PULANG - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Senin, 17 Oktober 2016

PULANG

Seseorang berkirim pesan pada pemuda tanggung yang kebetulan hendak mengadu nasib di perantauan. Dimintanya ia mencariku. Katanya, tak sulit menemukan lelaki sepertiku di tengah hiruk-pikuk ibukota. Benar saja, tak perlu berhari-hari, dua jam selepas sampainya pemuda di kota, ia sudah berdiri di depan pagar rumahku. "Ada pesan," katanya. Aku setengah percaya. Di ibukota banyak macam ragam manusia. Ia masih berdiri di depan pagar yang terkatup rapat. Aku mengamatinya dari pintu besar. "Dari seorang perempuan bernama Surmilah," imbuhnya. Jantungku menghentak. Bukan main kerasnya. Dengan tubuh mendingin, kupersilakan pemuda itu masuk dan duduk di teras depan. Sebentar lagi, segelas minuman terhidang bersama kudapan.

"Ceritakan padaku!" pintaku dengan bulir-bulir keringat mulai berjatuhan. Pemuda tergagap.

"Aku tak punya cerita," dalihnya tak mengerti.

"Ceritakan padaku tentang Surmilah, Anak muda!" Aku setengah menghardik. Ia tidak terkejut.

Sejenak ia bungkam. "Hm, aku tak tahu banyak. Aku bahkan baru tahu, bahwa perempuan tua yang kerap menghabiskan petang duduk di peron stasiun dekat rumahku, bernama Surmilah, dan tiba-tiba saja ia mengetuk pintu di malam jelang aku berangkat ke ibukota. Katanya, aku harus menyampaikan pesan. Ia bahkan setengah yakin kau hidup atau mati!" Pemuda mengangkat bahunya. Ada jengkel dalam dadaku.

"Setidaknya kau masih hidup, tak repot aku harus menyelidiki satu per satu pusara di kota ini. Mending kalau kau dikubur, kalau tidak," katanya lagi. Sungguh menjengkelkan.

"Kau bahkan tak perlu repot-repot mencariku." Nadaku kesal.

"Oh benar juga." Air mukanya berubah. Matanya mulai memerah. "Buat apa pula aku repot-repot mencari lelaki sialan yang padanya harus kusampaikan pesan dari perempuan tua yang saban petang menunggui anaknya yang tak tahu diuntung, untuk memintanya pulang! Oh!" Ia mengerang.

"Betul sudah. Nak berbilang masa pun, Malin Kundang selalu punya penerus."

Pemuda berlalu. Ia tak sedikit pun menyeruput teh yang dihidangkan, apalagi mencicipi kudapan. Ia pergi. Tugasnya sudah selesai. Pesan sudah sampai. Sayangnya, ada tamparan keras di pipi kurasakan. Sangat keras bukan main![YS]

#RumahkayuIndonesia
#RumahkayuPublishing
#Rumahkayu
PULANG Reviewed by Alizar Tanjung on 21.22.00 Rating: 5 Seseorang berkirim pesan pada pemuda tanggung yang kebetulan hendak mengadu nasib di perantauan. Dimintanya ia mencariku. Katanya, tak su...

Tidak ada komentar: