RANTAU DALAM TEMPURUNG KEPALA - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Senin, 31 Oktober 2016

RANTAU DALAM TEMPURUNG KEPALA

Cerpen ALIZAR TANJUNG

Misbah merasa hidupnya masih seputar pintu, dapur, sebidang tanah, dan kandang sapi lengkap sapi jantan Bapak. Dia mengeratkan ikatan kain sarung. Dia lilitkan dua kali lilitan kain sarung di pinggang. Kemudian mengambil sabit yang menancap di dinding dapur anyaman manau. Rajut yang tergantung di langit-langit dapur yang penuh arang. Telinganya memerah. Panas kupingnya mendengar jawaban Bapak yang lagi-lagi melarang dia merantau.
Dia ingin sekali merantau. Terserah ke mana saja. Hal terpenting diizinkan merantau oleh Bapak dan Ibuk. Asal yang namanya merantau. Sudah senang hati dia. Soal di rantau menjadi gelandangan lampu merah, pengamen dari pintu kopaja ke pintu kopaja berikutnya, ngelem dari persimpangan ke persimpangan berikutnya, pedagang asongan di kota besar, itu urusan nanti. Dia ingin merantau. Pokoknya merantau. Titik. Toh rantau tidak sekejam yang dibayang-bayangkan teman-temannya yang sudah kembali di rantau. Kalau ada teman-teman yang memang tidak sukses di rantau, tak lain dan tak bukan, karena memang dasar temannya saja yang tidak becus kerja. Kalau ada sedikit untung di rantau buat pembeli telepon pintar, komunikasi juga lebih gampang. Sedikit-sedikit dapat mengirim foto lewat WA. Sediki-sedikit dapat komunikasi lewat video melalui line.
“Urungkan niatmu menyabit rumput gajah. Perasaanmu lagi sedang tidak tenang,” ujar Bapak menegur Misbah yang melewati ruang tamu dari dapur. Dia memanggil Misbah untuk duduk bersama dirinya di ruang tengah. Duduk sembari bersila. Bapak memelintir nipah.
“Begitu cepat Bapak menangkap perubahanku,” ujar Misbah. Dengan telinga yang masih panas dia menuruti kemauan Bapak. Misbah duduk berhadap-hadapan bersama Bapak. Hanya berpisahkan sepiring goreng ubi jalar di antara mereka. Dan satu gelas kopi pahit.
“Orang tua itu arif, bijaksana,” ujar Bapak. Bapak memelintir kumisnya. Sehingga ujung-ujungnya naik ke atas. memiring kepala. Bicara tanpa melihat Misbah. “Nantik kalau kau sudah tua, kau akan mengerti. Apa yang aku lakukan adalah benar.”
“Benar menurut kehendak Bapak!”
“Benar menurut hati kecil kita yang paling murni,” ujar Bapak. Suara Bapak tetap setenang suara ketika dia dalam keadaan bahagia. “Kau sudah dewasa, tetapi terkadang masih saja serupa anak kecil yang hari kemarin masih merengek-rengek naik ke pundak Bapak.”
Suara Bapak yang tenang begitu menakutkan bagi Misbah. Ketenangan yang menjadi sumber kekuatan mengerikan bagi Misbah. Suara itu mengungkung Misbah.
“Apa yang Bapak inginkan dari diri saya?” Seumur hidup tidak pernah Misbah sekasar ini bicara dengan Bapak. Sudah Misbah tahan suaranya agar tidak meninggi. Tetapi tetap saja suaranya meninggi. Dan suara itu lepas juga kepada Bapak setelah dia tahan-tahan semenjak dia mengikat sapi jantan Bapak di gurun di depan rumah.
“Tepatnya apa yang kamu inginkan terhadap dirimu sendiri!” ujar Bapak menjawab dengan tenang. Mata Bapak terangkat. Sorot mata Bapak menatap pupil mata Misbah. Sorot mata itu tenang. Sorot mata itu memandang dalam-dalam ke sorot mata Misbah.
“Aku ingin merantau mencari perasaian hidup?” Misbah duduk tegang di depan Bapak. Urat-urat lehernya menegang.
“Perasaian hidup yang bagaimana yang kamu inginkan?” Bapak melentikkan abu nipah ke piring alas cangkir kopinya. Kemudian menarik tepian kain sarung menutupi pundaknya. Kain sarung itu hampir menutup setengah rambutnya yang cepak-cepak keputihan.
“Aku ingin mengalir dalam darahku darah perantau, bukan darah anak kampung yang jalannya hanya selingkaran rumah induknya.” Suara Misbah semakin meninggi.
“Apa yang kamu ketahui tentang rantau?”
“Pergi mengadu nasib di negeri orang.” Suara Misbah mulai menurun.
“Terlalu mudah kau menyimpulkan tentang rantau wahai anakku. Tidakkah kau tahu rantau itu adalah soal menundukkan dirimu sendiri dari kebuasan yang bergelora dalam diri setiap anak Adam.”
“Karena itu aku ingin merantau, biar aku lebih mengenali diriku sendiri.”
Rantau bukan hanya sebatas keinginan wahai anakku. Rantau soal bagaimana engkau merenungi jalan yang kau pilih. Rantau soal langkah pertama dan langkah terakhir yang saling bertemu. Rantau soal seberapa kuat menjadi dirimu sendiri. Aih, tidak dikatakan kata-kata demikian oleh Bapak ke Misbah. Orang lagi marah, tidak terkontrol dirinya, begitulah kepercayaan diri tua Bapak.
“Kau merantau karena orang lain juga merantau. Sangat tidak bertanggungjawab,” ujar Bapak. Suara Bapak, pelan sorot mata Bapak Tajam. Sapi di luar dengan lahap memakan sisa-sisa rumput ilalang muda kemarin.
“Buatkan kopi untuk anak bujangmu ini, Gadih,” ujar Bapak meneriakkan ke dapur. Kemudian Bapak melanjutkan cerita bersama Misbah.
“Seperti itukah pendirianmu, Misbah.”
Misbah tidak menjawab. Dia tahu Bapak sedang menasihatinya. Nasihat yang bercampur kemarahan. Seperti halnya dirinya tidak pernah Bapak berbicara sebegitu lantangnya kepada dirinya. Baru sekali ini. Nyali Misbah menciut.
“Apa yang kamu tentang dari hidupmu di kampung ini?”
“Tak lebih sebagai anak muda yang menyabit rumput saban pagi dan petang hari.” Pagi-pagi berangkat menyabit rumput ke Rawang, terkadang ke Ruangsudu, terkadang ke Buahpuncak, terkadang ke Kapalotabek. Siang ke ladang. Sore menyabit rumput lagi. Setelah itu bersenda gurau di warung, bermain domino, sembari menunggu malam hari. Malam mengaji. Setelah itu tidur bersama teman-teman sembari bercerita tentang begitu indahnya pasar kain di pasar Bukitsileh di hari Jum’at dengan para pacar. Aih, membosankan rutinitas itu bagi Misbah.
Teman-teman sebayanya sudah merantau. Dia saja yang belum. Apa kata teman-temannya nantik? Aku masih mengEkor indukku. Malu Misbah dengan kata hati kecilnya itu.
“Kau terlalu dangkal dalam menyimpulkan apa yang kamu jalani selama ini. Hidup bukanlah sebatas apa yang terlihat. Seperti halnya rantau mengkaji apa yang tersembunyi, anakku. Percayalah apa yang kamu butuhkan ada di sekelilingmu. Tergantung bagaimana kamu merenungi dirimu sendiri.”
Bapak meneguk kopi. Ibuk menghidangkan secangkir Kopi. Dia tidak ingin mencampuri urusan laki dan anaknya itu. Dia buru-buru kembali ke dapur. Melanjutkan pekerjaan memasak gulai kentang campur ikan teri.
“Sabit yang kau bawa saban hari bukanlah sekedar sabit wahai anakku. Ini persoalan bagaimana engkau mengendalikan mata sabit yang tajam, tentang bagaimana engkau melihat kehidupan dengan cara yang amat berbeda.”
“Terlalu rumit bagiku untuk mengerti, Pak.”
“Kerumitan hanya ada dalam kepala. Lihatlah sesuatu itu dengan cara yang berbeda, niscaya yang kamu anggap rumit itu adalah mudah. Kau mengendalikan mata sabitmu dengan amat baik, tentu harusnya juga mudah bagi dirimu mengendalikan dirimu sendiri, anakku.”
Misbah menyentuh mata sabitnya. Kemudian meletakkan di atas rajut. Dia sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Bapaknya.
“Bagaimana mungkin itu mudah bagiku, Pak?”
“Sabitmu selama ini sudah menghidupkan sapi jantanmu wahai anakku. Kau memberi hidup bagi kehidupan lainnya. Dalam dirimu mengalir tentang bagaimana menghargai hidup. Hargai dirimu sendiri, maka kau menjadi perantau yang sebenarnya. Soal pergi menyabit saban hari itu hanyalah soal rutinitas. Soal bagaimana kau mengendalikan mata sabitmu, itulah soal hidupmu.”
Bapak menggulung nipah ketiganya. Melilitkan candu kopi gulungan nipah. Kemudian menghirupnya dengan amat pelan. Tenang. Pipi Bapak merona merah. “Kau ingin mencobanya?” Misbah menggeleng. Bapak meninggalkan Misbah. “Sekarang kalau kau ingin pergi menyabit rumput, pergilah. Kalau kau ingin pergi merantau juga, merantaulah ke dalam dirimu sendiri.” Bapak berlalu ke halaman, menuju gurun, menanggalkan tali pautan sapi jantannya, mengiritnya ke tengah-tengah .
Misbah memegang sabitnya erat-erat. Dia genggam rajutnya kuat-kuat. Dia masih bersila seperti sediakala. Nasihat Bapak tentang rantau dalam diri hanya membuat dia berkerut kening. Buru-buru dia berdiri dengan hati yang kacau, menarik sabit, pergi menyabit ke Ruangsudu. *September 201502016

 *Pertama kali diterbitkan Padang Ekspress, 30 Oktober 2016

*Alizar Tanjung, lahir di Karangsadah, 10 April 1987. Novelnya Anak-anak Karangsadah. Buku cerpennya Jemari yang Saling Genggam.
RANTAU DALAM TEMPURUNG KEPALA Reviewed by rumahkayu on 01.02.00 Rating: 5 Cerpen ALIZAR TANJUNG Misbah merasa hidupnya masih seputar pintu, dapur, sebidang tanah, dan kandang sapi lengkap sapi jantan Bapak. ...

Tidak ada komentar: