LUBANG DI DADA IBU - RUMAHKAYU INDONESIA
Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 04 Desember 2016

LUBANG DI DADA IBU

     oleh Fitria Osnela
sumber gambar: rypos.blogspot.co.id
              Lubang di dada Ibu semakin besar dan dalam.
            Keira melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana daging pada dada Ibu berubah menjadi lunak lalu meluruh. Menyisakan sebuah lubang. Dan ada mata air di dalam lubang itu. Keira ingin selalu melihat kedalaman lubang dada Ibu. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa hidup dengan dada yang berlubang?
            Tapi, Ibu sudah hidup dengan dada yang berlubang sejak Dua tahun lalu. Sejak itu, Ibu menjadi Ibu yang disukai oleh Keira. Ibu menjadi sering di rumah dan menghabiskan banyak waktu bersamanya. Ibu bilang, ia tak pernah suka dengan dada berlubang miliknya. Tapi bagi Keira itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Berkali-kali Keira mengatakan bahwa tidak masalah baginya jika dada Ibu berlubang. Ia sungguh sangat menyukai dada Ibu yang sekarang. Sebab dengan dada Ibu yang seperti itu, Keira menjadi lebih dekat dengan Ibu.
            Ibu selalu berusaha agar mata air di dadanya itu berhenti mengalir. Berbagai macam cara ia lakukan. Beragam kapsul dan pil telah ia telan. Tapi air itu terus mengalir. Tak pernah berhenti. Daging di dada Ibu terus luruh. Suatu ketika Keira mendapati Ibu menangis diam-diam. Lalu semakin sering. Dan Keira berpikir, mungkin sebaiknya dada Ibu tak pernah berlubang. Ia mengutuk dirinya karena telah menyukai mata air di dada Ibu. Ia ingin Ibu berhenti menangis.
            “Apakah itu sakit?”  untuk kesekian kalinya Keira bertanya.
            “Tidak sesakit jika Ayahmu di sini dan melihat ini semua,  Keira.”
            “Kenapa?”
“Suatu hari nanti kau akan mengerti tanpa perlu bertanya kenapa.”
            Tiga tahun yang lalu, ia pernah bertanya hal serupa. Dan  ia menatap mata Ibu dalam-dalam mencari  kegetiran, rasa takut, penyesalan atau apapun di mata Ibu yang akan menjadi alasan bagi Keira merubah keputusan ibu untuk tidak menceraikan ayah. Tapi, keputusan Ibu tidak bisa lagi di cegah. Meski Keira mogok makan dan enggan melakukan aktivitas apapun selama 3 hari, tetap saja Ibu tidak merubah keputusannya.  Ayah dan Ibu bercerai. Kemudian Keira melihat Ibu menjadi semakin sibuk dan jarang ia temui di rumah. Bahkan hingga akhir pekan. Sementara Ayah, tidak pernah lagi muncul. Dan Keira benar-benar merasa frustasi. Hingga kemudian, ia mendapati Ibu kembali ke rumah dan berubah menjadi Ibu yang ia suka.
            “Inikah maksudmu?”
            Ibu tersenyum.
            Keira memeluk Ibu. Airmatanya jatuh. Ia kemudian tahu, alasan apa yang membuat Ibu memilih untuk menceraikan Ayah. Lubang di dada Ibu adalah jawabannya. Keira tidak habis mengerti bagaimana bisa ada orang yang menyembunyikan rasa sakitnya dengan sangat kejam dari seseorang yang ia cintai. Tapi Ibu begitu.
            “Suatu hari nanti kau akan mengerti bahwa kau tidak akan pernah merasa bahagia jika seseorang yang kau cintai merasa sakit dan terbebani olehmu.”
            Keira semakin erat memeluk Ibu. Tapi Ibu melepaskan pelukan Keira. Mungkin pelukan Keira mengenai bagian dada Ibu yang sakit.
            “Untuk kesekian kalinya, bolehkah aku melihat dadamu lagi Bu?”
            Ibu mengangguk. Keira memekik tertahan. Sebelah Payudara Ibu sudah tidak ada lagi. Berganti dengan sebuah lubang yang menganga.  Keira tersadar dari imajinasi konyolnya selama ini. Imajinasi yang tidak lebih dari ketidak inginannya untuk mempercayai kenyataan, bahwa lubang dan mata air di dada Ibu sesungguhnya adalah penyakit yang akan membunuh Ibu secara perlahan dan pasti.
            “Keira, kematian bukanlah sesuatu yang perlu untuk ditangisi. Tapi menangislah jika kau tak sekalipun mengingat kematian yang mungkin tiba-tiba menghampirimu.”
            Keira tersedu. Ia ingin daging di dada Ibu kembali tumbuh. Ia ingin mata air di dada Ibu  berhenti mengalir.
Bisakah kau berbagi rasa sakit itu denganku, Bu?”
“Tidak. Ibu tak perlu berbagi denganmu, Keira.”
Keira begitu sakit melihat penderitaan yang Ibu rasakan. Disaat seperti ini, Keira ingin  Ayah tahu penderitaan macam apa yang tengah diderita Ibu.
***
Keira terbangun. Semalaman ia menangis di samping Ibu dan tertidur.  Hari masih terlalu pagi. Ia enggan membangunkan Ibu. Ia kemudian memeluk Ibu dengan diam yang dalam. Ibu tetap terlelap. Keira tak kunjung ingin membangunkan Ibu.  Ia ingin memeluk Ibu lebih lama lagi. Tapi, ia yakin satu daun di Lauh Mahfuz telah gugur pagi itu.  Airmatanya jatuh ke tenggorokan. Deras yang asin. (Rumah, 27/11.2016)
           



           


           
           
           
           
           
LUBANG DI DADA IBU Reviewed by fitria osnela on 06.32.00 Rating: 5      oleh Fitria Osnela sumber gambar: rypos.blogspot.co.id               Lubang di dada Ibu semakin besar dan dalam.           ...

Tidak ada komentar: