Cici dan Ciko - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Kamis, 20 Oktober 2016

Cici dan Ciko

Cerita Sri Wahyuningsih



 Cuaca hari itu sangat panas. Cici yang baru bangun dari tidurnya tiba-tiba merasa sangat lapar. Ia pun pergi mencari makan. Ketika melewati sebuah gang, tiba-tiba Cici berhenti. Dari kejauhan ia melihat seekor tikus sedang mengais-ngais makanan di bak sampah. Cici pun mengendap-endap mendekati bak sampah tersebut. Tetapi rupanya si tikus menyadari kedatangan Cici. Ia pun kabur melarikan diri. Cici mengejar tikus itu sekuat tenaga. Perburuan pun berlangsung sengit karena si tikus cukup lihai meloloskan diri dari kejaran Cici. Di sisi lain, rasa lapar yang dirasakan Cici memaksanya untuk terus mengejar mangsanya sampai dapat. Si tikus akhirnya kelelahan. Ketika ia sudah hampir mendapatkannya, tiba-tiba tikus itu meluncur masuk ke dalam saluran air. Ketika tubuhnya masuk ke air, ia pun berenang dengan gembira dan sempat meledek ke arah Cici.
“Daaaahh ... Sampai jumpa lagi!” ejek Tikus.
Ia tahu bahwa Cici tak lagi bisa mengejarnya. Nasibnya sungguh beruntung hari itu. Namun tidak demikian dengan Cici. Ia masih memandang geram ke arah tikus tersebut. Ia sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa pasrah melihat mangsanya kabur dengan mudah. Ia pun merasa kecewa dan akhirnya mengomel sendiri.
“Huh, Tuhan sungguh tidak adil! Mengapa kami ditakdirkan memangsa tikus? Mereka bisa berenang, sedangkan kami tidak!” keluhnya kesal sambil melangkah kesal pergi.
Ketika Cici sedang marah-marah, lewatlah Ciko, scicak. Ciko penasaran dan mendekati Cici.
“Hai, Cici!” sapa Ciko ramah. Sedari tadi aku dengar kau marah-marah sendiri. Ada apa, kawan?” tanya Ciko.
“Eh, kamu Ciko. Iya nih, aku kesal karena baru saja tikus buruanku kabur. Padahal perutku sudah lapar sekali.”
“Mengapa buruanmu bisa kabur?” tanya Ciko kembali.
“Jadi begini ceritanya. Ketika aku sudah hampir menangkapnya, eh tiba-tiba ia masuk ke dalam got lalu berenang pergi. Sedangkan aku, hanya bisa pasrah melihat mangsaku kabur karena aku tidak bisa berenang. Tuhan sungguh tidak adil. Mengapa kami, para kucing diberi mangsa yang memiliki kemampuan berenang, padahal kami sendiri tidak bisa berenang. Lalu bagaimana kami bisa menangkap mangsa? Huh!” ungkap Ciko kesal.
“Ooo, begitu. Hmm ... kalau aku berpikir sepertimu pasti aku juga akan marah-marah setiap kali gagal menangkap nyamuk. Karena nyamuk bisa terbang, sedangkan aku hanya bisa merayap.”
Cici tertegun sejenak mendengar ucapan Ciko. Kemudian ia berkata, “lalu, apa yang kau lakukan?”
“Yakinlah Kawan, Tuhan itu Maha Pengasihlagi penyayang kepada semua makhluknya. Termasuk dirimu, Kawan. Jadi tidak mungkin Dia tega menyengsarakan kita. Bahkan hewan melata seperti aku sekalipun. Kita hanya diminta untuk sabar dalam berusaha.”
Cici merasa tersinggung dan langsung memotong perkataan Ciko. “Aku sudah berusaha. Tapi ketika aku hampir mendapatkannya, mangsaku malah kabur dengan mudahnya.”
“Nah, untuk itulah kita harus bersabar, Kawan. Kadang aku pun gagal menangkap mangsaku, si nyamuk. Tetapi aku yakin bahwa Tuhan telah menyiapkan rezeki untukku. Lalu tanpa kuduga, tiba-tiba aku menemukan remah-remah yang lezat. Maka aku pun bersyukur. Jadi, nikmat Tuhan mana lagi yang dapat kita dustakan, Kawan?" ujar Ciko menambahkan.
Cici terdiam agak lama. Ia seperti berusaha merenungkan dalam-dalam perkataan kawannya itu.
 “Baiklah, Kawan. Terima kasih atas nasihatmu. Mulai sekarang aku tidak akan mengeluh jika gagal mendapatkan mangsa,” ujar Cici pada akhirnya. Tak tampak lagi kekesalan di wajahnya.

“Sama-sama, Kawan. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku juga belum makan hari ini,” ujar Ciko sambil berlalu pergi.[]

*Cerpen ini tergabung dalam Antologi Kisah Burik, Bakka, dan Kallang
Cici dan Ciko Reviewed by rumahkayu on 17.41.00 Rating: 5 Cerita  Sri Wahyuningsih  C uaca hari itu sangat panas. Cici yang baru bangun dari tidurnya tiba-tiba merasa sangat lapar. Ia pun ...

Tidak ada komentar: