Seno Gumira Ajidarma: Menulis Itu Bebas - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 30 Oktober 2016

Seno Gumira Ajidarma: Menulis Itu Bebas

“Boleh bisa apa saja, termasuk menulis. Boleh tidak bisa apa saja, kecuali menulis.”     Kutipan tersebut merupakan jawaban Seno Gumira Ajidarma saat ditanya bagaimana cara menjadi pengarang hebat. Ia sedang bicara tentang konsistensi, bahwa menulis adalah soal memberi makan eksistensi.
Sebagaimana kita tahu, Seno sangat piawai menggunakan gaya kepenulisan fragmentaris, dan itulah yang membuat cerpen-cerpennya selalu meninggalkan kesan mendalam, hingga beberapa kritikus juga menyebut cerpen-cerpen Seno sebagai ”cerpen suasana“ atau “sastra koran”.           Jika menilik apa yang diungkapkan oleh Seno, yang menyebut kreativitas kepenulisannya dengan “tergantung keadaan,”  maka bisa dipastikan Seno tidak memiliki ritual khusus dalam menulis, dan tidak secara khusus mempelajari teknik menulis untuk menghasilkan karya.
Perkara keterampilan dan teknik sebetulnya tidak pernah ia sadari bagaimana mempelajarinya, kecuali sering menulis saja. ‘Tergantung keadaan’.

Pembangkang Yang Sastrawan

Lahir di Boston, 19 Juni 1958, Seno Gumira Ajidarma merupakan sosok pembangkang yang lahir dari pasangan Prof. Dr. MSA Sastromidjojo dan Poetika Kusuma Sujana.      Sang ayah adalah guru besar Fakultas MIPA di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sedangkan sang ibu memiliki profesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam.                Dikatakan pembangkang karena sejak kecil Seno telah memiliki pemikiran yang bertolak belakang dengan kedua orangtuanya. Meski nilai pelajaran ilmu pasti tidak jelek, namun Seno tak begitu suka dengan pelajaran ilmu pasti, aljabar, ilmu ukur, dan juga tak suka ilmu hitung. Menurutnya, semua hal dalam ilmu pasti harus akurat dan pasti, dan itu tidak menyenangkannya.
Dari SD sampai SMA, Seno acapkali membangkang terhadap peraturan sekolah, sebagai contoh sewaktu SD ia mengajak teman-temannya untuk tidak ikut kelas wajib kor, sementara saat  SMP ia memberontak tidak mau memakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, mengenakan batik padahal yang lain berbaju putih, dan gondrong padahal teman lain berambut cepak. Ia juga pernah dihukum karena membolos.
  • Mengembara Mencari Pengalaman

Setelah lulus SMP, Seno tidak mau melanjutkan sekolah. Imajinasinya liar akibat terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache karya pengarang asal Jerman, Karl May, ia pun ’minggat’ mencari pengalaman.
Berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur, selama tiga bulan Seno mengembara ke Jawa Barat, lalu ke Sumatera. Sampai akhirnya menjadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Alih-alih meminta uang kepada ibunya karena kehabisan uang, sang ibu malah mengirim tiket pulang kepadanya, sehingga Seno pulang dan meneruskan sekolahnya kembali.
  • Liar, Bebas, Tanpa Aturan

Seno sengaja memilih SMA yang mengijinkan untuk tidak mengenakan pakaian seragam, sehingga ia bebeas mengenakan celanan jins dan berambut gondrong.     Komunitas yang dipilihnyapun sesuai dengan jiwanya, bukan teman-teman di lingkungan elit perumahan dosen Bulaksumur – UGM, tapi komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan mengebut di Malioboro. Seno menyukai hal itu karena liar, bebas, dan tidak ada aturan.

Proses Kepenulisan

Seno mengatakan bahwa tidak ada sastra yang adiluhung, menurutnya semua tulisan boleh disebut sastra. Pengklasifikasian sastra dan bukan sastra sudah tidak begitu penting untuk diadakan.     Sebaliknya, akan sangat pas jika disebut tulisan saja, seperti orang mengobrol; mengobrol boleh, tidak mengobrol juga tidak masalah.       Tulisan yang baik menurut Seno adalah yang tidak genit dan tidak diberi beban, yaitu tidak difilosofiskan dan tidak diberat-beratkan.
  • Tulisan Pertama

Remy Sylado sebagai redaktur majalah Aktuil Bandung yang menjadi bacaan wajib anak muda Indonesia tahun 1970-an, berhasil menghancurkan mitos sastra dengan dunia sastra mbeling. Hal itulah yang juga memiliki andil  besar dalam mendorong Seno untuk menulis. Pasalnya, Remy meloloskan puisi Seno yang ia sebut sebagai puisi cukup “jelek”.           Sehingga pada usia 17 tahun puisi Seno sudah masuk Horison yang membuatnya merasa telah menjadi penyair. Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
  • Seniman Harus Punya Karya

Kalau sekarang Seno menjadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Panutan pertama Seno mengenai seniman adalah Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. Tapi, karena seniman harus punya karya, maka ia kemudian membuat karya.

Karya-karya Seno Gumira Ajidarma

Seno malang melintang di dunia sastra Indonesia dengan gaya penulisannya yang khas; meramu kritik politis dengan cerita fiksi yang indah. Setiap detak napas kepengarangan Seno yang ditemukan pada beberapa karyanya seperti “Saksi Mata”, “Penembak Misterius”, “Jazz, Parfum dan Insiden”, “Orang yang Selalu Cuci Tangan“, serta “Kematian Donny Osmond” adalah fakta-fakta kisah pembunuhan biadab juga kekerasan atas nama keamanan yang dimainkan menjadi deretan prosa.
Teknik meramu itu tampaknya membuat Seno bebas menghadirkan fakta secara tersirat di tengah kondisi sosial politik yang ingin membungkam kebenaran. Seno yang berprofesi sebagai wartawan memilih berbicara lewat sastra saat jurnalisme masih dikekang.
Seno telah menulis puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa.  Karyanya yang berjudul “Pelajaran Mengarang” terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999), dan yang terbaru Senja dan Cinta Yang Berdarah (2014). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000), Nagabumi, dan lain-lain.
  • Kebebasan Sukab

Salah satu contoh nyata mengenai kebebasan dalam menulis yang dianut Seno Gumira Ajidarma adalah Sukab. Bila menyebut Sukab, secara otomatis pembaca langsung terasosiasi pada sebuah nama tokoh fiktif karangan Seno GA.             Tanpa membawa-bawa teori, Sukab hanyalah sembarang nama yang Seno pasangkan kepada setiap tokoh, sekadar karena ia malas “mengarang”, menyesuaikan nama dengan karakter tokoh supaya meyakinkan dan lain sebagianya. Setiap kali kesulitan mencari nama, Seno memasang nama Sukab. Toh, sama-sama fiktif, mengapa harus susah-susah mencari nama?         Lalu apakah kemudian Seno konsisten dengan karakterisasi tokoh-tokoh Sukab?       Tidak.      Sukab pernah menjadi nama remaja 17 tahun, pernah menjadi nama pemuda perlente, nama penggiring bola absurd, dan tak jarang hanya menjadi nama tokoh numpang lewat tanpa sempat menjadi karakter.        Bahkan sebenarnya Sukab pun pernah mati, lebih dari sekali.
  • Trilogi Insiden: Sastra Bebas Bicara

Buku Trilogi Insiden ini satu-satunya kumpulan tulisan yang unik karena menggabungkan tiga genre sekaligus, yaitu kumpulan cerpen (Saksi Mata), novel (Jazz, Parfum, & Insiden), dan esai (Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara). Ketiganya mengandung fakta seputar insiden Dili yang ditabukan media oleh massa semasa Orde Baru.
Kisah-kisah dalam kumpulan cerpen Saksi Mata mengambil tema ”kekerasan negara“ yang terinspirasi dari kisah nyata orang-orang di Timor-Timur zaman Orde Baru. Kasus penculikan, pembunuhan massal, dan penyiksaan menjadi isu kontroversial sekaligus menyajikan rasa penasaran untuk dibaca sampai tamat.                 Sedang, cerita pada novel Jazz, Parfum, dan Insiden, Seno terlihat menyatukan pengalamannya sebagai wartawan dengan hal-hal indah seperti musik jazz dan parfum. Tokohnya berprofesi sebagai wartawan majalah JJ yang hobi mendengarkan musik jazz dan bergaul dengan wanita-wanita yang memiliki kegemaran terhadap aneka parfum.
Dari beberapa potongan cerita terlihat Seno mampu membuktikan dirinya mengetahui begitu banyak detail musik jazz, lagu-lagu, dan penyanyinya. Begitu pula dengan detail parfum yang Seno tulis dengan cermat dan teliti.
Bagian ketiga berisi kumpulan esai ”Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara“ berkisah mengenai Seno dan kawan-kawan di majalah JJ saat mengalami pembredelan karena masalah pemberitaan insiden Dili. Press Indonesia waktu itu banyak dikecam oleh penguasa karena memberitakan hal yang merugikan politik negara. Seno tak kehabisan akal, seperti yang ia katakan: ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena, bila jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran. Kebenaran bisa sampai apapun bentuknya.

Penghargaan yang Diraih Seno Gumira Ajidarma

Seno tergolong penulis yang padat aktivitasnya: mengajar di Institut Kesenian Jakarta, menjadi pembicara di mana-mana, menulis untuk majalah, koran atau seminar, menulis novel dan skenario, melayani wawancara, dan tentu saja urusan keluarga.
Kredibilitas Seno tidak diragukan lagi. Dengan kesibukan sedemikian rupa ia berhasil menyabet sederet penghargaan. Pada tahun 1987 ia mendapat Sea Write Award berkat cerpennya Saksi Mata. Pada tahun 1997 ia memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, serta Khatulistiwa Literary Awards pada tahun 2004 dan 2005. Tahun 2012 ia juga mendapat Achmad Bakrie Awards bidang kesustraan, namun ia tolak: sebaiknya penghargaan tersebut diberikan kepada orang lain.

Menulis Itu Bebas

Menulis bebas yang dimaksudkannya adalah dengan tidak mengarahkan tulisannya pada sastra. Seno gemar bereksperimen dari satu cerpen ke cerpen lain. Dia kadang memainkan cerita yang berbingkai, atau bermain-main dengan majas hiperbola dan metafora dalam imaji dan alur yang penuh kejutan.
Seno, yang sempat menggunakan nama samaran Mira Sato, membebaskan imajinasinya dengan mencoba berbagai wahana. Ia juga tidak pernah pusing memikirkan aliran tulisannya, dan apakah tulisannya bagus atau tidak. Ia menyerahkan semuanya kepada pembaca. [uth]
Kutipan;
[1] Catatan Penyunting ’Kerja Pengarang dan Jejak Cerita SGA‘; Senja dan Cinta yang Berdarah, Antologi Cerita Pendek di Harian Kompas 1978 – 2013
Sumber Rujukan;
[1] Seno: Saya Hanya Ingin Mengembara surahsastra.com Diakses pada 25 Oktober 2014
[2] Gambar ilustrasi Seno GA tempo.co Diakses pada 25 Oktober 2014
Seno Gumira Ajidarma: Menulis Itu Bebas Reviewed by rumahkayu on 23.06.00 Rating: 5 “Boleh bisa apa saja, termasuk menulis. Boleh tidak bisa apa saja, kecuali menulis.”      Kutipan tersebut merupakan jawaban Seno Gumira ...

Tidak ada komentar: