Merah Putih di Ujung Senja - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Jumat, 21 Oktober 2016

Merah Putih di Ujung Senja

Cerpen Aya Zahra Phaluphie
 
Rumahkayu Indonesia, Merah Putih di Ujung Senja
            Di sinilah Imas berdiri. Menatap laut lepas dengan ombak yang sesekali datang menciumi bibir pantai. Ada dua perahu bersandar tak jauh darinya. Imas masih terpatung di sini. Dengan mata berkaca yang perlahan jatuh bulir airnya.
***
            Senin pagi. Amak sudah sibuk benar mempersiapkan perlengkapan sekolah Imas. Imas sendiri juga sibuk mencari-cari lampu senter besar yang biasa dilingkarkannya di kepala.
            “Cepat Imas. Nanti terlambat!” Amak mencercau lagi. Kali ini nada suaranya meninggi.
            Duh! Dimana pula ia meletakkan lampu senter itu semalam. Semalam, habis menunaikan hajatnya di laut, Imas lupa menaruh lampu senter itu kembali ke tempatnya.
            “Ketemu!” Imas berseru. Lampu senter itu berjejal di antara tumpukan jaring Abah. Entah kenapa bisa tersangkut di sana.
            “Imas. Cepat!” Amak meneriakinya lagi. Imas bersunggut menuju pintu sembari mengikat tali sepatu.
***
            Imas suka laut di pagi hari. Amat suka malah. Semburat mentari kemerahan yang baru bangun beradu dengan angin laut yang sejuk. Pagi-pagi sekali ia akan keluar rumah lalu merendamkan kakinya di bibir pantai untuk sekedar menggali lubang cacing laut atau lomba lari sepanjang pantai dengan Astrid. Biasanya, kak Jemi, kakak Astrid akan membuat garis panjang di pasir dari ranting sebagai garis start sekaligus garis finish lomba lari mereka. Tapi tidak pagi ini. Ini senin pagi. Bangun pagi-pagi dengan seragam sekolah rapi untuk segera naik perahu Ang Sandi. Perahu yang akan mengantarnya berlayar. Berlayar? Ya, sekolah Imas berada di seberang pulau. Jaraknya dua jam dari tempat tinggal Imas, Pulau ini. Pulau Tegal. Imas sekolah di Pahawang.
            Pergi sekolah di senin bagi juga berarti pergi selama sepekan. Begitulah kira-kira. Imas tidak mungkin pulang-pergi setiap hari. Terlalu beresiko kata amak. Gelombang tinggi, laut yang tak bisa di prediksi. Ya, Imas pernah gagal pulang karena angin dan ombak besar yang menghantam cadas. Beruntung Imas belum sempat naik ke perahu Ang Sandi. Maka ambil amannya, ketika Imas sekolah di Pahawang, sama artinya Imas tinggal dengan Nekyang, Ibu Amak. Imas senang tinggal dengan Nekyang. Banyak makanan. Hanya saja tak ada Astrid, Nisa, atau Ongki yang bisa diajaknya bermain atau berlomba mencari kerang-kerang di tumpukan pasir pantai.
***
            “Amak hanya ingin kau mendapat pendidikan yang layak,” Begitu terus yang dikatakan amak saban Imas bertanya kenapa ia mesti jauh-jauh ke Pahawang untuk sekolah. Sementara di pulau Tegal sebenarnya terdapat madrasah yang jaraknya hanya dua atau tiga puluh langkah dari rumahnya.
            “Madrasah itu tanpa guru.” Kata amak lagi. Tangan amak lincah menganyam jaring untuk Abah melaut petang nanti.
            “Tapi nanti ada kakak-kakak yang datang, Mak. Mereka membawa banyak buku, mainan, krayon...” sanggah Imas. Itu awal mula ketika Imas harus sekolah di Pahawang. Jawaban yang sama Imas lontarkan ketika Amak ‘memaksanya’ untuk sekolah di Pahawang. Sekolah di Pahawang berarti terpisah jauh dari Amak, Abah, Astrid, Ongki, dan semua yang indah di pulau Tegal.
            “Tapi tak tentu. Mereka datangnya tak tentu.” Mata amak membulat. Membuat Imas menunduk.
            “Imas,” Amak membelai rambutnya lembut.
            “Amak tak mau Imas seperti Amak,” suara amak parau. Tersendat di akhir kalimatnya.
            “Amak lahir di pulau ini, besar di sini, Amak tidak punya pendidikan. Amak tak ingin Imas mengalami nasib seperti Amak...” bobol sudah pertahanan itu. Ruah bulir-bulir mambasahi pelupuk hingga pipi amak.
            “Karena tanpa pendidikan, manusia tidak akan mempunyai harga diri.” Lanjut Amak tersedu. Pipinya basah. Namun masih tersenyum membelai rambut pirang Imas.
            “Imas, kalau mau berhasil, mau menggapai cita-cita harus rajin sekolah. Punya pendidikan.” Amak menyeka sudut matanya yang basah.
            “Imas nggak mau sekolah.” Imas menatap Amak lekat.
            “Imas nggak mau jauh dari Amak...” lanjutnya. Bibir Imas manyun redup sempurna. Persis bak pelangi kekurangan warna.
            “Kalau Imas nggak mau sekolah, lebih baik amak mati. Amak malu punya anak nggak punya pendidikan.” Amak mengacungkan telunjuknya di depan wajah Imas.
“Berjanjilah Imas akan menjadi wanita karang. Tak peduli sekuat apapun ombak menghempas, ia tetap kokoh. Gigih seperti itulah kau mencari ilmu.” Amak mengusap rambut Imas lagi. Imas mengangguk. Memeluk Amak erat. Sungguh, ia tak mau kehilangan amak lantaran ia tak sekolah. Maka semenjak hari itu, Imas berikrar akan menjadi anak yang rajin dan membanggakan Amak.
***
            Imas di sini. Jilbab lebarnya dimainkan angin sedari tadi. Potongan-potongan kenangan itu muncul sekelebat setiap ia melempar pandang ke hamparan laut lepas. Ia bersyukur. Amat sangat bersyukur. Lepas percakapan dengan amak malam itu, tekatnya bulat. Ia akan berhasil dan kembali untuk membangun pulau Tegal, pulau kelahirannya itu lebih baik.
            “Imas,” seseorang menepuk bahunya. Menyadarkannya dari pikiran yang menggelandang ke masa lampau.
            “Sudah di tunggu. Ayo.” Nisa, temannya dari rombongan pengajar yang ikut berbagi di Pulau Tegal, tersenyum menanti Imas beranjak dari tempatnya mematung.
            Imas menyeka matanya yang basah. Dengan wajah yang terduduk dan senyum malu-malu, ia berjalan sejajar mengikuti Nisa ke madrasah. Tempat dimana yang lain sudah menunggu mereka.
***
            Usia Imas sudah hampir lima belas. Ia sudah kelas satu madrasah aliyah sekarang. Pikirannya tumbuh lebih dewasa dari usianya. Kain tapis sudah melintang dari bahu hingga pinggangnya. Imas mengajar anak-anak putri menari Bedana, tari tradisonal yang biasanya disungguhkan saat pesta adat, pernikahan, atau acara besar lainnya. Musik tabuhan gendang dan petikan senar mengalun merdu mengiringi lenggokan badan kecilnya sementara anak-anak pulau tegal lainnya mengikutinya menarikan tari Bedana. Hentakan kaki di pasir yang beriring dengan hitungan 1,2,3, lengkung—gerakan berputar dengan satu tangan ditekuk di dada dan yang lain melengkung sejajar bahu. Berkali-kali. Berulang-ulang. Berganti kiri-kanan. Belum lagi tangan yang berputar mengikuti irama. Bagi Imas, adat budaya mejadi hal penting untuk anak-anak pulau tegal ketahui. Supaya kelak mereka ingat dan menghormati tanah leluhur, tempat mereka berpijak kini. 
Janji itu dituaikannya seperti hari ini. Bersama rombongan teman-teman gerakan peduli pendidikan, mereka membagikan tas, seragam, dan sepatu sekolah untuk anak-anak pulau Tegal. Tunas harapan pulau Tegal.
            Imas memandang bangunan itu nanar. Madrasah itu. Meskipun sudah berdiri kokoh, masih saja tanpa guru. Satu persatu murid berhenti sekolah. Lebih memilih membantu ayah mereka mengail ikan di laut. Imas menghela nafas panjang. Pulau kelahirannya ini tak terlampau besar. Hanya ada satu RT dengan tiga puluh satu kepala keluarga kini. Lingkupnya lebih kecil dari dusun. Mayoritas penduduknya perantau dan berkerja sebagai nelayan. Hanya satu yang tak berubah, meski dekat dengan kota kecamatan, segala keterbatasan di pulau tegal masih luput dari perhatian aparat pemerintah. Pulau Tegal masih gelap kala malam. Tanpa lampu. Listrik di dapat dari panel surya atau aki warga.
            Namun tidak hari ini. Anak-anak pulau Tegal sudah rapi berbaris untuk upacara bendera. Imas memandang bendera merah putih yang berkibar di atas tongkat kayu di hadapannya. Nyanyian berkibarlah benderaku menggema ke seluruh pulau. Imas tersenyum, menyeka sudut matanya yang berair. Merah Putih di ujung senja.
            Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah slama-lamanya
Kudedikasikan untuk tim @1000_guru saat Teaching and Traveling ke Pulau Tegal, Lampung J

Tentang penulis

Aya Zahra Phaluphie adalah nama pena. Mahasiswi hobi bersyair yang ingin jadi penyiar. Sesekali keluar malam menikmati lampu jalanan kota. Beralamat di Jl. DI Panjaitan Gg.Lama No.756 Rt.09 Rw.03 Plaju, Palembang 30266. Bisa dihubungi via ayaphaluphie@gmail.com atau twitter @rra_claraika. Ponsel 0852-66024394 Fb: www.facebook.com/aya.phaluphie

Merah Putih di Ujung Senja Reviewed by rumahkayu on 18.54.00 Rating: 5 Cerpen Aya Zahra Phaluphie   Rumahkayu Indonesia, Merah Putih di Ujung Senja             Di sinilah Imas berdiri. Menatap laut lep...

Tidak ada komentar: