TANYA PENULIS: WINNA EFENDI - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Senin, 28 November 2016

TANYA PENULIS: WINNA EFENDI






Winna Efendi, penulis yang tengah naik daun ini mengaku mulai menulis sejak kecil. Winna tercatat aktif di dunia kepenulisan sejak tahun 2007, saat bergabung dengan komunitas Kemudian.com. Di sana, Winna mulai berbagi cerita pendek dan akhirnya menyelesaikan naskah novel pertamanya: Kenangan Abu-Abu, yang diterbitkan dengan judul Remember When.
         Menurut Winna, begitu banyak pengalaman dan pahit manis yang ia dapatkan sejak awal menulis dan juga setelah buku-bukunya terbit. “Ada kritik saran dan berbagai aspek lain yang membuat saya belajar banyak. Misalnya, awalnya saya sembarang mengirimkan naskah yang sudah selesai tanpa dilirik lagi. Sekarang saya menyadari pentingnya self-editing untuk naskah sendiri, yakni memaksimalkan potensi naskah sebelum dikirimkan ke penerbit,” tuturnya
           Hampir semua penulis mengalami situasi yang dinamakan writer’s block. Pun Winna mengaku pernah mengalami kondisi yang sama.Saat mengalami writer’s block, biasanya saya kembali mendalami riset dan brainstorming ide. Lewat eksplorasi setting, karakter, atau plot, biasanya ide-ide baru bisa muncul. Jika masih belum ada ide, saya akan mengambil break sementara, lalu melanjutkan naskah kembali.”
Winna juga menyatakan bahwa ia jarang sekali bisa menemukan ide yang benar-benar orisinil. Maka,  triknya adalah mendaur ulang ide dengan menambahkan bumbu-bumbu yang unik dari segi karakter atau plot twist atau setting, misalnya, dan menjauhkannya dari kesan klise yang sudah terlalu sering dipakai. Selain itu, Winna percaya pada konsep ‘writing from the heart’. Ia menambahkan, “Perasaan itu yang akhirnya tersampaikan kepada pembaca, dan membuat pembaca bisa relate dengan cerita yang kita tulis.”
Sebuah naskah yang baik, dari kacamata Winna, adalah naskah yang memiliki keseimbangan elemen. Baik dari karakter yang menarik dan tak membosankan, dialog yang wajar dan realistis, setting yang tidak berlebihan juga tidak datar, alur yang pas, juga konflik dan plot yang padat. Menulis adalah proses. “Tahap pertama bagi saya adalah mengeset target yang realistis, misal 3-6 bulan untuk satu naskah. Meski demikian, target adalah sesuatu yang subjektif dan berbeda bagi setiap penulis,” ungkap Winna. 
Bagi Winna sendiri, hambatan terbesarnya ketika menulis adalah mengenai waktu yang kini amat terbatas seiring dengan kesibukannya sebagai seorang ibu. Winna mencoba mengatasi kendala waktu dengan mengeset target menulis yang realistis dan menulis setiap kali memiliki kesempatan.
“Ketika proyek menulis baru dimulai, saya berupaya untuk menulis setiap hari sampai naskah selesai. Satu-satunya cara yang saya pakai adalah dengan menerapkan kedisiplinan dan memenuhi tekad untuk menyelesaikannya. Dengan mempertahankan kedisiplinan menulis, pada akhirnya naskah akan rampung.” 
Ia menambahkan, “Prosedur penerbitan berbeda untuk setiap penerbit, maka ada baiknya kita melakukan riset terlebih dahulu dengan menghubungi redaksi atau mengecek syarat dari mereka di website penerbit. Biasanya karya perlu di-print dalam kertas A4 dengan font Times New Roman 12 spasi 1, lalu sertakan sinopsis singkat mengenai cerita dan kirimkan dalam amplop tertutup ke Bagian Fiksi di alamat penerbit. Kita bisa menunggu sekitar 6 bulan untuk mendapatkan respons dari penerbit.” Hmm, barangkali bisa dicoba untuk para penulis muda yang kadang bingung bagaimana mengirimkan naskahnya ke penerbit.
Winna berpesan agar para penulis pemula yang sedang dalam tahap belajar tetap menulis dan tidak mudah menyerah. “Terus gali kemampuan menulis lewat berlatih; dengan banyak menulis, kita dapat menemukan style dan ciri khas tersendiri yang membedakan kita dari penulis lain. Selain itu, perbanyak membaca, karena darinya kita bisa mempelajari ciri khas penulis lain dan mengenali trend, juga apa yang membuat sebuah karya sukses dan disukai pembaca. Mengutip quotes dari Arthur Miller, ‘Everything we are is at every moment alive in us’. 
Setiap tulisan Winna terinspirasi dari keseharian yang ada. “Saya senang menulis berdasarkan sesuatu yang riil yang sering dialami pada kehidupan nyata, namun bukan dari kisah pribadi.” Ketika ditanya soal novel yang paling ia sukai dari sekian banyak novel yang telah ia terbitkan, begini jawaban Winna: “Masing-masing memiliki kesan tersendiri saat menulis, tapi saya sangat menyukai kejujuran dalam naskah Unforgettable serta Melbourne: Rewind yang terasa dekat di hati.”
Sekedar info bagi para pembaca, Winna Efendi baru saja menyelesaikan sebuah naskah yang saat ini sedang dibaca oleh editor. “Naskah saya yang sebelumnya sedang dalam tahap pembuatan cover dan akan terbit di bulan Januari 2017.” Yeey!!! Selamat menunggu karya terbaru Winna! :)
TANYA PENULIS: WINNA EFENDI Reviewed by Retno Purwa on 21.51.00 Rating: 5 Winna Efendi , penulis yang tengah naik daun ini mengaku mulai menulis sejak kecil. Winna tercatat aktif di dunia kepenulisan seja...

Tidak ada komentar: