Seribu Pohon - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Kamis, 20 Oktober 2016

Seribu Pohon

Cerita I Gusti Made Dwi Guna






I
Ilalang telah lama menghilang dari wilayah Apit Tegal. Hamparan tanah itu semakin tandus. Semua menanti lahirnya ilalang muda yang biasanya muncul menembus permukaan tanah dalam warna tudung kemerahan. Tanah berdebu retak-retak. Beberapa gurguran daun kering turut bergulung ditiup angin bersama debu. Demikian pula bagi siapa saja yang melintas tak akan luput dari sengatan matahari yang kian terik membakar. Kemarau mahapanjang.
Anehnya, ada satu pohon yang masih tetap hijau. Sebatang pohon beringin. Meskipun pohon lain sudah kering dan meranggas, pohon berbatang warna keabuan itu tak menunjukkan tanda-tanda kekurangan air.
Seribu Daun, begitulah semua binatang menyebut pohon beringin tua yang telah menjadi rumah mereka itu. Di sana pulalah tinggal berbagai macam burung. Dalam belitan dahan-dahan rindang hampir tak terhitung jenis maupun jumlah burung yang tinggal dan membangun sarang. Pada pagi hari, kekayaan Seribu Daun paling jelas terlihat. Segerombol burung Kepecit, mencicit terbang melayang, berpindah dari satu ranting ke ranting lainnya. Seolah membangunkan seisi Seribu Daun akan hari yang telah membentang. Diikuti kicauan Becica yang melengking-lengking lebih keras.
Selanjutnya giliran Kukur, Puteh, dan Manyar yang sesekali terbang mengitari Seribu Daun. Beberapa Cangak juga melayang ringan. Burung yang lebih besar seperti Sawan Ujan dan Kugkugan memilih diam sambil menyisir bulu yang aneka warna.
Selain itu, terdapat pula kawanan lebah pada salah satu bagian batang Seribu Daun yang berlubang. Suara dengung selalu terdengar. Di bagian ranting dan akar yang merumbai sekumpulan kelelawar bergelantungan. Sama seperti Celepuk, si burung hantu berbulu abu, mereka memilih tempat rimbu daun terdalam sehingga terhindar dari usikan pagi Kepecit. Pada siang hari tentu saja mereka tidur sebelum berangkat mencari makan dari sore hingga pagi keesokan hari.
Setiap hari selalu dipenuhi canda tawa. Sapaan ramah Seribu Daun terucap bagi siapa saja yang melintas. Pada suatu siang, Kuda yang berbulu hitam dengan bercak abu-abu di dekat ekornya datang menemui Seribu Daun.
“Ada apa kuda? Kulihat kamu sangat kelelahan,” tanya Seribu Daun.
“Seribu Daun, izinkanlah aku berteduh sebentar. Aku sudah tak kuat lagi berjalan dalam cuaca panas begini,” ucapnya sambil merebahkan tubuh.
“Silakan. Tetapi jangan kau ganggu rumah semut-semut itu. Bisa-bisa mereka marah.”
“Tolonglah kami,” ratap Perit Jantan pada hari berikutnya. Ia datang bersama Perit Betina.
“Ada apa Perit? Apakah kalian dalam kesulitan?”
“Rumah kami tumbang akibat ulah para penebang liar. Kami sekarang tak punya rumah. Berilah kami tempat di salah satu dahanmu,” sahut Perit Betina lirih.
“Aku sebenarnya ingin menolong, tapi kalian lihatlah sendiri. Semua dahanku telah ditempati. Di mana kalian akan tinggal?”
Suara mengantuk terdengar dari salah satu rerimbunan daun.
“Kalian gunakan tempatku saja. Tetapi kita berbagi, ya? Aku tinggal di sini dari pagi sampai sore, setelah itu kalian tinggallah sementara aku keluar rumah mencari makan,” kata Celepuk, si burung hantu menawarkan dahan tempat tinggalnya.
Kedua perit itu tersenyum lega. Untuk sementara mereka akan punya tempat tinggal.
“Usul Celepuk bagus juga. Sementara itu aku akan menumbuhkan dahan baru buat kalian, tetapi mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama.”
“Asal jangan sampai mengusik tidurku saja,” canda Cerukcuk, si burung mungil keabuan dari dahan yang paling bawah. “Aku tak suka diganggu.”
Maka hari itu bertambahlah lagi keluarga besar penghuni Seribu Daun. Beberapa waktu telah berlalu. Perit Jantan dan Perit Betina belum juga mendapatkan tempat sendiri di Seribu Daun. Ia masih harus berbagi dengan Celepuk si tukang begadang.
Ketika pada suatu siang mereka berdua berjalan-jalan, dilihatnya tiga orang bertopi lebar berjalan ke arah Seribu Daun. Walaupun mereka masih jauh, namun Perit Jantan sudah dapat mengenali siapa ketiga orang itu. Sebab merekalah yang dulu merobohkan rumahnya.
“Pohon itu harganya pasti mahal kalau kita jual nanti,” kata yang berjalan paling depan sambil memandang kapaknya yang berkilat-kilat.
“Aku harap ceritamu benar,” sahut si lelaki paling belakang sambil menepuk pundak yang berjalan di tengah. “Sebab kita sudah cukup lama tidak menemukan pohon besar untuk dijual.”
“Mana mungkin aku berbohong. Lihatlah dari sini.” Kini lelaki yang berjalan di tengah berhenti sambil menunjuk ke arah depan. “Dari kejauhan saja sudah bisa kita lihat batangnya besar dan lurus. Kalian berdua lihatlah!” lanjutnya sambil menunjuk ke depan. Ketiganya lalu tersenyum lalu bersepakat beberapa hari lagi akan kembali dengan kapak yang lebih besar dan lebih tajam.
Mendengar semua obrolan itu tanpa berpikir panjang lagi Perit Jantan menghambur terbang diikuti Perit Betina.
“Kita harus memberi tahu hal ini kepada semua penghuni Seribu Daun!” jerit Perit Jantan.
Dalam waktu beberapa saat, semua telah berkumpul untuk menyusun rencana penyelamatan Seribu Daun. Rencana matang pun disusun. Semua penghuni Seribu Daun berbisik dalam menyusun rencana. Semuanya saling angguk. Sesekali menoleh ke samping seperti mengawasi. Hingga akhirnya saat hari menjelang sore mereka telah bersepakat.
Keesokan harinya sekumpulan lebah bergulung meninggalkan Seribu Daun. Terbang bergerombol ke arah timur laut. Rupanya mereka menuju Alas Badeng. Sementara Perit terbang sendiri ke arah barat. Kembali ke tempat di mana dia temukan orang-orang yang hendak menebang Seribu Daun. Ketika siang menjelang, maka burung lain akan menggantikannya, sementara ia sendiri akan kembali ke Seribu Daun untuk beristirahat. Demikianlah selanjutnya untuk beberapa hari. Semua penghuni Seribu Daun bersiap menunggu datangnya ketiga orang bertopi lebar.
Hingga pada suatu hari, tiga orang bertopi lebar benar-benar datang. Masing-masing memanggul sebilah kapak yang berkilau. Ketiganya langsung bergegas menuju Seribu Daun. Mengitari pohon raksasa itu, bersiap-siap mengayunkan kapak masing-masing.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara berdengung. Tak berselang lama, dari dalam semak-semak Alas Badeng tampak kepulan mahabesar.
“Kawanan lebah!” pekik salah seorang parau.
Tak ada pilihan lain, ketiganya mencoba memanjat Seribu Daun. Baru beberapa pijakan ketiganya dikagetkan serbuan aneka burung yang merubungi. Jatuh terjerembab para lelaki bertopi lebar itu terkapar di tanah. Ketika mencoba bangkit dirasakannya ada sesuatu yang aneh dengan tempat mereka berpijak.
Mengapa tanah ini begitu lembek?
“Ini bukan tanah, tetapi kumpulan ular!” salah seorang menjerit serak.
“Cepat panjat pohon yang kering itu!” ucap salah seorang lagi.
Ular-ular mulai bergerak menggeliat di sela-sela kaki. Para pria bertopi lebar terbirit. Mereka menuju pohon kering yang telah meranggas daun-daunnya dan memanjat dengan tergesa. Beruntunglah ular-ular tidak ada yang ikut naik. Mereka hanya berdesis-desis di tanah. Beberapa ada yang melilit melingkar di pangkal pohon. Para pria bertopi lebar bertanya-tanya, mengapa ular-ular itu di sana, padahal sesungguhnya mereka bisa saja memanjat melata. Namun seolah-olah membiarkan mereka bertiga terkencing-kencing ketakutan di atas pohon.
***
Beberapa hari telah berlalu, hujan sudah mulai turun di kawasan Apit Tegal. Pohon-pohon mulai bersemi sehingga kawasan tersebut terlihat semakin hijau segar. Seribu Daun kini telah memiliki beberapa ranting baru yang cukup kuat bagi keluarga Perit yang baru saja memiliki tiga ekor anak.
Semua penghuni Seribu Daun terlihat ceria. Sangat jauh berbeda dengan suasana pada salah satu pohon mati di bagian lain Apit Tegal. Tiga orang bertubuh kurus kering dengan baju compang-camping terlihat ketakutan sambil terus memandang waspada pada keadaan di bawah. Wajah mereka pucat, kotor, dengan rambut gersang seperti ranting meranggas saat kemarau panjang. Tidak ada yang berani merangkak turun. Sebab setiap hari selalu saja ada berbagai ular sebesar betis mendesis di bawah. Kini di sela-sela rumput yang mulai tumbuh subur. Setiap hari seolah datang bergiliran kumpulan ular dengan jenis berbeda.
Entah dari mana datangnya ular-ular itu dan kapan mereka akan menjauh, ketiga penebang liar itu tak pernah tahu.[]

Taman Puseh Tajen, Mei 2007—Mei 2016
*Cerpen ini salah satu cerpen yang tergabung dalam antologi Negeri Seribu Pohon
Seribu Pohon Reviewed by rumahkayu on 17.42.00 Rating: 5 Cerita  I Gusti Made Dwi Guna I Ilalang telah lama menghilang dari wilayah Apit Tegal. Hamparan tanah itu semakin tan...

Tidak ada komentar: