CERPEN: Dandelion dalam Rindu - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 29 November 2016

CERPEN: Dandelion dalam Rindu

Oleh: Sahila Daniara

Sumber: https://ngohuyanh.wordpress.com/2008/03/30/new-beginning-new-challenge-new/
            Barangkali, sudah waktunya aku berhenti menulis surat untukmu. Surat yang selalu aku tulis bilamana aku merindukanmu dan tak tahu kemana harus mencarimu. Ayah, lihatlah dandelion ini merangkul putrimu yang malang. Dandelion kesukaan kita menari monoton di hadapanku, karena ia tahu kau tak lagi ada di sisiku. Ayah, kau tak tahu bukan? Sejak hari itu, aku kehilangan semua impianku. Semuanya menjadi puzzle yang berserakan. Ayah, anakmu sudah menjadi seorang gadis remaja. Seorang gadis yang telah kehilangan banyak kebahagiaannya, tidak seceria masa kecilnya yang dulu. Seorang gadis yang di setiap senja harinya menanti seseorang agar segera tiba dan memeluknya. Seperti dulu. 
            Seingatku, sudah sepuluh tahun berlalu. Waktu itu usiaku tujuh tahun.
          “Ayah…!” Aku berlari dan menghambur kepelukan Ayah. Ini adalah kebiasaanku, menunggu Ayah pulang bekerja lalu kami akan pergi ke sebuah padang ilalang di sudut kota Jakarta. Letaknya tidak jauh dari rumah. Biasanya, kami pergi hanya dengan berjalan kaki. 
            “Ayah tahu nggak?” kataku sambil menggandeng tangan Ayah. 
            “Apa?” 
            “Zea sayang Ayah,” aku menghentikan langkah dan menengadahkan kepala menatap Ayah. 
        Ayah hanya tersenyum tipis, menatapku sejenak sambil membelai rambutku. Lalu kami melanjutkan langkah. Tak pernah terbayangkan olehku, bahwa hari itu adalah hari terakhirku menatap mata sayu Ayah yang penuh kasih. 
            Ayah sangat meyukai dandelion. Bunga liar yang biasa tumbuh di antara ilalang. Tapi terkadang aku juga menemukannya di tepi jalan. Ayahlah yang memperkenalkan bunga putih itu padaku, lalu aku pun ikut menyukainya. Ada kesenangan tersendiri ketika aku meniup dandelion-dandelion itu dan menari-nari bersama mereka yang berterbangan. 
           “Zea, sini duduk di sebelah Ayah,” Ayah memanggilku. Tangan kirinya menepuk-nepuk bangku panjang yang sedang didudukinya. 
            “Yah, dari tadi Zea perhatiin Ayah gelisah aja. Ayah kenapa?” 
            “Nggak apa-apa kok, Sayang. Ayah cuma lagi capek aja,” Ayah merangkulku erat. 
          “Ayah kok nggak bilang dari tadi sih? Kan kita nggak usah ke sini kalau Ayah capek,” aku merengut manja seraya melipat kedua tangan di dada. 
          “Yakin nggak apa-apa? Kata Kak Gwen tiap hari kamu selalu nungguin Ayah pulang kerja. Iya kan?” Ayah tertawa mengolokku. Aduh, kakak perempuanku itu. 
           “Aduh Yah, Kak Gwen kan emang suka melebih-lebihkan keadaan. Emang kebetulan aja aku lagi main di teras waktu Ayah pulang.” 
            “Kak Figon juga bilang,” Ayah tersenyum-senyum melihat ekspresiku yang manyun. 
            “Ih, mereka berdua emang nggak asyik. Masa ngomongin aku diam-diam ke Ayah,” umpatku pelan. 
            Husshh, itu tandanya mereka berdua sayang sama adek bungsu mereka.” 
            “Ibu sama Ayah sama aja, Kak Figon sama Kak Gwen melulu yang di belain.” 
          Aku pasang tampang pura-pura cemberut. Sebenarnya aku tahu, kalau Ayah dan Ibu lebih memanjakanku daripada dua kakakku yang lain. Mereka memang sering menjahiliku, tetapi bukan berarti mereka membenciku. Mereka sangat menyayangiku. Ya, aku tahu kalau mereka berdua benar-benar sangat menyayangiku. 
            “Ayah, di kehidupan yang akan datang mau jadi apa?” 
            “Dandelion. Karena bisa terbang bebas tanpa ada pilihan. Kamu memangnya mau jadi apa?” 
            “Dandelion juga. Biar bisa sama-sama Ayah terus.” 
            “Ada saatnya kita berpisah,” Ayah mengusap rambutku lembut. 
            “Tapi, Zea pengen seumur hidup sama Ayah terus.” 
            “Seumur hidup adalah waktu yang sangat lama, Sayang.” 
            Senja menyela percakapan kami. Seperti biasa, kamipun beranjak pulang. Ayah memaksaku untuk naik ke punggungnya. Awalnya aku menolak. Tapi karena ayah memaksa, akhirnya aku naik juga. Di perjalanan kami bernyanyi bersama. Rasanya perjalanan pulang hari ini terasa lebih lama dari biasanya. Sebelum kami benar-benar keluar dari padang ilalang itu, Ayah berhenti lama sekali dan menoleh ke belakang. Kemudian, Ayah mengambil beberapa dandelion yang masih melekat pada batangnya dan digenggamnya erat. Saat itu, aku hanya diam dan tidak bertanya apa-apa. 
          Besoknya, seperti biasa aku menunggu Ayah. Tapi, sosok jangkung itu tak kunjung datang. Hingga akhirnya aku pun menyerah. Lalu, dimulailah mimpi burukku.
“Besok nggak usah nunggu Ayah lagi,” Kak Figon mencengkram kedua bahuku.
“Kenapa?” Aku mulai menangis. Takut melihat Kak Figon yang tidak seperti biasanya.
“Dia nggak akan datang lagi buat kita. Nggak akan pernah,” Kak Figon berteriak marah. 
“Figon!Kak Gwen mendorong Kak Figon kemudian memelukku erat. Erat sekali.
Kak Figon kemudian pergi entah kemana. Kak Gwen menangis dan aku pun ikut menangis bersamanya. Aku menangis tanpa kendali. Membayangkan wajah Ayah, belaian Ayah, senyum Ayah, serta suaranya. Bagaimana kalau Kak Figon benar? Berarti aku tidak akan pernah melihat Ayah lagi. Lalu bagaimana dengan janji Ayah yang akan membawaku melihat dandelion setiap hari?
Seminggu kemudian, aku, Ibu, Kak Gwen, dan Kak Figon pergi meninggalkan kota Jakarta. Kata Kak Gwen, ke kampung halaman Ibu. Memang tidak sebesar Jakarta, tetapi di sanalah kami akan menemukan kedamaian yang utuh. Tentu saja tanpa Ayah. Seminggu sebelum kami pergi, Ayah memang tak pernah datang. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang aku tahu, dalam shalat malamnya, Ibu menangis dalam diam. Aku tidak akan bertanya besok. Suatu hari pasti akan kutanyakan. Mungkin belum saatnya aku tahu.
Di sekolahku yang baru, aku berhasil menjadi juara kelas. Tapi aku benar-benar tidak berbahagia. Ayah tidak di sini melihatku. Sejak hari itu aku selalu menulis surat untuk Ayah dan kualamatkan pada rumah kami yang lama. Banyak sekali surat yang aku kirim. Namun, sebanyak itu juga tak ada balasan. Hanya itu satu-satunya yang bisa kulakukan untuk mengobati rindu yang selalu hadir. Pria yang selalu kupuja-puja dan kujadikan idola, membiarkanku tertinggal tanpa ada sepatahpun kata perpisahan. Meninggalkanku dalam rasa penasaran dan dilema.
Aku kembali mengingat percakapanku dengan Ayah sehari sebelum senja terakhir kami waktu itu. Setiap semester, yang datang ke sekolah dan mengambil raporku adalah Ayah. Dan percakapan kami waktu itu seolah menyiratkan pesan bahwa dia takkan pernah datang ke sekolah dan melakukan hal yang selalu dia lakukan ketika musim penerimaan rapor tiba.
“Nggak kerasa, anak Ayah udah gedhe, ya?” Ayah mengusap kepalaku lembut.
“Iya dong, Yah. Masa Zea kecil terus,” aku bergelayut manja ke lengan Ayah.
“Semester depan nggak perlu Ayah lagi dong yang jemput rapornya. Kan, udah gedhe.”
“Ih nggak mau! Harus Ayah yang jemput. Pokoknya sampai aku sekolahnya kayak Kak Figon sama Kak Gwen, harus tetep Ayah yang jemput.”
Saat itu Ayah tak mengiyakan. Hanya tersenyum kemudian menggelitikku sampai aku berteriak-teriak minta ampun. Tanpa aku sadari, yang diucapkan Ayah hari itu adalah benar adanya. Semester-semester selanjutnya, tak ada lagi Ayah yang akan datang dan mengambil raporku. Aku harus terbiasa.
Aku tidak akan menceritakan semua hari-hari yang aku lalui tanpamu. Aku tidak ingin kau tahu kalau aku sering menangis dan merasa tersiksa. Ayah, apa yang sedang kau lakukan saat ini? Apakah kau masih mengingatku? Mengingat kami? Ayah, kata Kak Gwen waktu itu Ayah pergi dengan keluarga baru Ayah. Apakah itu benar, Yah? Ayah, apa kau tidak merindukanku? Ayah, mungkin sudah saatnya aku berhenti menunggumu. Mungkin sudah tiba masanya aku menulis kisahku sendiri. Terlepas dari semua bayangan dan kenangan bersamamu. Ayah tidak perlu cemas. Aku akan baik-baik saja tanpamu. Dan kudoakan semoga hari-harimu selalu bahagia. 
Dandelion, dalam sepi hati, aku memohon padamu. Terbang! Terbanglah sejauh mungkin! Kutitip pesan rindu terakhirku untuk Ayah.

CERPEN: Dandelion dalam Rindu Reviewed by Retno Purwa on 06.45.00 Rating: 5 Oleh: Sahila Daniara Sumber: https://ngohuyanh.wordpress. com/2008/03/30/new-beginning- new-challenge-new/             Barangka...

Tidak ada komentar: