayu on 18.06.00 Rating: 5 Oleh: Naya Corath Minggu kemarin, tanggal 25 September 2015, aku mengikuti Kelas Menulis Raditya Dika (alias yang hari Jumat), de...

Tidak ada komentar: