Fenomena Benny Arnas: Antara Produktivitas dan Kreativitas - RUMAHKAYU INDONESIA

728x90 AdSpace

Trending
Diberdayakan oleh Blogger.
Sabtu, 07 Januari 2017

Fenomena Benny Arnas: Antara Produktivitas dan Kreativitas

Oleh: Khrisna Pabichara
TIDAK banyak pengarang yang sanggup menganggit cerpen setiap minggu. Dan, Benny Arnas adalah pengeculian dari ketidaklaziman itu. Ia seolah dilahirkan untuk menjadi sebuah fenomena. Betapa tidak, setiap minggu cerpen yang didaras Benny termuat di pelbagai media. Tentu saja, untuk melakukan hal itu dibutuhkan stamina dan kedigdayaan ide sebagai kerangka dasar pendedahan cerita. Selain itu, kualitas adalah masalah pelik yang harus dicermati. Setiap pengarang—termasuk Benny—pasti mengharapkan tingkat keterbacaan yang tinggi atas karyanya. Dan, hal itu hanya bisa terpenuhi jika kualitas intrinsik dan ekstrinsik selalu terjaga secara berkesinambungan.
Setiap sastrawan dalam proses penciptaan karyanya tidak semata-mata meniru kenyataan, tetapi sekaligus menciptakan sebuah “dunia baru” dengan kekuatan daya kreatifnya. Karena itu, Aristoteles memandang dunia rekaan sastrawan itu sebagai sesuatu yang tinggi dan filosofis, bahkan menempati “maqam” yang melampaui karya sejarah (Luxemburg dkk, 1992). Artinya, potensi besar yang membedakan sastrawan dengan manusia lainnya adalah kuasa imajinasinya untuk membangun “dunia beradab”.
Ada lima cerpen yang saya telisik guna mengait-pautkan antara produktivitas Benny dan kualitas karangannya sebagai sebuah fenomena. Pada satu sisi, saya menafsirkan, pengarang kelahiran Lubuklinggau ini menggolongkan diri dalam puak yang mengedepankan kenyataan sebagai sebuah keberlimpahan gagasan. Pada sisi lainnya, Benny seolah mereka-ulang (reconstitutions) realitas yang menyehari di sekitarnya, dan berupaya keras menyingkap dan membentuk-ulang (re-establish) tradisi keintiman antar masyarakat yang mulai tergerus modernitas.
Cerpen pertama, Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta (Suara Merdeka, 27 September 2009), pengarang berkisah tentang perjuangan seorang gadis melawan pamali. Akibat keterbatasan ekonomi, Siti, seorang yatim-piatu, harus mengayuh sepeda—di Lubuklinggau disebut kereta unta—setiap hari sejarak enam kilometer. Hingga tiba masa Siti dilamar Romli, pemuda idaman banyak perawan. Sungguh, di sana bermula segala bencana. Romli yang pernah kuliah di luar negeri tidak bisa menerima kenyataan bahwa Siti telah kehilangan kegadisannya. Padahal, bukan karena lelaku binal, melainkan karena pengaruh menunggang unta besi di masa lalu. Begitulah, Benny meracik cerita ini dengan apik. 

Tuhan Maja (Republika, 08 November 2009). Ketaklaziman menjadi ramuan baru dalam cerpen ini. Bayangkan, ada seorang dukun tiba-tiba beroleh karomah dan diangkat menjadi Kiai, menggantikan Wak Guntur sebagai imam masjid dan guru ngaji. Kemudian bermula segala keganjilan; salat yang tak wajib setiap hari, kerudung budaya impor dari Arab, dan rupa-rupa ajaran gazal lainnya. Lena, seorang tamatan Aliyah, tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kakaknya pun, Tanjung, tak kuasa melawan tuah “dukun-kiai” itu. Alih-alih menyadarkan warga, Tanjung malah dicap anak durhaka oleh ibunya.
Dalam Hari Matinya Ketib Isa (Koran Tempo, 18 Oktober 2009), pengarang memotret wajah perempuan gemar bergunjing, rajin mencaci, dan piawai berseteru, ketika menunggu jasad suaminya, Ketib Isa, dimandikan dan disalatkan oleh para pelayat. Alkisah, belum lagi hajat pengurusan mayit itu ditunaikan, perempuan itu telah membuat gempar manakala Komar dan Zul, dua anaknya, datang melayat. Segera saja meruah sumpah-serapah dari mulut bacinnya. Berlagak tak peduli, Komar dan Zul malah beranjak pergi setelah mengeruk isi bokor di dekat kaki mayit. Cerita pun tidak bersudah di situ. Mak Zahar, perempuan penggunjing itu, dengan lugas memasang badan menghalangi niat kabur kedua anaknya. Lalu, hal di luar dugaan pun terjadi. Komar dan Zul dengan kalap menikam ibunya hingga meregang nyawa. Begitulah, di hari kematian Ketib Isa, dua mayit menunggu dimandikan.
Lain lagi kisah tokoh Mak Atut yang didaras Benny dalam cerpen berjudul amat panjang, Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan (Jawa Pos, 15 November 2009). Seperti lazimnya cerpen Benny yang khas, Mak Atut pun diuarkan sebagai tokoh yang ulet dan tangguh melawan telikung nasib. Kematian suaminya, Wak Jasim, tak lantas menyeretnya ke lembah duka yang dalam, malah dengan tegar ia memilih mengantar sendiri getah karet hasil sadapannya ke kota kecamatan. Sepanjang 16 kilometer jarak yang harus ditempuh Mak Atut dengan “kereta unta”-nya, demi menukar para dengan beberapa lembar rupiah. Dendam Tukang Dacing, orang yang jadi asal-muasal kematian suaminya, ternyata tak bersudah. Tetapi Mak Atut tak menyerah, ia melawan sekuat tenaga, hingga akhirnya Tukang Dacing terpaksa mengalah.
Kreativitas Benny seolah tak mengenal kata bersudah. Pada Sebelas Potong Cerita Neknang (Republika, 22 November 2009), Benny menyayat perasaan kita lewat sosok veteran yang begitu berhasrat naik haji—namun tidak memiliki kuasa material untuk memenuhi hajatnya—dan hanya menunggu program “haji gratis” yang diselenggarakan pemerintah sebagai bentuk penghargaan atas kejuangan para veteran. Tetapi Neknang, demikian nama veteran itu, tak kunjung bersua rezeki idamannya. Setiap pengumuman di koran, belum juga namanya tercantum sebagai “calon jemaah haji gratis”. Cerita yang berdasar “kisah nyata” (based on true-story) ini dikarang dengan penuh pikat.
Benny menawarkan “dunia imajinatif” yang didaraskan lewat cerpen-cerpennya. Ia mendedahkan nuansa lokalitas ke dalam setiap cerpen yang dianggitnya. Bermula dari kegelisahan, seperti petuah Aristoteles, Benny menghunjamkan rupa-rupa tanya perihal ketergeseran—atau malah kehilangan—nilai-nilai kearifan lokal dan moralitas dalam masyarakat modern. Begitulah. Benny bertandang ke “rumah baca” kita dengan menawarkan langgam penceritaan yang khas dan keterampilan estetik yang penuh pukau. Produktivitas berlimpah bukan halangan baginya untuk mengawal kontinuitas kualitas kepengarangan.
Satu cerpen setiap minggu, bahkan lebih, bukanlah hal musykil. Tentu saja, selama mutu terjaga, itu absah saja.
Jakarta, 02/12/2009
KHRISNA PABICHARA, kelahiran Makassar, 10 November 1975, adalah penyuka sastra yang tinggal di pinggiran Jakarta. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata) dan Komunitas Mata Aksara. Tulisan-tulisannya dimuat Jawa Pos, Republika, Media Indonesia, Jurnal Bogor, Padang Ekspres, Riau Pos, Sumatra Ekspres, Global, Batam Pos, Analisa, Pedoman Rakyat, Berita Pagi, Suara Karya, dan media lainnya.
NB: Benny Arnas sendiri merupakan anggota Forum Lingkar Pena, Ketua FLP Cabang Lubuklinggau 2008-2010

https://flpsumut.wordpress.com/2010/06/23/fenomena-benny-arnas-antara-produktivitas-dan-kreativitas/
Fenomena Benny Arnas: Antara Produktivitas dan Kreativitas Reviewed by Rumahkayu Indonesia on 17.39.00 Rating: 5 Oleh: Khrisna Pabichara T IDAK banyak pengarang yang sanggup menganggit cerpen setiap minggu. Dan, Benny Arnas adalah pengeculian dari ke...

Tidak ada komentar: