Avianti Armand, kegelisahan sang arsitek - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Kamis, 03 November 2016

Avianti Armand, kegelisahan sang arsitek

Dipercaya memimpin tim kurator Indonesia di pameran arsitektur internasional di Venesia, arsitek Avianti Armand menjelaskan sikap dan pemihakannya tentang wacana dan kerja arsitektural.
Indonesia, untuk pertama kalinya, diundang berpartisipasi dalam Biennale Arsitektur Venesia ke-14, salah-satu pameran arsitektur berpengaruh di dunia.
Digelar di kota wisata Venesia, Italia, para arsitek dari berbagai negara kali ini diajak untuk menelusuri, menggali informasi dan pengalaman dalam arsitektur masing-masing negara dalam kurun waktu 100 tahun terakhir.
"Tema tahun ini adalah tentang sejarah," kata Avianti Armand, arsitek sekaligus ketua tim kurator Indonesia dalam Biennale Arsitektur Venesia ke-14, dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu, 30 Juli 2014.
Dikuratori arsitek asal Belanda, Rem Koolhas, 69 tahun, pameran arsitektur yang digelar sejak Juni lalu ini memang menitikberatkan pada hal-hal "kecil" dalam arsitektur -yang jarang dibahas secara khusus- dilihat bagaimana posisinya dalam sejarah.
Sesuai tema pameran yang menekankan "hal-hal kecil" itulah, tim kurator Indonesia kemudian melakukan diskusi panjang lebar dan akhirnya mereka memilih tema "Ketukangan: Kesadaran Material" dilihat dari kacamata sehari-hari.
Memilih hal yang paling mendasar, Avianti dan kawan-kawan lantas merujuk pada keterampilan dan nilai hidup yang dilakoni para pembuat bangunan Indonesia terhadap materi kayu, batu, bata, baja, beton dan bambu.
Image captionAvianti dan tim kurator memilih tema ketukangan yang selama ini jarang disentuh dalam wacana arsiktektural.
"Cerita sehari-hari yang sebetulnya memang datang dari dalam praktek arsitektur itu sendiri," kata perempuan kelahiran 1969 ini.
"Tapi," lanjutnya, "justru itu sebetulnya yang hal-hal yang praktis, yang pragmatis, yang dekat sekali dengan praktek kita."

'Arsitektur bukan karya alone genius'

Pilihan tema tim kurator Indonesia tentang "ketukangan" dan menghindari cerita besar sosok arsitek dan label-label yang selama ini mendominasi wacana arsitektural Indonesia, tentu saja, sempat mengundang kritik di kalangan arsitek Indonesia.
Apa jawaban Avianti? "Arsitektur itu tidak pernah merupakan hasil alone genius."
Menurutnya, arsitektur merupakan hasil kerjasama berbagai pihak dan bukanlah semata karya sosok arsitek, seperti yang dibayangkan banyak orang selama ini.
Image copyrightAVIANTI ARMAND
Image captionDi Paviliun Indonesia, tim kurator memaparkan 100 tahun perjalanan arsitektur Indonesia.
Image copyrightAVIANTI ARMAND
Image captionAvianti Armand (kiri) dan tim kuratornya berhasil memenangi kompetisi dalam penjurian terbuka.
"Padahal," imbuhnya, "si arsitektur tidak bisa berbuat banyak kalau tidak didukung, misalnya kontraktor, mechanical electrical consultantlighting designer, atau bahkan tukang yang sangat sederhana, misalnya tukang batu."
Sang arsitek, lanjutnya, juga tidak akan bisa berbuat banyak, apabila dia tidak memiliki pengetahuan mengenai material dengan baik.
"Dan untuk mendapatkannya (pengetahuan tentang material), dia (arsitek) harus banyak berdiskusi dengan tukang tukang kayu. Karena, yang banyak tahu tentang karakter dan sifat kayu adalah tukang kayu."
Itulah sebabnya, demikian tandasnya, tim kurator - yang terdiri Avianti Armand, Achmad Tardiyana, Robin Hartanto, David Hutama, dan Setiadi Sopandi- memilih tema "ketukangan".
"Kita tidak mengangkat satu arsitektur atau beberapa arsitektur. Yang kita angkat justru proses membuatnya (arsitektur) di mana di situ terlibat banyak orang," jelas Avianti yang telah berkarya sebagai arsitek sejak 1992.

Menyisihkan dua tim

Tim kurator yang dipimpin Avianti Armand terpilih mewakili Indonesia setelah menyisihkan dua tim lainnya dalam sebuah penjurian terbuka.
Kompetisi ini digelar oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia pada September tahun lalu.
Di Paviliun Indonesia di Biennale Arsitektur Venesia ke-14, tim kurator kemudian memaparkan 100 tahun perjalanan arsitektur Indonesia.
Pengunjung diajak mengikuti perjalanan enam material -kayu, batu, bata, baja, beton dan bambu- yang disebut "berkontribusi pada terjadinya dialektika ketukangan".
"Bagaimana sebuah material itu punya kisah yang hampir mirip manusia. Bagaimana dia mengalami pasang-surut, kapan dia mengalami krisis, kapan dia menjadi primadona, (dan) kapan dia menjadi simbol sesuatu," jelas penulis buku berjudul Arsitektur yang Lain (2011) ini.
Di ruangan seluas 500 meter persegi, Avianti dan kawan-kawan menyajikan gambar bergerak yang diproyeksikan pada bidang-bidang kaca transparan.
Ada tujuh gambar bergerak yang ditampilkan di ruang pameran, diantaranya bertutur tentang arsitektur Indonesia secara umum serta sisanya fokus pada materi ketukangan.
Sebelum berangkat ke Venesia, tim kurator Indonesia mengamati puluhan bangunan yang tersebar di belasan kota, mulai Jakarta hingga NTT.
"Kami juga bertemu banyak orang... Bukan cuma bertemu tukang yang sangat trampil, tapi juga dengan arsitek-arsitek yang dengan sadar dan dengan krtiis mencoba mempertahankan pengetahuan ketukangan lokal," ungkapnya.

Rumah Kampung

Sebagai arsitek yang telah berkarya lebih dari 15 tahun, Avianti pernah meraih penghargaan Ikatan Arsitektur Award 2008 atas rancangan rumah tinggalnya di wilayah Tangerang Selatan, Banten.
"Rumah kampung", begitu sebutan rumahnya, dia rancang bersama suaminya, Terry Armand, sekitar tujuh tahun silam.
"Kita sebetulnya hanya mengatasi keadaan. Tanahnya 'kan kecil, tetapi kebutuhan kita banyak," ungkap arsitek lulusan Faklutas Teknik, jurusan arsitektur, Universitas Indonesia, seperti membuka rahasia.
Dari kenyataan itulah, Avianti dan suaminya mencoba menghemat ruangan dengan "menggabungkan" beberapa program atau kegiatan dalam satu ruang.
"Nah itu kami coba menggabungkan konsep teras dengan ruang duduk dan ruang makan, juga ruang musik," katanya memberi contoh.
Di dalam rumah itu, mereka juga mencoba menghemat pengunaan energi listrik, yaitu seminimal mungkin menggunakan pendingin ruangan (AC), utamanya di ruangan kamar tidur dan ruang kantor di lantai atas.
Agar tidak terasa panas, "kita bikin sirkulasi udara silang dengan menggunakan kawat nyamuk," ungkap Avianti.
Dan, "Kadang-kadang kalau kita tidur di kamar, rasanya mungkin tidak jauh beda dengan (tidur) di gardu hansip, karena rasanya seperti tidur di luar," katanya seraya tergelak.

Penghargaan sastra

Selain dikenal sebagai arsitek, ibu satu anak ini dikenal pula sebagai penulis fiksi, utamanya puisi dan cerita pendek.
Karya puisi dan cerita pendeknya telah dibukukan dan pernah memenangi penghargaan sastra di tingkat nasional.
Tiga tahun lalu, buku puisinya yang berjudul Perempuan yang Dihapus Namanya berhasil meraih Khatulistiwa Award Literary Award.
Di tahun 2009, cerita pendeknya Pada suatu hari ada ibu dan Radian mampu menggaet penghargaanCerpen Terbaik Kompas 2009.
"Dua-duanya menyenangkan," jawab Avianti seraya tersenyum, saat saya bertanya: mana kegiatan yang paling menyenangkan, dunia arsitek atau menulis.
Dia kemudian menjelaskan kalimatnya yang belum selesai itu: "Maksudnya, arsitek itu profesi formal saya, sementara menulis itu lebih kayak saluran perasaan, kalau saya merasa kesal atau kritik terhadap suatu kondisi tertentu, maka saya tuangkan itu dalam tulisan."
Avianti mengaku lebih ekspresif di dalam menulis, namun di sisi lain dia berterus terang bahwa dia belajar banyak dari arsitektur.
"Pada akhirnya dua hal ini kemudian menjadi seimbang," ujar pengagum penulis asal Jepang, Haruki Murakami ini.
Di kala sibuk menulis, dia mengaku tidak punya klien, sehingga apapun yang dia pikirkan atau kehendaki dapat dia tuliskan.
"Sementara saat berprofesi sebagai arsitek, saya belajar untuk berkomunikasi, belajar untuk mendengar, belajar untuk mengakomodasi banyak sekali kepentingan," katanya.

Perempuan yang dihapus namanya

Membandingkan dengan beberapa karya fiksinya, Avianti mengaku "cukup puas" dengan buku puisinya yang berjudul Perempuan Yang Dihapus Namanya.
"Saya memang mendedidasikan waktu untuk melakukan riset dan menulis tentang perempuan di dalam Alkitab Perjanjian Lama," katanya, membuka kisah perjalanan buku tersebut.
"Kenapa dia paling memuaskan, karena ada satu usaha, ada suatu kerja, waktu yang saya curahkan untuk itu, dan akhirnya bukunya jadi," tambahnya.
Ketika saya tanya mengapa dia menulis buku dengan tema "perempuan", seraya tertawa kecil Avianti menjawab: "Ini bisa disebut kecelakaan. Jadi hidup saya penuh kecelakaan-kecelakaan yang menyenangkan".
Diawali ketika dia diserang insomnia hebat ketika mengandung anak tunggalnya, dia kemudian menghabiskannya dengan membaca "bacaan yang tidak habis-habisnya" yaitu Kitab suci.
Image copyrightENDAH SULWESI
Image captionKarya puisi dan cerpen Avianti pernah meraih penghargaan sastra.
"Tapi semakin saya baca, kok seperti kisah sejarah yang menarik," ujarnya.
Salah-satu temuannya dari kitab Perjanjian Lama dan Baru, demikian pengakuan Avianti, "Saya melihat, perempuan hampir tidak punya peran... (Dan) akhirnya diletakkan ke pinggir."
Dari buku puisinya itu, menurutnya, dia mencoba membaca ulang dan menuliskannya ulang.
"Mudah-mudahan dengan proses pembacan ulang, saya berharap orang tidak terlalu text book," katanya.
Dengan pembacaan ulang itu, Avianti mengharapkan itu dapat digunakan untuk memperjuangkan nasib perempuan agar bisa lebih baik.
"Bisa saja kita membacanya sebagai teks yang dogmatis, tapi kita bisa juga membacanya dengan hati, di mana menurut saya itu paling penting dalam konteks hari ini," Avianti menjelaskan.

Romo Mangun, sang inspirator

Sebagai seorang arsitek, Avianti mengaku sangat terinspirasi oleh mendiang Romo Mangun, seorang rohaniawan, arsitek dan aktivis sosial.
"Dia adalah seorang arsitek yang tidak pernah kehilangan ideologinya," katanya.
Pilihan hidup dan pemihakan yang jelas dari sosok Romo Mangun, demikian pengakuannya, menjadi sangat penting ketika dia dihadapkan apa yang disebutnya sebagai kegelisahan sebagai seorang arsitek.
"Kalau anda berpraktek sebagai arsitek pada umumnya, mungkin Anda punya kegelisahan yang sama seperti saya," akunya.
Image copyrightMANGUNWIJAYA WISDOM
Image captionRomo Mangun (tengah) menginspirasi Avianti dalam menjalankan profesi arsiteknya.
Karena, menurutnya, yang dilayani adalah segmented client. "Klien-klien dengan uang cukup untuk membuat satu bangunan dan klien-klien yang punya uang cukup untuk membayar jasa seorang arsitektur."
"Saya pikir, makin ke sini, ada suatu hal yang tidak dapat saya tampung melalui profesi arsitek, yaitu kegelisahan itu," katanya.
Di sinilah, kehadiran Romo Mangun -yang berlatar arsitek, rohaniawan dan aktivis sosial- selalu membuatnya terinspirasi untuk selalu mendengarkan kegelisahannya itu.
"Saya pikir kita harus selalu mendengarnya," katanya.

Arsitek dan sikap kritis

Dari situlah, Avianti kemudian menyimpulkan, bahwa berpraktek sebagai arsitek secara kritis itu adalah "sangat mungkin dalam bentuk apapun".
"Dan itu justru membuat hidup kita seimbang," tegas Avianti. "Kalau tidak, ya, arsitektur mulai kehilangan ideologi. Hanya bekerja untuk segmented client."
Dia kemudian mencontohkan, pemihakan yang ditunjukkan Romo Mangun dalam berbagai kegiatan sosial, mulai program Kali Code di Yogyakarta hingga aktivitasnya untuk menolak pembangunan bendungan Kedung Ombo.
"Saya rasa dia (Romo Mangun) adalah preseden yang paling kuat di Indonesia," tandasnya.
Meskipun demikian, lanjutnya, Avianti merasa lega karena saat ini bermunculan para arsitek yang berpraktek secara kritis.
Image captionAvianti Armand bersama suami dan putra tunggalnya.
"Yang tidak hanya melakukan pekerjaannya sebagai arsitek yang profesional, tetapi juga melakukan perjuangan untuk misalnya mempertahankan arsitektur tradisional, mempertahankan pengetahuan ketukangan lokal."
Menurutnya, para arsitek kritis seperti itu "ada". "Mereka kurang publikasi, tapi karya mereka nyata di masyarakat," kata Avianti.

http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2014/09/140903_bincang_avianti_armand
Avianti Armand, kegelisahan sang arsitek Reviewed by rumahkayu on 02.55.00 Rating: 5 Dipercaya memimpin tim kurator Indonesia di pameran arsitektur internasional di Venesia, arsitek Avianti Armand menjelaskan sikap dan pem...

Tidak ada komentar: